sofwan weblog-multiply edition

Jurnal

Posted by by: on Jun 25, '08 10:04 PM for everyone
Coba deh klik link ini: Account Premium Multiply
Nah, di sana akan terlihat ads seperti berikut ini:


Just $19.95 a year buys you:
  • Ad-free browsing and sharing
  • Unlimited secure storage space
  • Full resolution photos and videos stored forever
  • Higher video upload limits (200 MB or 20 minutes)
Jika di antara teman-teman ada yang sudah mencoba ini? Kalo sudah, sharing dong. Thanks




Posted by by: on Jun 25, '08 9:58 PM for everyone
Ini berita saya kutip habis dari detikinet
Boleh langsung meluncur ke link di atas, atau cukup membaca di sini:




Siapa tak senang tinggal di kota hijau nan nyaman? Demi mewujudkan impian itulah, kota Bangkok, Thailand, berniat memaksimalkan fasilitas akses internet nirkabel alias Wi-Fi (Wireless Fidelity) bagi warganya.

Dengan berleha-leha di dunia maya, penduduk diharap bisa terkoneksi dengan orang tersayang atau mencari informasi tanpa harus melakukan perjalanan boros biaya pun menebar polusi di seantero kota. Maka di samping udara kota Bangkok makin segar dan lingkungan makin menghijau, konsumsi energi pun bisa dihemat.

Selain itu, menurut Gubernur Bangkok Apirak Kosayodhin, masyarakat juga diharapkan makin memperkaya pengetahuan dengan mengakses internet dalam kampanye bertajuk 'Green Bangkok Wi-Fi' itu.

Aksi nyata pun segera dilakukan. Pemerintah di ibu kota Thailand itu bekerja sama dengan perusahaan True Corporation menawarkan 500.000 kartu Wi-Fi gratis bagi penduduk Bangkok.

Menurut Thiti Nantapatsiri selaku managing director True, perusahaannya terus menggeber fasilitas Wi-Fi di Bangkok. Sejauh ini menurutnya, area di Bangkok yang mendapat fasilitas Wi-Fi sudah seluas 400 km persegi. Demikian seperti dikutip detikINET dari Bangkok Post, Kamis (26/6/2008).

Posted by by: on Jun 2, '08 10:26 PM for everyone

Tidak terasa hampir sebulan absen nge-MP, atau jangan-jangan lebih. Yo wess, yang penting hari ini posting. Hahahahahaha....

Tapi ini bukan asli tulisanku. Hanya saja, karena temanya bagus siapa tau berguna dan bermanfaat untuk anda-anda semua. Ini tentang uang plastik = kartu kredit. Tadinya, saya selalu menasehati adik-adik di rumah untuk tidak bergantung pada pesona gesekan kartu kredit, lha ternyata sekarang saya malah ikut-ikutan nggesek.

Ah, tapi ternyata jika disikapi dengan bijak, budaya nggesek kartu kredit tidak berbahaya, kok. Justru sangat membantu kita dalam banyak hal. So...selamat membaca:



Bijak Kelola Uang Plastik

Meski cuma sepotong plastik, kartu kredit bisa membuat hidup lebih nyaman, asal dikelola secara betul. Kalau tidak, kenyamanan itu bisa berbalik jadi beban karena harus menanggung berbagai biaya yang tak perlu. Tulisan berikut menawarkan sikap dan perilaku arif yang idealnya dilakukan pemegang kartu kredit.

Kartu kredit sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagian orang yang hidup di perkotaan. Jangan heran kalau melirik isi dompet mereka, tersembul bahkan tak hanya satu tapi sederet kartu kredit. Semakin banyak, semakin bangga. "Itu artinya, kita dipercaya bank," begitu kilah mereka kalau ditanya alasan memiliki sederet kartu. Padahal, kartu plastik itu tak lebih dari alat untuk menggampangkan orang mengutang atau mengkredit dalam jumlah maksimal yang ditentukan.

Pertumbuhan jumlah pemegang kartu kredit tadi memang tak terlepas dari kemudahan dan iming-iming menggiurkan yang ditawarkan penerbit, serta semakin banyaknya merchant (pedagang barang dan jasa) yang mau menerima pembayaran dengan kartu kredit. Di samping kepraktisan yang melekat; pemegang kartu tak perlu menjejali dompetnya dengan uang kontan. Dompet cukup diisi uang "pecahan" secukupnya untuk keperluan yang tidak bisa dibayar dengan kartu kredit.


Maksimal dua lembar

Sayangnya, era kartu kredit ini belum dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia penerbit kartu kredit. Juga belum adanya perangkat hukum yang secara eksplisit dan khusus mengatur kartu kredit. Pengetahuan si pemegang kartu (card holder) tentang seluk beluk pemakaiannya pun rata-rata sangat minim. Dalam situasi begini, tak jarang pemegang kartu berada dalam posisi lemah.

Supaya tak terjerumus dalam masalah yang berkaitan dengan penggunaan kartu magnetik tadi, sikap positif pemegang kartu sangat diperlukan, terutama dalam hal mengendalikan diri dan disiplin. Di dalamnya termasuk ihwal pemilikan kartu, perilaku belanja dengan kartu kredit, pembayaran tagihan, dan banyak hal lagi. Hidup akan lebih mudah bila kita tertib menggunakan kartu kredit. Begitu tidak tertib, hidup akan sangat sulit, sama seperti orang-orang di daerah yang kena rentenir.

Mengisi dompet dengan sederet kartu kredit, pada kebanyakan orang, bukanlah tindakan arif. Agus menyarankan agar pemilikan kartu utang ini tidak lebih dari dua lembar.Dari pengalaman dan pengamatan terhadap pemegang kartu, Agus melihat masalah yang melilit para pemegang kartu umumnya dialami mereka yang memiliki kartu lebih dari dua lembar.

Fungsi kartu kredit sebenarnya untuk memudahkan pemiliknya berbelanja. Di saat transaksi dia bisa membayar secara kredit. Artinya, tidak membayar secara tunai, karena transaksi dijamin penerbit kartu. Jadi bukan (kelak) membayarnya dengan cara dicicil. Karena sifatnya hanya memudahkan hidup itulah, pemilikan kartu kredit cukup satu, atau maksimal dua lembar. "Dengan satu kartu saja kita sudah punya plafon kredit beberapa juta. Toh tidak semua pengeluaran bisa dibayar dengan kartu kredit." Kalau mobilitas si pemegang kartu tinggi, bolehlah memiliki dua kartu.


Bukan tambahan 

Untuk mencegah supaya kepala tidak "pecah", sebaiknya diusahakan agar total pembayaran belanja dengan kartu kredit per bulannya tidak melebihi 30% dari total pendapatan. Dengan penghasilan Rp 1 juta umpamanya, belanja dengan kartu maksimal Rp 300.000,-. Dengan begitu, masih ada ruang lega untuk bernapas guna menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan, biaya sekolah anak, transpor, bayar cicilan rumah, telepon, listrik, pembantu, dan keperluan rumah tangga lainnya.

