sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Apr 3, '08 5:15 AM for everyone
Andy F Noya terkenal sebagai host Kick Andy di Metro TV, tapi pekan lalu justru ia duduk sebagai bintang tamu. Bukan di acara Kick Andy memang, melainkan talkshow di jaringan TV kabel, Q-TV. Yang menjadi host-nya: Peter Gontha, mantan orang kuat RCTI.

"Hahahahahaha..............jadi ternyata anda tidak memiliki selembar  pun ijazah kesarjanaan," Peter Gontha bereaksi atas pengakuan Andy. Yups, ternyata Andy yang sangat cerdas tampil sebagai presenter dan host pada Kick Andy, dan juga seorang Pemimpin Redaksi itu ternyata tak lulus sarjana.

Di tempat lain, seorang begawan budaya Sunda sedang asyik membahas bukunya yang berjudul: Hidup Tanpa Ijazah. Dia adalah Ajip Rosidi, yang menolak mengikuti ujian akhir SMA. Naif memang, tapi itulah faktanya.

Dua kenyataan tadi kembali menggulirkan pertanyaan menggelitik: Bisakah kita hidup atau berkarir tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah?

Kita pernah mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah. Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkannya menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.


Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dan dai Aa Gym. Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM, selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi). Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses.

Ajip Rosidi bahkan lebih `radikal' Iagi.dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah.  "Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah". Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

Mengapa tiba-tiba saya membahas hal ini? Tidak lain karena keprihatinan saya dengan budaya dunia profesional di negeri ini yang masih sangat mengagungkan ijazah sebagai parameter utama. Bukan, jam terbang dan portofolio real seseorang.

Teman saya, yang kini Chief Editor (Kepala Biro) Kantor Berita Foto European Photopress Agency (EPA) di Indonesia mengawali karirnya sebagai fotografer tanpa ijazah (meski ia seorang sarjana Biologi). Bahkan, hingga di usianya yang mendekati 40 tahun, belum pernah ia pegang ijazah kesarjanaannya itu karena ia memang tidak pernah mengambil ijazahnya. Namun, kantor berita foto AFP, yang menjadi tempat pertamanya berkiprah sebagai fotografer, tak mempedulikan itu.

Kemarin, untuk penulisan beberapa buku, kami para penulis dimintai ijazah. Kami paham betul, itu semata demi alasan administratif, belaka. Tapi, naif, jika itu kemudian menggugurkan profesionalisme yang sudah dirintis.


Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin pasti Anda bisa menjawab dengan tepat. 

25 CommentsChronological   Reverse   Threaded
thetrueideas wrote on Apr 3
hidup tanpa ijazah tentu bisa, namun saat ini ijazah adalah prasyarat utama khususnya jika mencari pekerjaan sebagai 'orang kantoran'
ekakurnia wrote on Apr 3
menjelang pemilu banyak orang yang nyari2 ijazah s-1 aspal utk jadi anggota dewan-> berarti bagi anggota dewan memiliki ijazah s1 adalah tolak ukurnya menuju kesuksesan (
agk1 wrote on Apr 3
Judulnya bisa diperpanjang: "Hidup Tanpa Ijazah Palsu" :-)) sekarang banyak sekali org yg tak tahu malu memajang gelar hasil beli ijzah palsunya....

Orientasi pada gelar memang tdk 'bijak'. Tapi tak tahu malu memasang gelar palsu itu ancyur...
pipipego wrote on Apr 3
kita cuman bisa milih mengikuti perubahan jaman atau tergilas oleh perubahan jaman
imansoe wrote on Apr 3
hiii..... hanya tinggal skripsi...
tp krn sudah tdk nyaman lagi.. tdk saya lanjutkan..

dan msh bs bekerja ni..:)
kalipaksi wrote on Apr 3
agk1 said
Judulnya bisa diperpanjang: "Hidup Tanpa Ijazah Palsu" :-)) sekarang banyak sekali org yg tak tahu malu memajang gelar hasil beli ijzah palsunya....

Orientasi pada gelar memang tdk 'bijak'. Tapi tak tahu malu memasang gelar palsu itu ancyur...
Nanti banyak yang tersinggung, Pak Dosen.
kalipaksi wrote on Apr 3
imansoe said
hiii..... hanya tinggal skripsi...
tp krn sudah tdk nyaman lagi.. tdk saya lanjutkan..

dan msh bs bekerja ni..:)
Ya...kalau ada kesempatan selesaikan saja, Bos. Tanggung tuh..................
imansoe wrote on Apr 3
kalau ada kesempatan selesaikan saja, Bos. Tanggung tuh..................
udh lewat masanya..:)

