sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Feb 28, '08 4:46 AM for everyone
Apapun keyakinan spiritual seseorang, sebaiknya hormati itu. Toh, keyakinan itu diyakini sebagai sebuah aktualisasi spiritual untuk menuju Sang Pencipta. Sekarang, saya bisa berbicara seperti itu. Lima tahun lalu, tentu saja tidak. Bagi saya (versi lima tahun lalu), kebenaran adalah putih, selain itu hitam. Tidak ada abu-abu. Tidak juga jingga, biru, merah, hijau, kuning, ......... dan sebagainya. Bahkan, demi memperjuangkan warna putih itu, ekstasi spiritualitas dalam diri ini sampai kepada sebuah titik: mati pun aku rela.

Jelas, perlu proses untuk menjadi individu yang inklusif. Yang jelas, ada proses dialog di sana. Dialog dalam konteks tidak semata saling berbicara, bertukar ide, dan saling berargumen. Dialog dalam konteks ini, tentu saja, dialog amaliyah. Artinya, mencoba berempati dengan amaliyah manusia lain yang dianggap berbeda dengan keyakinan yang kita yakini.

Dialog amaliyah itu kembali saya lakukan ketika sebuah perjumpaan istimewa terjadi beberapa hari lalu. Ya, seorang teman dari masa lalu, yang kini telah berganti warna spiritual. Ia kini merupakan bagian dari komunitas Syi'i (pengamal Syi'ah) di negeri ini.

Tentu saja, ia masih hijau dalam belantara ke-syiahan. Ia masih pemula. Sebagai pemula, tentu saja, ia masih diselimuti euforia spritual, yang tentu saja sangat kental dengan doktrin-doktrin Syiah. Dengan sabar, saya mencoba menyimak berbagai uraiannya. Tak satupun, saya bantah.

Ternyata, kesabaran itu berbuah sebuah pemahaman baru tentang konstelasi Imam Mahdi versus Dajjal yang selama ini terkesan tumbuh sebagai "dongeng" (dalam tanda petik ya, pen) tentang akhir zaman. Memang, sebenarnya konstelasi yang dipaparkan teman saya itu bukan murni datang dari pemahaman Sy'iah. Namun, karena konsep Imam Mahdi datang dari komunitas Syi'ah, jadilah konstelasi itu seolah-olah datang dari Syi'ah. Konstelasi macam apa yang disampaikan teman saya itu?

Begini, ia yakin bahwa hingga saat ini baik Imam Mahdi maupun Dajjal masih hidup. Begitu juga Nabi Isa. Oke, kita kesampingkan dulu tentang Nabi Isa. Let's focus to the couple legend: Imam Mahdi dan Dajjal. Teman saya itu yakin bahwa konstelasi politik internasional sekarang ini pada akhirnya bermuara pada dua makhluk tersebut (jika memang mereka ada). Misalnya, soal nuklir Iran.

Kata teman saya, Amerika tidak berani menyerang Iran karena memperhitungkan keberadaan Imam Mahdi, yang hanya para elit ulama Iran saja yang mengetahuinya. Bahkan, ia yakin bahwa kemajuan teknologi Amerika saat ini tidak terlepas dari dukungan Kerajaan Dajjal yang ada di dasar laut Bermuda (ingat buku tentang Dajjal karangan Muhammad Isa Daud?)

Menurut yang ia yakini, Dajjal sebenarnya adalah Samiri, tokoh yang sezaman dengan Nabi Musa. Oleh karena itu, Amerika dipanggil sebagai Negeri Paman Sam. Kata Sam, menurutnya, diambil dari kata Samiri.

Terlalu panjang untuk ditulis semua di ruang blog yang terbatas ini. Namun, intinya teman saya yakin bahwa saat ini sedang terjadi perang dingin antara kubu Imam Mahdi dan kubu Samiri/Dajjal. Yang kelak, akan bermuara pada kemunculan Imam Mahdi untuk memimpin pertarungan dengan kubu Samiri.