Sayangnya,banyak pemegang kartu menganggap, kartu kredit sebagai tambahan penghasilan. Padahal kartu kredit itu bagian dari pendapatan. Seseorang berpenghasilan Rp 3 juta sebulan dan berbelanja dengan kartu kredit senilai Rp 600.000,- per bulan, sering menganggap pendapatannya menjadi Rp 3,6 juta. Padahal income dia sebenarnya tetap Rp 3 juta, sedangkan Rp 600.000,- yang dibelanjakan dengan kartu itu tak lain bagian dari penghasilan yang Rp 3 juta itu.

Yang juga perlu diketahui, pemegang kartu boleh menolak biaya tambahan atas harga produk yang dibeli. Yang mengenakan biaya tambahan (antara 2 - 4%) biasanya biro perjalanan, toko emas, elektronik, dan suku cadang kendaraan bermotor.

Sebenarnya dalam perjanjian antara penerbit kartu dan merchant disebutkan, pihak merchant tidak boleh menaikkan harga. Sebab, merchant akan mendapat ongkos untuk transaksi dengan kartu kredit.

Di AS, pengenaan biaya tambahan sudah tergolong tindak kriminal. "Di Indonesia tidak bisa seperti itu karena regulasinya belum ada," tandas Agus. Kalaupun penjual tetap meminta tambahan biaya, dianjurkan untuk membayarnya secara tunai. Atau, pemegang kartu meminta penjual memberikan slip terpisah untuk biaya tambahan. Dengan bukti itu, biaya tambahan bisa diklaim ke penerbit kartu untuk mendapatkan ganti.

Oh ya, hendaknya hati-hati berbelanja pakai kartu kredit lewat Internet. "Itu berbahaya karena nomornya bisa diakses meskipun sudah di-protect atau security-nya ketat. Di dunia ini banyak sekali orang yang mengetahui konfigurasi komputer, sehingga (kecolongan) itu bisa terjadi," tuturnya. Apalagi pemalsuan kartu kredit sangat mudah terjadi di Indonesia.

Kecuali itu, jika tidak kepepet-pet, pemegang kartu tidak menarik uang tunai dari ATM dengan kartu kredit. Sebab, begitu kartu dicolokkan ke ATM untuk menarik sejumlah uang, pemegang kartu sudah menanggung biaya penarikan tunai yang mahal, berupa biaya transaksi dan biaya bunga. Besarnya biaya transaksi berbeda untuk tiap bank. Ada yang 4% dari jumlah uang yang ditarik dengan nilai minimal tertentu, umpamanya, Rp 10.000,-, untuk setiap penarikan tunai. Bunga dari penarikan tunai ini dikenakan bila sebagian atau seluruh pembayaran dilakukan melewati tanggal jatuh tempo.


Bunga bisa ditawar

Membayar lunas setiap tagihan merupakan sikap pemegang kartu yang baik. "Karena prinsip kartu kredit, kreditnya bisa hanya pada waktu transaksi, tapi tiba waktunya membayar tolong dibayar lunas. Bila tidak, kita kena bunga yang sangat tinggi. Jadi, jangan tergoda dengan kemudahan berupa pembayaran minimum yang sangat rendah.

Pembayaran tagihan kartu kredit tepat waktu juga merupakan tindakan bijak pemegang kartu. Ini menghindarkan pemegang kartu terlilit bunga tinggi. Biasanya penerbit kartu memberi masa bebas bunga (grace period), di mana pemegang kartu bisa melakukan transaksi tanpa dikenakan bunga, kepada pemegang kartu. Lamanya masa bebas bunga itu ada yang sampai 48 hari. Setelah lewat masa itu pemegang kartu mesti membayar bunga.

Di AS, tingkat bunga dan biaya iuran tahunan bisa ditawar bila di pemegang kartu mencatat konduite baik. Namun di tanah air itu sulit dilakukan lantaran belum ada credit security. Hanya saja, pemegang kartu yang diterbitkan oleh bank multinasional, masih berpeluang mendapatkan keringanan bunga. Asal saja, dalam jangka waktu tertentu ia tidak pernah ngemplang atau telat membayar tagihan. Keringanan itu hanya untuk tingkat bunga. Tapi harus minta. Keringanannya paling-paling setengah persen. Kan lumayan untuk yang ngutang. Biaya lain yang harus ditanggung pemegang kartu kredit bila terlambat membayar tagihan adalah biaya atau denda keterlambatan pembayaran. Besarnya sekitar 5% dari pembayaran minimum atau berdasarkan rentang minimum dan maksimumnya.


Posted by by: on Apr 18, '08 3:06 AM for everyone

Semestinya, jurnal ini ditulis kemaren, sehari setelah tayangan Topik Minggu Ini di SCTV bertajuk “Negeri Sensor” disiarkan. Namun, karena sempatnya baru hari ini, tak mengapalah: lebih baik terlambat daripada tak sama sekali.

Malam itu, redaksi Liputan6 SCTV menghadirkan dua narasumber pembicara: sutradara muda Riri Reza dan Menpora Adhyaksa Dault. Temanya, ah, sesuatu yang tidak “nendang” sebenarnya: goyangan Dewi Persik yang menuai cekal di beberapa kota, yakni Depok, Tangerang, dan Bandung.

Terkait dengan judul jurnal ini, Riri Reza, I dont agree with U, sebenarnya merupakan kekecewaan atas argumen sang sutradara vokal ini, yang menurut saya, mengada-ada. Memang, tidak semua argumennya pada dialog itu, tapi lebih pada beberapa poin saja.

Saya setuju dengan Riri yang bersikap bahwa negara tak perlu membatasi keran kreativitas para pekerja seni. Bung Riri, 100% absolutely saya setuju. Saya juga setuju dengan argumen Riri bahwa tradisi berkesenian di negeri ini, khususnya, yang berkaitan dengan seni tari juga dipenuhi dengan gerakan-gerakan erotis, seperti pada ronggeng, misalnya.

Namun, saya kecewa ketika mendengar beberapa argumen anda yang terkesan dipaksakan dan tidak ilmiah. Dan, sungguh, itu menurunkan rasa kagum saya kepada Riri atas jasa-jasa nya membangkitkan gairah perfilman Indonesia, dan kebebasan untuk berkreasi.

Apa saja, argumen Riri Reza, yang terkesan dipaksakan itu?

  • Riri bilang bahwa penolakan/pencekalan goyangan Dewi Persik merupakan reaksi mayoritas atas kreasi minoritas. Well, kemudian siapa yang mayoritas itu? Dari argumennya, Riri terkesan malu-malu bahwa si mayoritas itu adalah kaum religius. Riri justru lebih mengarahkan “si mayoritas” sebagai kaum lelaki, yang merasa terganggu dengan kebebasan berekspresi seorang Dewi Persik, yang notebene perempuan. Tampaknya, argumen ini berhulu pada gender para walikota pencekal, yang kebetulan laki-laki.
  • Riri juga bilang bahwa goyangan Dewi Persik tidak lari dari akar tradisi budaya berkesenian Indonesia, khususnya seni tari, yang diwarnai dengan gerakan-gerakan erotisme. “Jadi, jangan naif lah bahwa penampilan Dewi Persik tidak sesuai dengan budaya orang kita,” kata Riri. Oke, tapi, Riri lupa bahwa erotisme pada tarian-tarian tradisional itu lebih bersifat simbolik, tidak artikulatif vulgar seperti yang saya tonton pada video goyangan Dewi Persik.