padahal kl nyarain orang kudu kuliah ma ngelarin kuliah..
saya senidir nggak kelar..:p
ariefdestika wrote on Apr 3
akhirnya ada juga yg ngebahas......thanx boss sofwan.....jadi inget dulu pas jaman kantoran...pas diinterview lsg nanya are you overseas graduate....gue jawab aja lsg...oh im graduate from overmountain aka west java hahahahahhaah.......penyadaran akan bagaimana seorang dilihat dari hasil kerjanya.....kalo diliat2 ya...liat calon2 di pilkada ....titelnya pada panjang2....heheheheh...tapi nga jelas bener ato nga..kalo ngeliat dari hasil kerjanya hehehehheheh...sorry sedikit sinis...hehehheheheheh.....
kalipaksi wrote on Apr 3, edited on Apr 3
akhirnya ada juga yg ngebahas......thanx boss sofwan.....jadi inget dulu pas jaman kantoran...pas diinterview lsg nanya are you overseas graduate....gue jawab aja lsg...oh im graduate from overmountain aka west java hahahahahhaah.......penyadaran akan bagaimana seorang dilihat dari hasil kerjanya.....kalo diliat2 ya...liat calon2 di pilkada ....titelnya pada panjang2....heheheheh...tapi nga jelas bener ato nga..kalo ngeliat dari hasil kerjanya hehehehheheh...sorry sedikit sinis...hehehheheheheh.....
Rief, ini penting agar orang yang tidak berijazah tidak di-anderestimet-kan (maksudnya: under estimate)
abhicom2001 wrote on Apr 3
gimana ya mas, ijazah itu bukti paling gampang yang bs dibuktikan ketika keahlian dipertanyakan, namun belum tentu kongkrit....tp yaaa (sekali lagi) gimana ya hehehe.

Tentunya beda bila di depan saya berdiri yang memang bener bener sudah terbukti kepiawaiannya selama ini walau tanpa ijazah.
kalipaksi wrote on Apr 3
gimana ya mas, ijazah itu bukti paling gampang yang bs dibuktikan ketika keahlian dipertanyakan, namun belum tentu kongkrit....tp yaaa (sekali lagi) gimana ya hehehe.

Tentunya beda bila di depan saya berdiri yang memang bener bener sudah terbukti kepiawaiannya selama ini walau tanpa ijazah.
Yups...jadi semacam alat ukur dan instrumen penyaringan tahap awal begitu ya.:) Siip.
abhicom2001 wrote on Apr 3
nah iya betul...saringan tahap 1. Tapi seperti yang org org bilang, langkah pertama adalah yang paling berat langkah berikutnya akan mengikuti saja...katanya loh itu ;))
fightforfreedom wrote on Apr 3
kalipaksi wrote
Mengapa tiba-tiba saya membahas hal ini? Tidak lain karena keprihatinan saya dengan budaya dunia profesional di negeri ini yang masih sangat mengagungkan ijazah sebagai parameter utama. Bukan, jam terbang dan portofolio real seseorang.
Saya juga ikut prihatin, mas. Apalagi kalau sudah kentara kental dg nuansa kepentingan atau politik.

Anyway, saya sepakat, mas. Mereka yg "hidup tanpa ijazah" & ngga under-estimate justru lebih KUAT FOKUS-nya shg sukses sbg entrepreneur, dan akhirnya menghidupi mrk yg "hidup dg berijazah".
seblat wrote on Apr 4
hidup tanpa ijazah..hmm..
yang berbahaya kalau "hidup tanpa malu"..hehehe
bintangkehidupan wrote on Apr 4
aku sih setuju aja hidup tanpa ijasah.... soale yang diperlukan untuk dunia jaman sekarang itu lebbih baik kebijakasanaan dari pada kepandaian...cuman masalahnya sekarang berapa persen orang yang bisa hidup tanpa ijasah itu secara layak? kan dilematis yach...
eh, tapi banyak lho orang yang bisa hidup tanpa ijasah, cukup beli gelar, pinjam ijasah, dll...ssssttt jangan bilang-bilang kalo mereka itu pejabat
susieutomo wrote on Apr 4
Jadi ingat kalo dapet undangan manten nih. Deretan titelnya ikut ijab qobul.....................
kalipaksi wrote on Apr 5
Jadi ingat kalo dapet undangan manten nih. Deretan titelnya ikut ijab qobul.....................
Duh ...jangan diungkit2 dong mbak. :)
ariefdestika wrote on Apr 5
Rief, ini penting agar orang yang tidak berijazah tidak di-anderestimet-kan (maksudnya: under estimate)
bener boss......kebetulan juga sering ngalamin heheheheh....btw thanx buat artikelnya.....
deyoyok wrote on Apr 8
hmm...saya punya teman tidak berijazah, jadinya dia susah nyari kerja :(

wah..sayang...andai dia mau buka lapangan kerja sendiri....
kalipaksi wrote on Apr 8
deyoyok said
hmm...saya punya teman tidak berijazah, jadinya dia susah nyari kerja :(

wah..sayang...andai dia mau buka lapangan kerja sendiri....
"andai dia mau buka lapangan kerja sendiri". Nah, itu solusinya, Bos.
mimie2007 wrote on Apr 8
Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan
bisa....asal memiliki keinginan kuat dan mau belajar dengan sungguh-sungguh....
ijazah bukan segalanya.
myfirecracker wrote on Apr 16
Oh Bang Andy, senior gw tuh....ahahahhahaha
kalipaksi wrote on Apr 16
Oh Bang Andy, senior gw tuh....ahahahhahaha
Senior di mana nie? :)
rigadannis wrote on Jul 20
btul...instrumen pertama buat masuk dunia kerja....ijazah jadi begitu penting....tapi kalo semua orang gak berijazah membuka lapangan kerja, yang jadi pekerja/pegawainya sapa?
orang yang berijazah?
sah-sah aja sih....trus apresiasi terhadap dunia pendidikan gimana?
yang penting "how to manage and how to lead"
argue me if i'm wrong....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help