
Di dunia ini bonafiditas seolah menjadi ukuran kualitas sebuah produk. Produk yang berkualitas diidentikkan sebagai produk yang dihasilkan oleh sebuah produsen atau perusahaan dan bonafide. Idealnya memang seperti itu. Tapi tesis itu tak selamanya menjadi sesuatu hal yang mutlak. Tidak sedikit perusahaan kecil yang punya produk berkualitas.
Bagi sebagian orang, usaha konsultan penerbitan mungkin dibilang kurang bonafide dengan segala kebersahajaan yang melekat padanya. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk tidak menyajikan sebuah produk penerbitan yang berkualitas. Yang harus diyakini, kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan bonafiditas.
Saya teringat cerita para wartawan senior tentang awal berkembangnya Majalah TEMPO. Siapa tidak kenal majalah ini. Bisa dibilang majalah ini adalah barometer majalah di Indonesia. Entah betul atau tidak, berdasarkan cerita salah seorang pendirinya, majalah itu dirintis di sebuah ruang kecil di lantai II dengan segala keterbatasan sarana tapi dengan tekad kuat dan SDM yang berkualitas. Setelah berproses sekian puluh tahun, jadilah majalah itu sebagai sebuah majalah terkemuka di segmennya.
Persoalan menjadi bonafide atau tidak, itu soal keseribu. Yang penting, selalu berusaha menyajikan kualitas. Toh, bukankah kualitas itu yang akan menjadi jembatan kita untuk dipandang sebagai kelompok yang bonafide.
Hahahahaha.............