So, sebagai nobody, yang hanyalah seorang blogger biasa-biasa saja–bukan sutradara kondang atau pemerhati kesenian terkemuka–saya hanya ingin sedikit urun rembug atas diskusi Riri dan Menpora.

Saya hanya ingin mengajukan sebuah instrumen alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia untuk mengukur: pantaskah eksperimental performa koreografi Dewi Persik, yang menuai pencekalan itu? Instrumen itu bernama hati nurani. Tak perlu kita kemukakan dalil-dalil spiritual, yang biasanya memunculkan multitafsir.

Mas Riri, coba deh tanya hati nurani anda: pantaskah Dewi Persik bergoyang seperti itu di panggung lapangan terbuka?

Hati nurani saya mengatakan tidak pantas. Tapi, oke-oke saja jika Dewi Persik melakukan itu di klub-klub atau pada pertunjukan khusus dengan segmen penonton yang khusus pula. Monggo saja.

Mas Riri, coba juga tanya hati nurani anda: betulkah eksperimental performa koreografi Dewi Persik, yang menuai pencekalan itu tidak mengandung unsur pornografi?

Hati nurani saya mengatakan ya, jelas sekali ia mengadopsi gerakan-gerakan perempuan yang sedang menuju orgasme seksual dalam gerakan koreografinya.

Ah, tapi pada akhirnya, terserah publik untuk menilai. Toh, ini hanya ungkapan nurani seorang blogger, yang belum tentu berdaya efek pada opini publik. Namun, setidaknya,  the inner voice yang sejak kemarin memaksa disuarakan kepada publik telah tersampaikan.

Lagi pula, siapalah Kalipaksi ini? Bukan seorang tokoh publik sekaliber Riri Reza.

Untuk Mas Riri, jika kebetulan anda membaca jurnal ini, sungguh ini tidak ditujukan untuk menjatuhkan kredibilitas anda. Tidak sama sekali. Sebagai seorang tokoh publik, anda pasti sadar betul bahwa pernyataan anda di televisi terbuka untuk dikomentari oleh publik. Dan, saya, adalah bagian dari publik itu.

Peace.


Posted by by: on Apr 9, '08 10:35 PM for everyone

Kelakuan ayah dan anak ini benar benar tidak layak ditiru, Jenny terlibat hubungan percintaan layaknya suami istri selama tujuh tahun, bahkan dari hubungan tersebut terlahir 2 bayi.
Cerita ini dimulai ketika John bercerai dengan istrinya(ibu Jenny), saat itu jenny masih berusia 1 tahun. Keduanya bertemu kembali setelah 30 tahun kemudian, Jenny yg saat itu berusia 31 tahun dan mempunyai 2 anak merasa jatuh cinta kepada John. Dalam acara TV ini, Jenny meminta kepada masyarakat menghargai keputusan yang mereka ambil. “Dalam hubungan ini, saya dan John tak ubahnya orang dewasa lain, kami hanya meminta sedikit pengertian” tutur Jenny dalam acara tersebut.

Dalam website pengadilan, hubungan Jenny dan sang ayah sempat melahirkan seorang anak juga pada 2001. Hanya, bayi itu meninggal sesaat setelah dilahirkan karena kelainan jantung bawaan.

Sembilan bulan lalu, hubungan keduanya kembali menghasilkan seorang anak, Caleste. Saat diwawancarai Nine Channel, bayi perempuan berusia 9 bulan itu tampak sehat. Tidak jelas, Caleste memanggil John dengan sebutan ayah atau kakek. Tak jelas pula, si kecil menyebut Jenny dengan panggilan ibu atau kakak. (AFP/dailymail/sha/soe)

foto:
Incest: John Deaves (kanan) bersama putrinya, Jenny Deaves, dalam tayangan “60 minutes” sebuah stasiun tv Australia kemarin (8 April 08)

artikel terkait di sini



Posted by by: on Apr 8, '08 5:53 AM for everyone

Sebuah berita di detiki-Net membuka pertanyaan baru. Jika memang benar bahwa pemakaian ponsel di pesawat segera berlaku di Eropa, kapan dunia penerbangan di Indonesia akan segera mengikuti jejak itu? Yups, selama ini para penumpang pesawat dilarang melakukan komunikasi selama penerbangan. Jika pun ada yang mengoperasikan smartphone itu pun dalam mode offline. Jadi  bukan dalam rangka berkomunikasi, melainkan lebih sebagai PDA.

Belum lama ini, maskapai penerbangan Emirates telah mengizinkan penggunaan handphone untuk keperluan komunikasi selama penerbangan berlangsung. Bahkan, Komisi Eropa juga telah menyetujui pemakaian ponsel di pesawat yang lalu lalang di benua biru itu. Tahun ini juga jika tak ada kendala berarti, penumpang pesawat di Eropa sudah bisa memakai ponsel di pesawat untuk beragam keperluan seperti melakukan panggilan, SMS ataupun e-mail.

Syarat dan Ketentuan
Tentu saja pemakaian ponsel di pesawat ini diawasi ketat. Lembaga European Safety Agency baru akan menyetujui pemakaian ponsel oleh maskapai penerbangan yang memenuhi syarat, misalnya adanya kepastian sinyal ponsel tak akan mengganggu komponen elektronik pesawat.

Selain itu, ponsel baru boleh dipakai di ketinggian 3000 meter dan harus dimatikan saat pesawat akan mendarat atau lepas landas. Pilot juga memiliki wewenang untuk mematikan layanan jika diperlukan.

Berbagai maskapai penerbangan sudah menyatakan kesiapannya memfasilitasi pemakaian ponsel di pesawat ini. Namun demikian, ada juga maskapai besar yang belum akan menerapkan layanan itu, misalnya Lufthansa dari Jerman.

Sebagian penumpang memang menyatakan kekhawatirannya akan keselamatan penerbangan jika pemakaian ponsel diperbolehkan. Wajar saja, sudah sejak lama penumpang pesawat direcoki pernyataan bahwa pemakaian ponsel di pesawat membahayakan.

Nggak sabar menunggu saat ber-sms dan ber-telpon ria selama penerbangan dibolehkan. Yups, dengan catatan: safety first, tentunya.

