sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Feb 5, '08 1:53 AM for everyone
Category:Other
Saya bukan kader PKS, tapi ketika membaca bahwa partai kader ini akan menjadi lebih inklusif, hati saya ikut berbahagia. Seperti tertulis pada blog multiply Bung Suryama (anggota DPR dari PKS), PKS akan meningkatkan calon legislatif di luar kader di setiap daerah pemilihan. Bahkan, calon nonmuslim (meski jumlahnya akan sangat proporsional).

Kebijakan ini sungguh memberi citra baru kepada PKS, yang selama ini terkesan sangat eksklusif. Memang, menurut seorang petinggi PKS, kesan eksklusif PKS itu selama ini tercipta karena pemahaman ultra-kanan yang menjadi ciri khas kader-kadernya, terutama yang berangkat dari gerakan tarbiyah.

Saya belum tahu pasti, bagaimana reaksi akar rumput kader PKS menyikapi kebijakan ini mengingat selama ini terkesan anti-sekali dengan pluralisme. Padahal, inklusifisme dan pluralisme ibarat saudara kembar yang saling bertautan satu sama lainnya.

Mungkin juga, pendapat saya ini salah, karena bisa saja inklusif dalam benak saya berbeda dengan inklusif versi Mukernas PKS. Namun, yang saya yakini dan saya rasakan, ruh untuk menjadi manusia yang menghormati keberagaman (pluralisme), selalu bermula dari ruh untuk menjadi manusia yang inklusif. Dalam konteks ini, seorang manusia yang inklusif selalu bersedia berdialog dan bertukar posisi dengan kontra-patriotnya sebelum memutuskan atau memvonis sesuatu, misalnya "sesat", "kafir", atau munafiq, dsb.

Namun, tentu saja, di mata saya manuver ini bukannya tanpa resiko, misalnya pertanyaan dari para kader: mengapa harus mendahulukan orang di luar kader? atau nonmuslim? Dalam level yang lebih tinggi, bisa saja muncul pertanyaan: apakah platform partai sudah bergerak? Yang jelas, semoga saja, kebijakan ini akan lebih menjadikan PKS sebagai partai yang lebih terbuka, seperti PAN dan PKB.

Oh ya, semoga saja tulisan ini tidak dicap sebagai "manuver" kontra PKS oleh teman-teman yang tidak seide. Sungguh, ini hanya sebuah analisis yang lahir dari euforia yang tulus. Tanpa pretensi, dan tanpa embel-embel politis.

Salam.....



21 CommentsChronological   Reverse   Threaded
cantigicientaku wrote on Feb 5
kira-kira bagaimana kontrol partai bagi kader yang bukan dari orang tarbiyah ya?
brecs wrote on Feb 5
semoga bukan sekedar strategi meraup suara, sehingga menjadi kabar baik bagi keindonesiaan.

bila perubahan ini benar2 substansial, saya ucapkan selamat kepada PKS!
kalipaksi wrote on Feb 5
brecs said
semoga bukan sekedar strategi meraup suara, sehingga menjadi kabar baik bagi keindonesiaan.

bila perubahan ini benar2 substansial, saya ucapkan selamat kepada PKS!
semoga...........
hayat wrote on Feb 5
bukannya sensitif atau anti dengan dunia politik atau dengan apa yang dibawa di dalam 'gerbong' kepartaian... tapi apapun namanya politik penuh dengan intrik, yang tujuan utamanya 'kekuasaan'

PKS inklusif??? wow ada pergeseran rupanya... bukankah kepartaian itu sendiri sudah menjadi sebuah eklusifitas?
jadi teringat pesan Imam Ahmad Hambal Radhiallahu Anhu: 'audzubillahi minasyiyasah aku berlindung kepada Allah Subhanahu Wata'ala dari godaan syiyasah [politik, red.]
agk1 wrote on Feb 5
Kata 'inklusif' sebenarnya tidak tepat dalam hal ini. Dari segi ideologi, PKS tak mungkin bisa inklusif. Dr segi strategi politik jangka pendek, bisa saja partai ini membidik sebanyak mungkin pemilih (catch-all).

Dlm masyarakat majemuk seperti Indonesia, partai memang cenderung catch-all -- kalau mau bertahan hidup.
kalipaksi wrote on Feb 5, edited on Feb 5
setidaknya, momentum ini (jika memang interpretasi saya tidak bias dan tidak salah) menjadi sinyal bagi sebagian kader PKS yang selama ini bersikap ultra-kanan dengan atas nama partai bisa "melunakkan" sikap eksklusif sepihak --yang selama ini menjadi salah satu buah dari ideologi partai yang memang berdimensi eksklusif.
sepasangmatabola wrote on Feb 5
brecs said
semoga bukan sekedar strategi meraup suara
Halah, emang apa lagi alasan PKS kalo bukan itu? Lha wong belum lama ini mereka terlibat dalam aksi pengusiran kaum Ahmadiyyah kok? :P

kalipaksi wrote on Feb 5
Halah, emang apa lagi alasan PKS kalo bukan itu? Lha wong belum lama ini mereka terlibat dalam aksi pengusiran kaum Ahmadiyyah kok? :P

