Posted by by: on Jun 2, '07 10:15 PM for everyone Kota adalah penghuninya, dan, mengelola kota berarti mengelola agar penghuninya dapat melakukan berbagai aktivitasnya sehari-hari.
Banyak kota di dunia telah mampu ’memanjakan’ warganya dengan fasilitas publik yang dibutuhkan. Transportasi publik yang memadai, ruang terbuka kota yang nyaman, seperti taman kota, jalur pejalan kaki (termasuk untuk penyandang cacat), jalur sepeda, dan fasilitas publik lainnya, telah banyak ditemui di banyak kota di berbagai belahan dunia. Berbeda dengan fasilitas yang bersifat pribadi, fasilitas publik merupakan fasilitas yang digunakan secara bersama untuk kepentingan bersama pula. Wacana tentang kebutuhan akan ruang publik telah berkembang cukup lama. Kevin Lynch, dalam bukunya berjudul The Image of The City, yang sudah ditulis sejak lebih dari 40 tahun yang lalu, telah merumuskan adanya 5 elemen pokok untuk membangun citra sebuah kota, dan kesemuanya terkait dengan kehadirannya di ruang publik kota. Kelima elemen dimaksud terdiri dari pathway, distric, edge, landmark, dan node. Dan, dewasa ini, banyak kota di belahan dunia, tak hanya di negara-negara Barat tapi bahkan di beberapa negara tetangga, ruang publik telah mampu dihadirkan dengan sangat cerdik oleh para pengelola kota, para arsitek dan urban designer-nya, serta mendapat apresiasi dari warganya. Beijing, yang relatif baru berkembang dalam tiga puluh tahun terakhir, ternyata telah dengan sangat arif memperhatikan kebutuhan warganya akan ruang publik ini. Tengok saja kehadiran lapangan Tiananmen, maupun fasilitas pejalan kaki, yang selain sangat lapang, juga telah memperhatikan kepentingan para penyandang cacat. Kota-kota lainnya, seperti Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, New Delhi, dan masih banyak kota di dunia, juga telah menerapkan kebutuhan sejenis. Di Indonesia, kebutuhan ruang publik juga telah banyak dipahami, baik di kalangan para pakar, perguruan tinggi, konsultan, dan bahkan para pengelola kota. Tapi, entah mengapa, hal ini masih sebatas wacana, meskipun semua pihak telah sepakat menyatakan akan pentingnya kehadiran suatu ruang publik yang manusiawi di masing-masing kotanya. Kita bukannya belum memulai soal ini. Jalan Malioboro di Yogya dan jalan Thamrin-Sudirman, misalnya, adalah di antara sedikit contohnya. Namun, memang, penerapannya ternyata masih jauh dari harapan. Berbagai rangkaian foto berikut mudah-mudahan bisa menggugah kesadaran kita, termasuk pemerintah kota, untuk segera menghadirkan ruang publik kota sebagai kebutuhan nyata dari warganya.
 | di Surabaya ada, ruang publik yang oks yaitu di taman bungkul (baru direnovasi).rencananya mau dikasih wifi gitu deh.gak tau deh udah jadi pa belum. tapi okelah, itu artinya surabaya udah memperlihatkan pedulinya dengan ruang publik. ruang publik di luar negeri emang suka bikin mupeng.mungkin pengaruh harga lahan kali ya?namanya juga tengah kota kan?pemerintah kita agaknya takut kalo harus invest ruang publik. cost nya gede, baik buat pembuatan maupun perawatan. belum lagi tawaran inventasi kayak mall atau perumahan yang lebih menjanjikan. Nah loh! belum lagi tar kalo ada ruang publik masalah baru muncul kayak PKL, dll. pemerintah pasti mikir2.
Yah, Andai saja pemerintah kita peduli dan sadar akan pentingnya ruang publik di kota. |
 | kalipaksi wrote on Oct 23, '07, edited on Oct 23, '07 akan segera saya posting hasil liputan kami di Taman Bungkul |
| |