Posted by by: on Apr 7, '08 9:35 PM for everyone


Banyak jalan menuju Roma. Basi memang. Tapi, pepatah ini memang terbukti kebenarannya. Ketika, isu multiply.com diblok oleh pemerintah (entah alasannya mana yang benar, karena terlalu banyak versi), saya tidak bisa akses via firefox atau internet explorer. Beberapa teman MP juga merasakan hal itu. Akhirnya coba pake proxy, eh bisa. Salah satu proxy unblock yang saya gunakan yakni: www.sitehider.com. Sebenarnya menggelikan jika sampai MP ikut terkena blok. Yang saya dengar, MP diblok karena ikut menyebarkan file film FITNA. Yah, semoga pertemuan Menkominfo M Nuh dengan para blogger yang infonya sudah diposting kawan Romy di sini bisa segera membuka mata Menkominfo untuk meng-unblock kembali MP. Toh, di MP banyak sekali ID MP yang bersifat dakwah. Semoga. Singkat saja, sekian dulu.

PENGUMUMAN: akhirnya IM2 buka blok MP. Sekarang, customer Indosat M2 bisa nge-MP lagi tanpa harus pake fasilitas proxy.

Posted by by: on Apr 3, '08 5:15 AM for everyone
Andy F Noya terkenal sebagai host Kick Andy di Metro TV, tapi pekan lalu justru ia duduk sebagai bintang tamu. Bukan di acara Kick Andy memang, melainkan talkshow di jaringan TV kabel, Q-TV. Yang menjadi host-nya: Peter Gontha, mantan orang kuat RCTI.

"Hahahahahaha..............jadi ternyata anda tidak memiliki selembar  pun ijazah kesarjanaan," Peter Gontha bereaksi atas pengakuan Andy. Yups, ternyata Andy yang sangat cerdas tampil sebagai presenter dan host pada Kick Andy, dan juga seorang Pemimpin Redaksi itu ternyata tak lulus sarjana.

Di tempat lain, seorang begawan budaya Sunda sedang asyik membahas bukunya yang berjudul: Hidup Tanpa Ijazah. Dia adalah Ajip Rosidi, yang menolak mengikuti ujian akhir SMA. Naif memang, tapi itulah faktanya.

Dua kenyataan tadi kembali menggulirkan pertanyaan menggelitik: Bisakah kita hidup atau berkarir tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah?

Kita pernah mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah. Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkannya menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.


Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dan dai Aa Gym. Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM, selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi). Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses.

Ajip Rosidi bahkan lebih `radikal' Iagi.dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah.  "Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah". Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

Mengapa tiba-tiba saya membahas hal ini? Tidak lain karena keprihatinan saya dengan budaya dunia profesional di negeri ini yang masih sangat mengagungkan ijazah sebagai parameter utama. Bukan, jam terbang dan portofolio real seseorang.

Teman saya, yang kini Chief Editor (Kepala Biro) Kantor Berita Foto European Photopress Agency (EPA) di Indonesia mengawali karirnya sebagai fotografer tanpa ijazah (meski ia seorang sarjana Biologi). Bahkan, hingga di usianya yang mendekati 40 tahun, belum pernah ia pegang ijazah kesarjanaannya itu karena ia memang tidak pernah mengambil ijazahnya. Namun, kantor berita foto AFP, yang menjadi tempat pertamanya berkiprah sebagai fotografer, tak mempedulikan itu.

Kemarin, untuk penulisan beberapa buku, kami para penulis dimintai ijazah. Kami paham betul, itu semata demi alasan administratif, belaka. Tapi, naif, jika itu kemudian menggugurkan profesionalisme yang sudah dirintis.


Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin pasti Anda bisa menjawab dengan tepat. 

Posted by by: on Apr 2, '08 10:45 PM for everyone

Sampah tidak harus identik dengan kekumuhan. jangan kaget jika kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Banjardowo, Jombang yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLKH), justru lebih tampak seperti hutan wisata ketimbang sebuah area pembuangan akhir sampah. Ya, inilah fakta yang sangat langka untuk dijumpai di berbagai area TPA Sampah di negeri ini. Di banyak tempat, TPA identik dengan kekumuhan.


Idiom “sampah tidak harus identik dengan kekumuhan” bisa diwujudkan. Masyarakat tidak akan sungkan untuk berjibaku dengan sampah, jika manajemen pengelolaannya tidak berdimensi kekumuhan. Nah, jika sudah begini, sepertinya sebuah solusi atas kerumitan problematika pengelolaan sampah di Indonesia satu per satu akan bisa diselesaikan.

Dua paragraf tadi, merupakan kutipan-kutipan dari tulisan saya tentang persampahan di kota Jombang, oleh-oleh dari perjalanan ke Jombang beberapa waktu lalu.



Selengkapnya silakan klik tulisan ini, yang saya posting di kalipaksi.wordpress:

Ketika Sampah Tak Identik dengan Kekumuhan


Posted by by: on Mar 19, '08 5:35 AM for everyone
Posting ini, sebenarnya sudah dipernah dipublikasikan oleh Fatih Syuhud (si selebritis blogger itu). Namun, saya pikir kok ada bagusnya juga jika di-post ulang (sdh minta izin kok ke bos Fatih).

So, silakan disimak. Semoga bermanfaat:


Berikut daftar singkatan (kamus) kata-kata “gaul” bahasa Inggris yang sering dipakai tidak saja dalam perbincangan di komentar blog, sms, milis, chat room tapi juga sering kita jumpai di email baik dari rekan yang memang biasa berbahasa Inggris maupun yang sehari-hari berbahasa Indonesia. Kata BTW, ASAP, CMIIW, AFAIK dan LOL mungkin sering Anda dengar dan pakai, tapi pernahkah Anda dengar kata WOMBAT?

Singkatnya, silahkan “dihafal” daftar kata “gaul” berikut atau simpan di notepad untuk referensi kalau sesekali diperlukan. Oh ya, singkatan-singkatan ini biasanya tidak dipakai dalam bahasa formal seperti posting di blog.

AFAIK = As Far As I Know
ASAP= As Soon As Possible
BTW = By The Way

CMIIW = Correct Me If I’m Wrong

LTNC = Long Time No See

OIC = Oh, I See
OMG = Oh, My God
OTOH = On The Other Hand

CP = Cross-Posting
OT = Off Topic
OOT = Out Of Topic
VOOT = Very Out Of Topic
POV = Point Of View

PS = Post Scriptum; PostScript
SOL = Sorry, One Liner - kalau pesan anda pendek, cantumkan ini.