mungkin yang terlibat itu massa/kader akar rumput. Saya blm tahu pasti sikap resmi PKS tentang Ahmadiyah...
fightforfreedom wrote on Feb 6
Mas, anggota DPR dari PKS dalam kalimat di atas yg dimaksud Susrama atau Suryama? setahu saya Pak Suryama Sastra.
kalipaksi wrote on Feb 6
Mas, anggota DPR dari PKS dalam kalimat di atas yg dimaksud Susrama atau Suryama? setahu saya Pak Suryama Sastra.
thanks atas ralatnya.....betul Suryama. Langsung aku koreksi ya...
nini3l wrote on Feb 6
thanks atas ralatnya.....betul Suryama. Langsung aku koreksi ya...
alamat blognya?
fugue wrote on Feb 6
selamat untuk PKS, dan mari kita lihat kelanjutannya saja he he he...
kalipaksi wrote on Feb 11
fugue said
selamat untuk PKS, dan mari kita lihat kelanjutannya saja he he he...
Bahkan, Tifatul Sembiring sudah menyatakan bahwa pluralitas memang sudah menjadi kenyataan di negeri ini yang harus direspon oleh PKS
brecs wrote on Feb 11
tapi kok di indopos online beberapa hari yang lalu ada bantahannya ya Mas? mereka katakan tak akan menjadi partai terbuka. katanya justru akan meresahkan para kader gitu....
kalipaksi wrote on Feb 11, edited on Feb 11
brecs said
tapi kok di indopos online beberapa hari yang lalu ada bantahannya ya Mas? mereka katakan tak akan menjadi partai terbuka. katanya justru akan meresahkan para kader gitu....
Coba baca Opini di Kompas hari ini di link berikut ini:
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.11.02524437&channel=2&mn=11&idx=11
Ditulis oleh Alfan Alfian. Isinya, nggak beda jauh dengan posting ini.
Dikutip juga pernyataan Fachri Hamzah sbb:"Menurut aktivis PKS, Fahri Hamzah, Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminudin mengatakan, siapa yang tidak mengakui keberagaman akan hancur. PKS hendak mengesankan partainya tidak antipluralitas."

Wah, jika Ustadz Hilmi sudah bertitah seperti itu berarti suatu hal yang luar biasa.
brecs wrote on Feb 11
ok, meluncurrr... tfs ya Mas
kalipaksi wrote on Feb 11, edited on Feb 11
TFS...meluncur juga ke sana. :)
Ternyata isinya klarifikasi dari Bung Tifatul Sembiring. Jadi nggak mudeng? Mana dong yang benar. Coz, aku tanya temanku yang meliput di Bali, katanya memang wacana inklusifitas itu bergulir di Mukernas Bali. Yo wess.
fugue wrote on Feb 11
wah, wah... tampaknya ada kesimpangsiuran di tubuh PKS sendiri nih... ya mudah-mudahan lah masih konsisten dengan semboyannya atau dengan apapun tujuan PKS.
kalipaksi wrote on Feb 11, edited on Feb 13
Quotation ini saya kutip di KOMPAS hari ini (12 Feb 2008): "Di lobi dasar ini pula Kompas bertemu dan berbicara tentang pluralitas budaya PKS dengan Presiden PKS Tifatul Sembiring, akhir Januari lalu. Sambil duduk di tangga yang ada di lobi hotel, dan mengamati peserta mukernas yang datang dari seluruh wilayah Indonesia, Tifatul menegaskan, pluralitas dalam budaya sudah diajarkan Nabi Muhammad SAW sejak awal.

”Rasanya tidak ada kader PKS yang menolak pluralitas dalam budaya,” ujar Tifatul, mengawali pembicaraan.

menurut Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin, kalau ada yang menolak keberagaman yang menjadi sunatullah atau kehendak Allah, mereka itu pasti akan hancur.

link artikel tersebut:
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.12.02495624&channel=2&mn=12&idx=12
yusa01 wrote on Apr 29
PKS, inklusif...??? wah sulit juga untuk berkomentar. Klo melihat komentar di atas ada yang subyektif dan obyektif. Secara etika politik, hal itu disahkan (bicara kaidah politik secara akademis yah) mmm tapi secara empiris apa yang dilakukan PKS (inkulisif) bisa berbahaya bagi PKS sendiri jika tidak punya dasar partai yang kuat, beda halnya sama Golkar yang sudah mempunya basis akar rumput yang luat.
Secara track-recordnya pun berbeda, Nah klo melihat dari perspektif demokrasi, suatu eksklusifitas bukanlah suatu hal yang tabu bagi sebuah partai. Suatu partai punya suatu pola pendidikan politik dan sosialisasi politik yang tentunya dilatarbelakangi oleh paham atau ideologi yang dianut.
Tetapi jika teman2 melihat bahwa suatu inklusifitas dari sudut kaca mata positif lainnya, maka ada benarnya. Sebab ternyata demokrasi pun sebenarnya berbicara tentang kemajemukan itu sendiri, tetapi apakah cocok buat suatu partai...?

Ayo...kita buka forum ilmiah, jangan asal ceplas-ceplos kayak cepot...!!! sorry nih bos
setidaknya kita kan manusia berakal, maka gunakanlah akal kita untuk menganalisis apakah inklusifitas itu bagus atau tidak.

Saran yang sifatnya membangun akan sangat berguna bagi bangsa ini. Eit jangan pake emosi yah.
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help