sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Jun 6, '07 10:48 PM for everyone
Tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya munculkan ke blog ini. Tapi entah mengapa tiba-tiba menghilang ...

Mengapa konteks "Nabi Pun Berjurnalistik" ini perlu saya gelontorkan lagi ke publik melalui blog ini, semata-mata hanya ini berkontribusi bahwa Nabi-Nabi kita pun sesungguhnya, selain individu-individu pembawa ajaran Ilahi, mereka adalah juga para jurnalis yang tangguh. Alhasil, bagi saya, jurnalisme menjadi suatu lorong ilmu yang semestinya juga dimiliki oleh setiap individu yang ingin meninggalkan jejak karya, baik itu berupa ilmu pengetahuan, sastra, bahkan seruan kebajikan--yang pada akhirnya bermuara pada satu titik: Ilahi.
   
    Dalam tulisan, yang 'hilang' itu, saya menulis bahwa banyak pemikiran-pemikiran dahsyat dari para cerdik cendekia, baik itu ulama, ilmuwan, atau pemimpin, yang hilang ditelan zaman lantaran tidak didokumentasikan secara apik dalam sebuah kumpulan ide berbentuk manuskrip. Simpel saja, itu terjadi lantaran karena tidak ada waktu, atau mereka tidak mampu mengartikulasikan ide-ide brilian dan dahsyat itu ke dimensi skripta.  Nah, dalam konteks inilah, jurnalisme diperlukan. Jadi, jurnalisme semata-mata bukan sekadar untuk kepentingan media massa, tapi juga untuk kepentingan transformasi ilmu pengetahuan. Dan, tentu saja sejarah.

    Saya seorang muslim, jadi saya mencoba meneroka keterkaitan antara jurnalisme dan sejarah peradaban masa lalu yang terekam dalam kitab suci yang saya yakini. Dalam bahasa Arab, wartawan atau jurnalis diistilahi dengan kata "mushahif" (baca: musohif). Kata itu bersaudara dekat dengan kata mushaf dan suhuf--yang meskipun dalam konteks berbeda--tapi bermuara pada satu matra: karya manuskrip. Dan, orang yang menyusun karya itu, juga disebut sebagai mushahif.

    Mendengar kata mushaf, pasti sudah tidak asing lagi. Kata itu lazim dinisbatkan bagi kitab secara fisik --bukan secara esensi. Termasuk kitab suci. Sedangkan kata suhuf lebih kepada konteks konten-nya.
    
    Nah, jika merujuk kepada olah bahasan dari sisi kebahasaan itu, dalam surat Al'Ala, pada dua ayat terakhir tertulis: ....suhuf al-ula: suhufi Ibrahima wa Musa. Di sana, disebut-sebut dua suhuf, yakni suhuf yang dipikul oleh Musa dan Ibrahim. Berdasarkan konteks inilah, lantas, saya berkeyakinan bahwa dalam proses dakwah yang dilakukan oleh para Nabi di dalamnya terdapat sebuah unsur yang sangat vital, yakni: jurnalisme.

    Mohon diluruskan, jika alur pemikiran saya--yang daif ini melenceng dari kebenaran. Syukria.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help