FYI = For Your Information
HTH = Hope That Helped/Hope This Helps
IAC = In Any Case
IIRC = If I Recall Correctly

IMO = In My Opinion
IMHO = In My Humble Opinion (rarely: In My Honest Opinion)
IMNSHO = In My Not-So-Humble Opinion
IOW = In Other Words
ISO = In Search Of

LOL = Laughs Out Loud
LMAO = Laughing My Ass Off
ROTFL = Rolling On The Floor Laughing
ROTFLMAO = Rolling On The Floor Laughing My Ass Off

SSIA = Subject Says It All
TBE = To Be Expected
TBH = To Be Honest
TWIMC = To Whom It May Concern
TBYB = Try Before You Buy

TMA = Take My Advice
TIMTOWTDI = There Is More Than One Way To Do It
TINALO = This Is Not A Legal Opinion
TINAR = This Is Not A Recommendation

TIA = Thanks In Advance
TFTT = Thanks For The Thought
TYVM = Thank You Very Much

WOMBAT = Waste Of Money, Brains, And Time
WBS = Write Back Soon
WRT = With Regard To; With Respect To
WYGIWYPF = What You Get Is What You Pay For
WYSIWYG = What You See Is What You Get

WTB = Want To Buy
WTS = Want To Sell
WTI = Want To Inform
WTA = Want To Ask

sumber: blog Fatih Syuhud


Posted by by: on Mar 19, '08 3:52 AM for everyone
Jika pada jurnal sebelumnya saya bicara tentang "orang kalah" dalam terminologi kompetisi dan perburuan proyek, hari ini saya ingin bicara tentang "orang kalah" dalam konteks kasta sosial--atau saya sering menggelari mereka dengan istilah "kurcaci".

Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi kesempatan begitu luas untuk melakukan perjalanan lintas kasta sosial, mulai dari tidur sekamar dengan para kurcaci di permukiman kumuh di atas kali Jelambar sampai diinapkan JK di Hilton; mulai dari makan nasi uduk bersama sebuah keluarga pemulung di Ciledug, hingga makan siang dengan Probosutedjo di executive lounge Le Meridien lantai 19.

Namun, anehnya, saya kok lebih memiliki kesan tak terlupakan ketika berada bersama para kurcaci itu ketimbang ketika bersama para kurcaca (meminjam istilah Bang Iwan Fals). Mungkin, karena ketulusan para kurcaci, yang terpancar dari mata dan air muka mereka.

Entah, mengapa saya selalu tertarik untuk menatap mata mereka, meski itu terkadang dilakukan secara diam-diam. Mata yang menyembulkan pergulatan hidup yang ekstra-keras. Memang, terkadang ada juga saya dapati mata dan air muka kurcaci yang mencerminkan keculasan dan kemalasan.

Sebagai bukan orang kaya, saya terkadang hanya bisa berdoa ketika melihat bapak penjual gorengan dengan tubuh rentanya memanggul barang dagangannya. Atau, ketika melihat pemulung yang sedang bekerja keras mengumpulkan limbah gelas plastik aqua. Atau, penjaja mainan anak-anak yang untung berdagang dalam sehari paling hanya 10 ribu atau 15 ribu rupiah.

Ya, setidaknya dengan doa itu saya merasa ada sesuatu yang bisa berikan, meski hanya doa. Doa yang cukup sederhana: "Ya Tuhan, limpahkanlah rizki yang cukup baginya hari ini. Berikan mereka senyum yang berlimpah hari ini."

Melalui jurnal ini, saya hanya mengajak: Jika ada rizki lebih mari kita santuni para kurcaci itu. Atau, setidaknya, marilah kita berdoa untuk mereka. Setidaknya, doa agar mereka selalu bisa tersenyum. Bagi orang kalah, bisa tersenyum adalah sebuah kenikmatan tersendiri.


Posted by by: on Mar 17, '08 11:05 PM for everyone
Pekan ini bisa dibilang pekan penuh kekalahan. Beberapa upaya untuk mendapatkan klien baru gagal. So, saya hanya bisa berkata kepada teman-teman: "Jangan salahkan sistem yang korup. Salahkan diri kita sendiri. Kita kalah, artinya kita belum siap. Termasuk belum siap mengantisipasi sistem yang korup itu."

Menjadi orang kalah itu pahit. Tapi, sebagai seorang manusia, saya kok termasuk yang berpendapat: setiap orang harus merasakan bagaimana pahitnya menjadi "orang kalah". Tanpa itu, sepertinya kok hambar hidup ini. Dus, biasanya, si kalah akan menjelma menjadi si perkasa jika ia ber-positive thinking atas kekalahannya itu. Mengamuk dalam arti positif.

Sungguh, meskipun sudah berpuluh kali merasakan pahitnya kekalahan, saya tidak pernah takut untuk masuk ke arena pertandingan. Mengapa? Sebab, sudah berpuluh kali juga saya merasakan nikmatnya sebagai pemenang. Namun, bedanya, sekarang agak selektif untuk maju ke arena laga. Prinsipnya, jika mau maju, harus benar-benar siap agar peluang untuk menjadi "orang kalah" jauh lebih kecil.

Ada satu prinsip, yang selalu kami pegang, "Jangan menggerutu". Memang, menggerutu bukan pekerjaan haram tapi efeknya terhadap mental sungguh negatif. Ini pula yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman aktivis, yang selalu menggerutu bahwa kelompoknya tertindas, agamanya diperolok-olok, susah nggak punya dana, dan sebagainya. Saya selalu bilang, daripada menggerutu, teriak-teriak nggak karuan lebih baik kalian introspeksi diri.

Introspeksi dulu, cari kambing hitam dalam diri sendiri, baru menjadikan orang lain kambing hitam, itu baru fair. Lha ini belum apa-apa, sudah teriak: si fulan keparat, bangsa fulan bangsat, dsb.  Biasanya, introspeksi diri yang dilakukan secara fair akan menumbuhkan semangat untuk bangkit, dalam konteks positif, termasuk dalam mengantisipasi sistem yang korup tadi.

So, bagi siapapun yang sedang mengalami "kekalahan": ayo bangkit. Benahi diri, kelompok, dan organisasi kita.

artikel terkait dengan tender bisa klik di sini


Posted by by: on Mar 3, '08 11:04 PM for everyone
Para pengguna XL di kawasan Pakubuwono - Pondok Indah dan sekitarnya, sejak pukul 10.00 pagi tadi kecewa. Pasalnya, jaringan XL drop. Nggak ada sinyak sama sekali. Yo wess, coba-coba telpon teman yang kerja di XL.

"Betul, Mas. Ini aku lagi check kerusakannya ada di mana," jelasnya.

Oh begitu. Ya sudah. Sabar menanti.
Hingga jurnal ini ditulis. Sinyal XL di sekitar Pakubuwono, Jaksel masih belum ada.

Progress: SEKARANG SUDAH NORMAL LAGI .


Posted by by: on Mar 3, '08 8:41 PM for everyone
Sebuah mobil Opel Blazer meluncur dengan kecepatan cukup tinggi. Tiba-tiba memutar di sebuah putaran, yang sebenarnya terpampang rambu dilarang berputar. Mobil Opel Blazer itu bernomor polisi B 8xxx BP. Teman saya bertaruh, bahwa mobil itu tidak akan distop Polantas yang berdiri di perempatan tidak jauh dari putaran itu. Alasannya, nomor plat mobil itu B xxxx BP. Tapi saya yakin, ia bakal distop. Kenapa? Pelat nomor B xxxx BP sudah bukan lagi nomor "keramat" milik perwira Polri. Apalagi, Mr. Polantas pun sudah tahu jika pelat nomor B 8xxx BP itu bukan nomor kendaraan dinas milik Polri, sebab hanya yang berawalan B 1xxx BP dan B 2 xxx BP saja yang benar-benar kendaraan perwira Polri. "Tuh liat, kepalanya angka 8, bukan 1 atau 2," jelas saya berargumen. Benar saja, mobil itu distop.

