Saya langsung lemas, begitu mendengar sohib kami di kantor berkata kepada sespri seorang Bupati sebuah kabupaten di Jawa Timur begini, "Mas Bupati anda tidak cerdas!!!"
Lemas,

karena dari awal saya yang mengenalkan sang sohib (Mas Agung) kepada si sespri. Padahal, tadinya saya hendak melobi sang Bupati supaya minimal dapat proyek menulis buku tentang kabupatennya.
"Mas, lemas aku mendengar anda berbicara lantang begitu," kata saya kepada Mas Agung.
"Ini bentuk partisipasi kita, supaya mereka tahu...mbok ya kalau jadi Bupati itu cerdas," timpal Mas Agung.
Cerita ini bermula dari berkumpulnya para Bupati di sebuah studio televisi. Ceritanya, para Bupati itu menerima penghargaan dari sebuah departemen. PU Award's namanya. Nah, tim penulis di kantor kami mendapat tugas untuk menyusun buku tentang profil kabupaten yang menerima PU Award's.
Maklum, malam itu tim kami hanya turun lima orang personil, termasuk Mas Agung tadi. Sedangkan Walikota/Bupati yang harus dilobi dan diinterview lebih dari 20 orang. Alkisah, ketika berhadapan dengan sang Bupati, Mas Agung tidak mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya.
"Gimana, seorang Bupati kok nggak menguasai masalah.
Nggak cerdas," simpulnya kepada saya.
Tapi, yang membuat saya lemas, mengapa pernyataan itu harus langsung disampaikan kepada si Sespri Bupati. Bagusnya, si Sespri tidak marah.
Yo wess, supaya hubungan baik tetap berjalan, keesokan paginya saya menemui si Sespri untuk melakukan klarifikasi.