sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Mar 5, '08 3:10 AM for everyone
Category:Other
Membaca berita singkat di Koran Tempo edisi Selasa (4/3) kemarin, saya menjadi tambah mudeng mengapa sebagian besar stasiun televisi di Indonesia lebih memilih untuk melanggengkan memperbanyak tayangan sinetron berseri, meski mutunya tidak begitu bagus daripada memproduksi program acara news semacam: Jejak Petualang, National Geographic, sains, dsb. Yups, lagi-lagi ini soal rating.

Rating — dihitung oleh lembaga riset independen — adalah ukuran yang menjelaskan berapa banyak penonton menyaksikan acara televisi tertentu. Celakanya, rating lalu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan suatu program, karena berbanding lurus dengan kesuksesan menjaring iklan. Maka jangan heran kalau pengembangan program acara televisi — mulai dari perencanaan sampai produksi dan pemasaran — umumnya dilakukan dengan motif meraup rating sebesar-besarnya. Terutama untuk jam-jam tayang utama (prime time). Di sini hukumnya tegas: program yang sukses adalah program yang rating-nya tinggi. Tidak peduli bagaimana kualitasnya, masa bodoh karya asli atau jiplakan. Dengan kata lain, rating menjadi satu-satunya kebenaran tunggal, seperti eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia beragama.

Masih terkait dengan rating, Marketing and Communication Executive AGB Nielsen Media research Andini Wijendaru mengatakan, data dua bulan pertama 2008 belum menunjukkan perubahan pola kepemirsaan masyarakat. Penonton masih memilih tayangan kategori series and movie, ketimbang berita dan informasi.

Sedihnya, televisi berita ternyata belum menjadi pilihan pemirsa. Dua news television yakni TVOne dan Metro TV masih menjadi juru kunci perolehan rating televisi swasta nasional.

“Masih perlu waktu bagi televisi yang menawarkan program berita untuk merebut perhatian pemirsa,” katanya. Riset AGB Nielsen Media Research Januari 2008 di empat kota besar di Jawa menunjukkan, Metro TV berada di posisi buncit dari 10 tasiun televisi swasta nasional dengan rating 0,3 persen.

Bahkan, rating anak usaha Media Group ini turun menjadi 0,2 persen pada Februari 2008. Sepanjang 2007, Metro TV di posisi ke-10 dengan rata-rata rating 0,2 persen. Program Metro TV didominasi berita dan informasi dengan porsi masing-masing 43 persen dan 35 persen.

Nasib yang sama dialami TVOne, yang sebelum 14 Februari bernama Lativi. Rating stasiun televisi yang dikuasai oleh Grup Bakrie ini cenderung melorot sejak berubah menjadi news and sport television. Rating Lativi 0,4 persen pada 1-16 Februari. Ketika berubah menjadi TVOne ratingnya 0,2 persen, setingkat di atas Metro TV. Padahal, pada Januari 2008 rating Lativi 0,9 persen (Posisi ke-6). Tahun lalu Lativi bertengger di posisi ke-8 dengan rating 0,8 persen. Ketika itu tayangannya dikuasai film dan series.

Hampir 50 persen waktu pemirsa pada 2007 dihabiskan untuk tayangan series dan film. Akibatnya, RCTI, SCTV, serta Indosiar yang banyak menawarkan program jenis ini menempati posisi rating teratas hingga sekarang. Mereka itu hanya tukar menukar posisi.

Wah.....?????