 "Priiiiiiitttttt. Selamat malam, Pak. Mohon SIM dan STNK," tanya Mr. Polantas.

Cerita tadi hanyalah sebuah pengantar dari topik ulasan di jurnal ini tentang mental "Pretend To Be" yang masih banyak dijumpai di sekitar kita. Pretend to be itu maknanya ya seolah-olah.  Bohong-bohongan. Ethok-ethok, dalam bahasa Jawa-nya. Dan, biasanya, sikap itu untuk keselamatan dan keuntungan pribadi.

Termasuk, di antaranya, ketika banyak orang berduit dan berkoneksi membeli pelat nomor B xxxx BP tadi. Termasuk mantan bos saya. Bahkan, kami pernah dikawal mobil patroli sewaktu hendak menghadiri pesta khitanan anak seorang Kapolres di Pantura. Memang, dari ribuan mobil yang berseliweran di Jakarta, sedikit di antaranya berplat nomor khusus, yang hanya berhak digunakan oleh individu tertentu.

  • B xxxx BS, bagi pejabat sipil (BS = Bantuan Setneg)
  • B xxxx BD, bagi pejabat militer Angkatan Darat (BD = Bantuan Darat)
  • B xxxx BL, bagi pejabat militer Angkatan Laut (BL = Bantuan Laut)
  • B xxxx BP, bagi pejabat/perwira Polri  (BP = Bantuan Polisi)
  • Dan beberapa nomor bernomor khusus yang menjadi nomor pejabat intelijen.
Mungkin, karena sudah banyak diperjualbelikan sehingga banyak orang ber-pretend to be as a police officer, pihak Polri merasa perlu mengganti nomor khusus tersebut. Sekarang kedudukan plat nomor B xxxx BP (harus selalu empat nomor) sudah digantikan oleh:
  • B xxxx BH
  • B xxxx QH
  • B xxxx QZ
So, sekarang, Mr. Polantas lebih pede jika ingin menangkap mobil-mobil bernomor polisi B xxxx BP jika melanggar ketentuan lalu lintas. Apalagi B xxxx BP ethok-ethok.

Yah
, mudah-mudahan, dengan perubahan ini tidak terjadi lagi jual beli pelat nomor khusus itu. Tapi, siapa yang bisa menjamin? 


Posted by by: on Feb 28, '08 8:32 PM for everyone
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Gito Rollies wafat. Mata batin saya langsung meneroka, "Ah....engkau memang orang yang beruntung Mas Gito. Kau akhiri hidupmu dalam gelimang iman dan keyakinan. Setidaknya, itu yang saya tahu." Saya pun kemudian mencoba mawas diri. Akankah hidup saya kelak bisa berakhir dalam keadaan husnu al-khatimah. Juga, hidup anda teman-temanku.

Siapa yang tidak kenal mendiang Gito. Ia dulu penyanyi rock yang sempat menjadi ikon kebengalan anak muda. "Mick Jagger itu dulu sunnah saya. Mabok, main cewek, dan dunia kelam itulah saya," kata Gito suatu ketika dalam sebuah ceramah. "Tapi, kini sunnah saya Rasulullah," lanjutnya.

Sungguh, saya selalu berjuang untuk menahan untuk tidak meneteskan air mata ketika mendengar lagu religi yang dinyanyikan Mas Gito. Judulnya, "Hanya Pada-Mu Aku Bergantung". Bait-bait dari lirik lagu itu, yang masih saya ingat di antaranya:

"Ku mohon ampunan-Mu."
"Ya...Allah ya Tuhanku"

"Aku insan biasa"
"Yang, tak luput dari dosa-dosa"


 Padahal, saya termasuk tipe manusia yang sulit menangis. Lagu ini pernah menjadi soundtrack sinetron religi (jika tidak salah di RCTI). Setiap mendengar lagu itu (yang dinyanyikan oleh Mas Gito), saya selalu merinding. Entah, mungkin itu karena aura suara Mas Gito yang dipenuhi aura taubat (setidaknya ketika melantunkan lagu tersebut). Apalagi, dalam proses rekaman, lagu itu direkam ketika ia sedang sakit; dari atas tempat tidurnya sekitar dua tahun silam.

Saya lalu teringat pesan seorang sahabat spiritual. Ia bilang, hati manusia itu seperti cermin. Hanya cermin yang bersih sajalah yang bisa memantulkan sinar dengan sempurna. Cermin yang kusam, dipenuhi debu, tentu saja tidak. Begitu pula hati."

Dari satu sisi itu saja, saya yakin bahwa Mas Gito seorang dengan hati bersih. Buktinya, ia bisa memantulkan aura taubatnya kepada orang lain. Setidaknya kepada saya.

Mas Gito, sungguh saya iri padamu. Engkau kembali kepada-Nya dalam ketenangan hati dan batin. Semoga, perjalanan hidupmu bisa menjadi pesan moral bagi kami yang masih hidup.

Selamat jalan, Mas Gito. Terima kasih untuk pesan yang tak ternilai harganya.


Posted by by: on Feb 28, '08 4:46 AM for everyone
Apapun keyakinan spiritual seseorang, sebaiknya hormati itu. Toh, keyakinan itu diyakini sebagai sebuah aktualisasi spiritual untuk menuju Sang Pencipta. Sekarang, saya bisa berbicara seperti itu. Lima tahun lalu, tentu saja tidak. Bagi saya (versi lima tahun lalu), kebenaran adalah putih, selain itu hitam. Tidak ada abu-abu. Tidak juga jingga, biru, merah, hijau, kuning, ......... dan sebagainya. Bahkan, demi memperjuangkan warna putih itu, ekstasi spiritualitas dalam diri ini sampai kepada sebuah titik: mati pun aku rela.

Jelas, perlu proses untuk menjadi individu yang inklusif. Yang jelas, ada proses dialog di sana. Dialog dalam konteks tidak semata saling berbicara, bertukar ide, dan saling berargumen. Dialog dalam konteks ini, tentu saja, dialog amaliyah. Artinya, mencoba berempati dengan amaliyah manusia lain yang dianggap berbeda dengan keyakinan yang kita yakini.

Dialog amaliyah itu kembali saya lakukan ketika sebuah perjumpaan istimewa terjadi beberapa hari lalu. Ya, seorang teman dari masa lalu, yang kini telah berganti warna spiritual. Ia kini merupakan bagian dari komunitas Syi'i (pengamal Syi'ah) di negeri ini.

Tentu saja, ia masih hijau dalam belantara ke-syiahan. Ia masih pemula. Sebagai pemula, tentu saja, ia masih diselimuti euforia spritual, yang tentu saja sangat kental dengan doktrin-doktrin Syiah. Dengan sabar, saya mencoba menyimak berbagai uraiannya. Tak satupun, saya bantah.