Sungguh, jelas, saya tidak bisa memahami cara yang berfikir semacam paparan teman saya itu. Namun, saya juga tidak mau men-justifikasi bahwa keyakinan semacam itu sesat. Sikap ini saya tempuh sebagai wujud dari inklusivitas spiritual yang sudah saya jelaskan di awal jurnal/artikel ini. Toh, keyakinan teman saya itu dilandasi oleh niat mulia: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Semoga, cerita tentang inklusivitas dan dialog amaliah ini ada manfaatnya. Semoga juga, tidak menjadi bahan hujatan bagi orang-orang yang tidak bisa menerima inklusivitas spiritual.




14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tessi wrote on Feb 28
Om... inklusif itu apa?

:)))))
kalipaksi wrote on Feb 28, edited on Feb 28
tessi said
Om... inklusif itu apa?

:)))))
Jangan gitu, Tess. Pura-pura tidak tahu...ya?
tessi wrote on Feb 28
ini artikel tingkat tinggi Om ... ;))
fugue wrote on Feb 28
satu versi dari Jalaluddin Rumi tetntang Iblis, bahwa iblis seorang pecinta sejati yg rela dihukum masuk neraka karena tidak mau menundukkan dirinya selain kepa-Nya... yah... ini adalah versi lain dari sebuah cerita... yg seperti mas Sofwan katakan, kita tidak pernah bisa menjustifikasi sebuah kontemplasi... :))
brecs wrote on Feb 28
keyakinan teman saya itu dilandasi oleh niat mulia: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
ini poin pentingnya.
Ahad!, kata Bilal sang muadzin
seblat wrote on Feb 28
jadi pingin belajar syiah..:P
kalipaksi wrote on Feb 28
fugue said
satu versi dari Jalaluddin Rumi tetntang Iblis, bahwa iblis seorang pecinta sejati yg rela dihukum masuk neraka karena tidak mau menundukkan dirinya selain kepa-Nya... yah... ini adalah versi lain dari sebuah cerita... yg seperti mas Sofwan katakan, kita tidak pernah bisa menjustifikasi sebuah kontemplasi... :))
Aku udah baca tuh buku yang bahas iblis versi Rumi. Bagus banget. Cuma lupa judulnya. Waktu itu hanya fokus ke soal kisah tentang alasan iblis tidak mau tunduk kepada Adam karena ia hanya mau sujud kepada Allah.
ekakurnia wrote on Feb 28
saya juga mengimani adanya dajjal dan Imam Mahdi serta kemunculan Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal menjelang hari kiamat nanti, tapi saya bukan orang syiah loh.
kalipaksi wrote on Feb 28
saya juga mengimani adanya dajjal dan Imam Mahdi serta kemunculan Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal menjelang hari kiamat nanti, tapi saya bukan orang syiah loh.
Mengimani Dajjal dan Imam Mahdi kan memang tidak identik dengan Syiah, Pak Eka. :)
fugue wrote on Feb 29
Aku udah baca tuh buku yang bahas iblis versi Rumi. Bagus banget. Cuma lupa judulnya. Waktu itu hanya fokus ke soal kisah tentang alasan iblis tidak mau tunduk kepada Adam karena ia hanya mau sujud kepada Allah.
matsnawi klo nggak salah.
fugue wrote on Feb 29
menurut syi'ah, perintah Tuhan kpd Ibrahim utk menyembelih Ismail adlh simbol yg baru terpenuhi oleh cucu Rasulullah, Husayn Ibn Ali di Karbala saat dipenggal oleh Jendral Shimr atas perintah Kalifah Yazid Ibn Muawiyyah yg mereka sebut sbg tonggak martir Islam pertama, yg kemudian menjadi perayaan matam (self flagellation) sbg tanda duka para pengikutnya, 1802 para pengikut Kharijitiyah (Wahabbism/ Arab Saudi) membantai 200 org syi'ah yg sdg melakukan perayaan Muharram.
Selain mempercayai imam (ada yg 12 atau yg 7), syi'ah jg percaya dg Kitab Al-Fatimah, sebuah bimbingan dari Jibril terhadap Fatimah Bint Muhammad setelah Muhammad S.A.W wafat.

di dunia Sunni sendiri (H.R Bukhari, Muslim) jarang kita temui Hadits yg bersanadkan Ali Ibn Abi Thalib, ataupun Fatimah Bint' Muhammad.
dedyhbw wrote on Feb 29
Mas Kalipaksi,

Dalam tradisi Sunni, sebenarnya ada banyak hadits yang menceritakan pula akan munculnya Imam Mahdi, yang kemudian disusul dengan munculnya Dajjal. Setelah beberapa saat terjadi perang di antara dua kubu ini, perang baru selesai dengan terbunuhnya Dajjal di tangan Sayyidina 'Isa 'alayhissalaam. Sayyidina 'Isa saat itu tidaklah turun kembali sebagai Nabi, melainkan sebagai bagian dari ummat Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam yang menjalankan syariat Nabi Muhammad.

