Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Gito Rollies wafat. Mata batin saya langsung meneroka, "Ah....engkau memang orang yang beruntung Mas Gito. Kau akhiri hidupmu dalam gelimang iman dan keyakinan. Setidaknya, itu yang saya tahu." Saya pun kemudian mencoba mawas diri. Akankah hidup saya kelak bisa berakhir dalam keadaan
husnu al-khatimah. Juga, hidup anda teman-temanku.
Siapa yang tidak kenal mendiang Gito. Ia dulu penyanyi rock yang sempat menjadi ikon kebengalan anak muda. "Mick Jagger itu dulu sunnah saya. Mabok, main cewek, dan dunia kelam itulah saya," kata Gito suatu ketika dalam sebuah ceramah. "Tapi, kini sunnah saya Rasulullah," lanjutnya.
Sungguh, saya selalu berjuang untuk menahan untuk tidak meneteskan air mata ketika mendengar lagu religi yang dinyanyikan Mas Gito. Judulnya, "
Hanya Pada-Mu Aku Bergantung". Bait-bait dari lirik lagu itu, yang masih saya ingat di antaranya:
"Ku mohon ampunan-Mu."
"Ya...Allah ya Tuhanku"
"Aku insan biasa"
"Yang, tak luput dari dosa-dosa"
Padahal, saya termasuk tipe manusia yang sulit menangis. Lagu ini pernah menjadi
soundtrack sinetron religi (
jika tidak salah di RCTI). Setiap mendengar lagu itu (yang dinyanyikan oleh Mas Gito), saya selalu merinding. Entah, mungkin itu karena aura suara Mas Gito yang dipenuhi aura taubat (setidaknya ketika melantunkan lagu tersebut). Apalagi, dalam proses rekaman, lagu itu direkam ketika ia sedang sakit; dari atas tempat tidurnya sekitar dua tahun silam.
Saya lalu teringat pesan seorang sahabat spiritual. Ia bilang, hati manusia itu seperti cermin. Hanya cermin yang bersih sajalah yang bisa memantulkan sinar dengan sempurna. Cermin yang kusam, dipenuhi debu, tentu saja tidak. Begitu pula hati."
Dari satu sisi itu saja, saya yakin bahwa Mas Gito seorang dengan hati bersih. Buktinya, ia bisa memantulkan aura taubatnya kepada orang lain. Setidaknya kepada saya.
Mas Gito, sungguh saya iri padamu. Engkau kembali kepada-Nya dalam ketenangan hati dan batin. Semoga, perjalanan hidupmu bisa menjadi pesan moral bagi kami yang masih hidup.
Selamat jalan, Mas Gito. Terima kasih untuk pesan yang tak ternilai harganya.