Ternyata, kesabaran itu berbuah sebuah pemahaman baru tentang konstelasi Imam Mahdi versus Dajjal yang selama ini terkesan tumbuh sebagai "dongeng" (dalam tanda petik ya, pen) tentang akhir zaman. Memang, sebenarnya konstelasi yang dipaparkan teman saya itu bukan murni datang dari pemahaman Sy'iah. Namun, karena konsep Imam Mahdi datang dari komunitas Syi'ah, jadilah konstelasi itu seolah-olah datang dari Syi'ah. Konstelasi macam apa yang disampaikan teman saya itu?

Begini, ia yakin bahwa hingga saat ini baik Imam Mahdi maupun Dajjal masih hidup. Begitu juga Nabi Isa. Oke, kita kesampingkan dulu tentang Nabi Isa. Let's focus to the couple legend: Imam Mahdi dan Dajjal. Teman saya itu yakin bahwa konstelasi politik internasional sekarang ini pada akhirnya bermuara pada dua makhluk tersebut (jika memang mereka ada). Misalnya, soal nuklir Iran.

Kata teman saya, Amerika tidak berani menyerang Iran karena memperhitungkan keberadaan Imam Mahdi, yang hanya para elit ulama Iran saja yang mengetahuinya. Bahkan, ia yakin bahwa kemajuan teknologi Amerika saat ini tidak terlepas dari dukungan Kerajaan Dajjal yang ada di dasar laut Bermuda (ingat buku tentang Dajjal karangan Muhammad Isa Daud?)

Menurut yang ia yakini, Dajjal sebenarnya adalah Samiri, tokoh yang sezaman dengan Nabi Musa. Oleh karena itu, Amerika dipanggil sebagai Negeri Paman Sam. Kata Sam, menurutnya, diambil dari kata Samiri.

Terlalu panjang untuk ditulis semua di ruang blog yang terbatas ini. Namun, intinya teman saya yakin bahwa saat ini sedang terjadi perang dingin antara kubu Imam Mahdi dan kubu Samiri/Dajjal. Yang kelak, akan bermuara pada kemunculan Imam Mahdi untuk memimpin pertarungan dengan kubu Samiri.

Sungguh, jelas, saya tidak bisa memahami cara yang berfikir semacam paparan teman saya itu. Namun, saya juga tidak mau men-justifikasi bahwa keyakinan semacam itu sesat. Sikap ini saya tempuh sebagai wujud dari inklusivitas spiritual yang sudah saya jelaskan di awal jurnal/artikel ini. Toh, keyakinan teman saya itu dilandasi oleh niat mulia: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Semoga, cerita tentang inklusivitas dan dialog amaliah ini ada manfaatnya. Semoga juga, tidak menjadi bahan hujatan bagi orang-orang yang tidak bisa menerima inklusivitas spiritual.




Posted by by: on Feb 27, '08 5:19 AM for everyone
Ini kisah nyata. Semalam ada seorang teman yang sebenarnya bukan hacker tapi coba-coba menjadi hacker. Ceritanya, seorang teman meminta tolong seorang hacker untuk menerobos masuk ke sebuah situs dan menginfus beberapa data ke dalamnya. Tentu saja, dilakukan dengan cara ilegal.

Sebagai orang yang gaptek soal hacking, saya memutuskan hanya menjadi pendengar ketika proses hacking itu dibahas. Nah, sampai akhirnya sebuah peristiwa lucu datang. Teman yang bukan hacker lalu dengan PD-nya ikut ngomong, begini:

"Aku juga kemarin coba masuk, tapi nggak bisa keluar lagi"
?????????????????????????????????????????????????

Saya, yang nggak ngerti soal teknis hacking, jelas bingung. Sekaligus geli mendengarnya.
"Maksud sampeyan, piye. Masuk tapi nggak bisa keluar lagi. Coba jelaskan?
Setelah dijelaskan, Oooo....maksudnya berhasil menerobos ke situs itu tapi nggak bisa keluar lagi.

Halah.........saya masih tetap bingung. Nggak masuk akal.
"Coba jelaskan sekali lagi!!!"

Kali ini dia berdiplomasi. "Tapi akhirnya bisa keluar, tapi jejakku ketinggalan?"
"Jejak ketinggalan.........?" Halah, saya tambah bingung. Oooo...maksudnya, nomor IP address bisa ketahuan.

Yo...wess, sekalian saja saya puuuuur.
"Trus ...jejaknya sudah diambil apa belum?

"Sudah sih....saya ke Laos dulu, terus ke Hongkong. Dari Hongkong jejaknya saya ambil"
Halah............aku kok makin tambah bingung.
Apa iya begitu?
Atau, jangan-jangan saya yang terlalu bego untuk mengerti hal itu.
Atau, jangan-jangan itu cuma bisa-bisanya temenku supaya dianggap gape.

Halah....piye to iki. Siapa dong yang konyol: saya atau dia?
Yang jelas, waktu cerita ini saya share ke teman-teman lain di kantor. Reaksi mereka sama:

Hahahahahahahahahahaha.................................................
Oaaaaaaaaaaaaaaaaalah...................................................

 

Posted by by: on Feb 25, '08 5:51 AM for everyone
Usai menikmati album foto di rumah MP-nya Pink-Q  yang bercerita tentang nasib para gelandangan tua, saya kok jadi ingin menulis catatan kecil tentang "semestinya bagaimana kelak hidup kita di hari tua?" Sungguh, kata-kata puitis yang ditulis PinkQ "di manakah anak-anakku, mereka pergi meninggalkanku..." membuat ingatan saya kembali pada perjalanan mengunjungi panti-panti jompo di beberapa kota, pertengahan tahun 2005 lalu.

Di panti-panti itu, saya bertemu dengan banyak orang sepuh yang tinggal terpisah dengan anak cucu mereka. "Sebenarnya lebih enak tinggal bersama cucu," begitu ungkapan sebagian besar dari mereka, baik yang tinggal di rumah jompo kelas kere hingga panti jompo dengan kamar ber-AC.

Sebenarnya, menurut versi pemerintah kita, kehadiran panti-panti jompo itu hanya merupakan pilihan terakhir bagi para lansia yang memang sudah sebatang kara. Jika masih memiliki sanak famili, pemerintah kita sebenarnya menganjurkan moto "Tiga Generasi Satu Atap". Artinya, para lansia itu sebaiknya menghabiskan masa tuanya bersama anak cucu. Secara psikologis, bagi mereka ada kenyamanan tersendiri mengamati perkembangan anak cucu generasi penerus keturunan mereka.

Atas alasan itu pula hingga saat ini saya masih bertahan di Pondok Mertua Indah, untuk menemani orang tua isteri tercinta. Sudah beberapa kali kami mengajukan permohonan untuk pindah rumah, tapi mereka memohon agar kami tetap tinggal bersama mereka. Setelah dipikir-pikir, yo wess, mengapa tidak? Kami bisa membayangkan ketika mereka harus tinggal sepasang plus seorang pembantu. Ah, betapa sepinya.