Perbedaan konsep Imam Mahdi antara Syi'ah Itsna 'Asyariyah dan Sunni adalah sebagai berikut:
Syi'ah beranggapan bahwa Imam Mahdi yang ditunggu teresebut lahir 868 AD, sebagai putra Imam ke-11, Hassan al-Askari. Menurut keyakian Syi'ah sekte Itsna 'Asyariah ini, Imam Mahdi di'ghayb-kan, hingga akan muncul lagi nanti. Saya kira ini yang menjadi keyakinan teman Mas Paksi tsb.
Menurut Sunni (Ahlussunnah wal Jama'ah), Imam Mahdi tersebut bernama Muhammad ibn 'Abdullah; seperti nama Nabi Muhammad s.a.w, dan nama ayahnya pun juga sama dengan nama ayahanda Nabi. Imam Muhammad al-Mahdi, menurut keyakinan Sunni, adalah Hasani dan Husayni, maksudnya dari garis keturunan Sayyidina Hasan ibn 'Ali, maupun Sayyidina Husayn ibn 'Ali, dua cucu Baginda Nabi sallallahu 'alayhi wasallam. Dan Imam Mahdi ini merupakan keturunan ke-40 dari baginda Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam; yang dilahirkan di akhir zaman (yaitu saat-saat ini); dan akan segera muncul setelah tanda-tanda lain terpenuhi, antara lain Perang Dunia ke-3 yang dalam bahasa Hadits disebut sebagai Al-Malhamah Kubra, yang terjadi antara dua golongan besar di dunia (Barat dan Timur). Perang ini tidak selesai hingga 3 bulan lamanya, karena kedua pihak memiliki kekuatan yang berimbang. Saat itulah, sekitar tanggal 10 Muharram, setelah 3 bulan perang berlangsung dahsyat tanpa henti (menurut hadits 6 dari 7 atau 5 dari 6 penduduk dunia akan mati); Imam Mahdi akan muncul di Makkah al-Mukarramah, ditandai takbir 3 kali: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, yang dapat terdengar di se-antero penjuru bumi.
Saat itu, seluruh perangkat teknologi akan berhenti, dan suatu zaman baru akan menjelang, suatu zaman di mana spiritualitas akan mendominasi, sebagaimana saat ini materialitas mendominasi dunia.

Singkatnya begitu. Nanti disambung lagi :-)

Wassalam,

Dedy
kalipaksi wrote on Mar 2
Atas penjelasannyam terima kasih, Pak. Wah, dengan begitu lebih jelas dinamika keyakinan tentang Imam Mahdi.
fugue wrote on Mar 2
sepengetahuan saya H.R Bukhari-Muslim yg dijadikan otoritas utama oleh pengikut Sunni tidak pernah bercerita ttg Imam Mahdi, hadith itu muncul dari riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi. Kecenderungan tentang peredaran Mahdisme di Sunni setelah pergantian dari kekalifahan Muawiyyah ke Abassiyah yg tampaknya ada unsur politik sebagai "counter" atas klaim Syi'ah ttg perihal mahdisme. Bahkan sampai saat ini ulama Sunni terbagi menjadi dua yg setuju tentang mahdisme dan yang tidak setuju.

perihal akhir jaman dengan penuturan serupa bisa kita temukan di Jerussalem Bible dan Quelle Gospel, bahkan Gospel Didache (d. 2 M) memiliki penceritaan tentang akhir jaman dan kemunculan Dajjal persis seperti kebanyakan riwayat hadith. Tampaknya setiap keyakinan memiliki akar tradisi yg sama yaitu datangnya juru selamat dengan interpretasi yg berbeda pada setiap keyakinan.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help