17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kopiradix wrote on Mar 5
Padahal yang baca berita cantik-cantik ya Mas. he he he
decy wrote on Mar 5
ya semoga metro tv dan tv one teuteup konsisten ya...
newafifkhazin wrote on Mar 5
AGB Nielsen Media research kok kayaknya ga begitu independen... gue curiga mereka ada "main" dengan para produser sinetron..
kalipaksi wrote on Mar 5
Padahal yang baca berita cantik-cantik ya Mas. he he he
Wah....Om Nahar ternyata sangat memperhatikan poin yang satu itu. Hehehehehe...
kalipaksi wrote on Mar 5
AGB Nielsen Media research kok kayaknya ga begitu independen... gue curiga mereka ada "main" dengan para produser sinetron..
Veev..........ntar kita mau kirim email ke AGB Nielsen Media research supaya ngitung rating rumahafif (newafifkhazin), saya yakin masih di atas sinetron n infotainment. Yakin 100% :)

kalipaksi wrote on Mar 5
decy said
ya semoga metro tv dan tv one teuteup konsisten ya...
Someday.....akan tiba masanya bagi mereka untuk berjaya. Saya yakin itu.
brecs wrote on Mar 5
ada nggak ya, lembaga yang mengaudit lembaga tukang rating itu?
darmasdt wrote on Mar 5
brecs said
ada nggak ya, lembaga yang mengaudit lembaga tukang rating itu?
nah itu... gimana tuhhhh
valid gak ya itu?
kopiradix wrote on Mar 5
Wah....Om Nahar ternyata sangat memperhatikan poin yang satu itu. Hehehehehe...
Soalnya mereka (para pembaca berita) enggak kalah cantik dibandingkan artis-artis sinetron, he he he
kalipaksi wrote on Mar 5
brecs said
ada nggak ya, lembaga yang mengaudit lembaga tukang rating itu?
semestinya ada ya, Om. Atau, jangan-jangan lembaga rating itu cuma lembaga akal-akalan saja.?
tianarief wrote on Mar 5
kita tinggal pilih, mau pilih cara instan (ngejar rating, tayangkan sinetron, kualitas seadanya), atau menayangkan acara-acara berkualitas --dengan resiko ratingnya rendah, karena tak cocok dengan selera orang kebanyakan. :D
kalipaksi wrote on Mar 5
kita tinggal pilih, mau pilih cara instan (ngejar rating, tayangkan sinetron, kualitas seadanya), atau menayangkan acara-acara berkualitas --dengan resiko ratingnya rendah, karena tak cocok dengan selera orang kebanyakan. :D
Bingung. Jadi seperti menjawab pertanyaan: mana duluan: telur atau ayam? Mana duluan, acara bermutu akan mendidik masyarakat sehingga bisa bermutu juga, atau tunggu masyarakat bermutu baru bikin program televisi bermutu.
arsenalnumberonefans wrote on Mar 5
ibu ibu emang males nonton berita ,palagi berita kenaikan harga kedelai,minyak goreng, daging de el el...hehehehe
thefool wrote on Mar 5
Ada kabar (burung) dari sisi lain mengenai rating ini. Bisa dilihat di multiply-nya Pak Iman.
http://bapakranger.multiply.com/journal/item/164/Nyambung_posting-an_gw_sebelumnya_Rating_Palsu

Intinya: kita seharusnya mempertanyakan kesahihan hasil rating dari peoplemeter-nya NMRI. Kenapa ini yang jadi acuan utama (dan satu-satunya)? Padahal kita hanya mengandalkan klaim dari pihak NMRI-nya saja.
kalipaksi wrote on Mar 5
thefool said
Ada kabar (burung) dari sisi lain mengenai rating ini. Bisa dilihat di multiply-nya Pak Iman.
http://bapakranger.multiply.com/journal/item/164/Nyambung_posting-an_gw_sebelumnya_Rating_Palsu

Intinya: kita seharusnya mempertanyakan kesahihan hasil rating dari peoplemeter-nya NMRI. Kenapa ini yang jadi acuan utama (dan satu-satunya)? Padahal kita hanya mengandalkan klaim dari pihak NMRI-nya saja.
TFS....segera meluncur.
suasanasegar71 wrote on May 7
lha tahunya berapa banyak pemirsa yang menonton suatu tayangan ..dari mana ???
kalipaksi wrote on May 7
lha tahunya berapa banyak pemirsa yang menonton suatu tayangan ..dari mana ???
Konon sih dari survai dengan metode sampling yang dilakukan lembaga perating itu... :)
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help