Posted by by: on Feb 17, '08 12:17 AM for everyone
Saya baru tahu jika selera memilih handphone mencerminkan karakter penggunanya. Jujur, sebenarnya saya agak ragu juga dengan sebuah penelitian yang mendeskipsikan tipe seseorang berdasarkan ponsel yang digunakan, bersamaan dengan selebriti yang memiliki ponsel itu. Hasil dari survei itu, misalnya, mereka yang memiliki Motorola RAZR umumnya ternyata adalah seseorang yang sadar mode, bersifat individualistik dan seorang pencari kesenangan. Selebriti seperti Paris Hilton, Rachael Bilson, dan Micha Barton adalah orang-orang yang menggunakan ponsel itu dan mereka berperan dalam membentuk stereotipe tersebut.

Apa iya? Lha wong dalam memilih ponsel, untuk orang seperti saya yang penting semurah mungkin untuk ukuran gadget tertentu. Saat ini saya menggunakan Motorola C-380 jadul dan Nokia E-70 (hasil pemberian seorang klien). Bagi saya, yang penting perangkat itu tidak merepotkan--dan yang jelas tahan banting.

Hari ini, Suara Pembaruan merilis sebuah berita tentang MSNBC yang melakukan penelitian itu, baru-baru ini memfokuskan pada smartphone terbaru. Tentang ini, saya enggan berkomentar sebab sekalipun saya belum pernah menjadi pengguna gadget-gadget smartphone yang diteliti itu.

Karakteristik yang dibahas kali ini ber- kaitan dengan smartphone yang sedang populer seperti Blackberry, Treo, Sidekick, dan iPhone. MSNBC menghubungi masing-masing perwakilan dari perusahaan dan ahli untuk memberikan opini mereka tentang tipe pengguna yang tertarik pada masing-masing alat. Nah,  ini yang mereka katakan:

BLACKBERRY
  • Blackberry. Peranti ini ternyata populer dan banyak digunakan pekerja di bidang keuangan, event organizer, pegawai pemerintahan, penegak hukum, salesman, dan jurnalis. Namun, model terbaru Blackberry ternyata menarik perhatian orang di luar kalangan yang sudah disebut, termasuk para ibu atlet sepakbola. Hal itu, diungkapkan wakil presiden marketing Research In Motion (RIM), Mark Guibert.
  • Pengguna Blackberry menyiratkan seseorang yang mencandu dengan alat ini dan secara konstan terhubung dengan sekelilingnya. Hal itu menyimpulkan, bahwa para pengguna Blackberry adalah mereka yang secara konstan terkoneksi dengan kantor mereka.
  • "Pengguna Blackberry cenderung cepat menjadi kecanduan dan terbentang sejumlah penderitaan yang mengikuti. Mulai dari 'blackberry thumb' (masalah stres yang berulang) sampai 'phantom Blackberry syndrome' ketika seorang pengguna tidak membawa Blackberry, namun tetap merasakan getaran buzz (pada fasilitas chatting, Red)," kata Guibert.

TREO
  • Siapa yang menggunakan? Treo umumnya populer di antara para penulis dan seniman pemula. Para pendidik, ahli keuangan, pegawai pemerintahan, petugas kesehatan, pengacara dan para pedagang berlomba memiliki alat itu. "Umumnya, pembeli Treo cenderung para profesional aktif berusia 35-54 tahun. Mereka berasal dari beragam industri mulai petugas kesehatan hingga pekerja bank dan hukum," kata juru bicara Palm, Dolleen Cassey.
  • Apa yang dikatakan Treo tentang Anda? "Pengguna Treo cenderung organization-minded daripada pengguna iPhone atau Sidekick," kata analis pasar telepon seluler Current Analysis, Avi Greengart.

SIDEKICK
  • Selanjutnya adalah Sidekick. Peranti ini digunakan penulis, manajer, event organizer, promotor, pelaku bisnis, musisi, DJ, aktor, atlet profesional, eksekutif muda dan mahasiswa.
  • Pengguna Sidekick diperkirakan adalah seseorang mampu memberi pengaruh pada teman-temannya. Seseorang yang berlatar belakang multikultur dengan berbagai macam teman. Sering mengikuti perkembangan musik dan gadget terbaru. Memiliki jaringan (lokal) yang luas dan harus selalu dihubungi. Multitaskers, mengerti teknologi dan selalu mengetahui perkembangan terbaru," kata penulis dari Waggener Edstrom, Jackson Jeyanayagam.
iPONE
  • Siapa yang menggunakan? Pengguna alat ini umumnya seseorang yang menentang kemapanan dan mencari cara yang berbeda untuk menarik perhatian dengan alat canggih. Semua orang pasti punya satu, termasuk orang kelas atas.
  • Apa yang dikatakan iPhone tentang Anda? Anda ingin yang terbaru dan terbaik. Anda seorang penggila hiburan, dan Anda menginginkan integrasi terbaik dari musik dan konten iTunes karena Anda sangat familiar dengan sistem tersebut.
  • Namun, ini bukanlah gambaran yang akurat dari para pengguna smartphone, tetapi itulah yang dikatakan para ahli. Jadi bagaimana pendapat Anda? Apakah penilaian ini mendekati atau malah jauh dari kebenaran?
Wahai pengguna smartphone Blackberry, Sidekick, iPone atau Treo. Benar nggak sih hasil penelitian itu?

Last modified: 15/2/08

Posted by by: on Feb 14, '08 5:26 AM for everyone
Jika kelak ada buku Chicken Soup for MP-ers Jili II terbit, semoga saja kisah cinta Anton dan Beti bisa menjadi salah satu cerita yang menghiasi buku tersebut kelak. Mengapa begitu, sebab jika tidak ada aral melintang, kedua MP-ers ini akan segera menikah bulan Maret kelak. Sungguh, sejatinya saya terkejut juga ketika mendengar info samar-samar komunitas Pakubumi Center bahwa Anton dan Beti akan menikah.

Anton dan Beti berjumpa di MP. Saya tidak tahu persis bagaimana ceritanya mereka menjalin kisah kasih. Tiba-tiba, dengar kabar mereka berdua mau menikah. Keduanya memang penggiat di komunitas multiply. Anton punya ID: www.antonchandra.multiply.com sedangkan Beti atau Nurbaiti punya ID: www.kakabet.multiply.com.

Memang, dari yang saya dengar, baik Anton maupun Beti, masih mencoba merahasiakan rencana mereka. Rencananya, besok pagi/siang, kedua keluarga besar masing-masing akan bertemu di Cilegon. Mungkin, acara lamaran.

Yo wess.....saya hanya bisa berdo'a supaya rencana kalian lancar belaka adanya. Harapan lain, jangan lupa undang teman-teman  MP-ers.

Oh ya, kepada teman-teman yang membaca posting ini, mohon doa restu untuk mereka berdua. Memang, semestinya, Anton dan Beti yang  me-woro-worokan berita ini sekaligus mohon doa restu. Tapi, karena mereka belum bersuara, yo wess, saya awali saja.

Nggak apa-apa kan Ton?



Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help