Posted by by: on Jun 14, '07 9:59 PM for everyone  Pertemuan lintas tokoh agama kembali digelar. Kali ini di Jimbaran, Bali, yang berakhir hari Selasa (12/6) lalu. Pertemuan itu dinamai “konferensi religi” dengan tema: Toleransi antaragama: sebuah rahmat bagi semua ciptaan. Yang hadir di antaranya: Gus Dur, Syafii Ma’arif (muslim), Sri Ravishankar (tokoh Hindu dari India), Franz Magnis Suseno, Yoichi Kadawa, dan Rabi Daniel Landez (dari Israel). Salah satu rekomendari dari pertemuan itu: stop peperangan dan kekerasan dengan simbol agama!
Memang, di dunia ini, setiap agama memiliki pemeluk yang fanatik, baik di kalangan muslim, Hindu, Nasrani, juga Yahudi. Begitu fanatiknya, akhirnya satu sama lain saling merasa paling suci di dunia ini. Saya seorang muslim. Soal ketaatan, insya Allah tidak usah diragukan. Namun demikian, biarlah Tuhan yang menilai seberapa tinggi tingkat ketaatan itu.
Suatu ketika, dalam kapasitas sebagai jurnalis sebuah media massa bergenre Islam, saya berdiskusi dengan dua tokoh agama Nasrani: Franz Magnis Suseno (Katolik) dan Pdt. Andreas Tendean (Gereja Koinonia). Dalam sebuah dialog, saya bertanya kepada Romo Magnis (panggilan gaul-nya Franz Magnis Suseno? “Kenapa masih saja selalu ada peperangan dan kekerasan dengan alasan keagamaan?” Jawab Romo Magnis, “karena setiap kitab suci agama-agama samawi memang mendoktrin pemeluknya untuk merasa paling benar, dan secara implisit ‘membenarkan’ terjadinya peperangan untuk membela klaim ‘paling benar’ itu.
Nah, ketika pada tahun 2005 saya ke Ambon untuk melihat dari dekat dampak kerusuhan; saya mencoba menyelami suara-suara nurani (the inner voices) para korban, baik dari kelompok muslim maupun nasrani. Selama berkeliling Ambon, saya ‘dikawal’ dua veteran jagoan perang Ambon, yang satu muslim dan satu lagi nasrani. Warga dari dua kelompok tidak menampik bahwa sewaktu bertempur dulu mereka berada dalam puncak ekstasi keagamaan. Menafikan segala apapun, lupa kawan, lupa teman. Siapapun yang berbeda keyakinan, itulah musuh yang harus dibunuh!!!
Subhanallah, pikir saya. Sedemikian jahatkah ajaran agama kita sehingga menghalalkan membunuh sesama? Usut demi usut, rasa ekstasi dan sentimen keagamaan untuk saling bertempur itu muncul belakangan. Padahal, kata orang-orang Ambon baik yang muslim maupun nasrani, awalnya kerusuhan dipicu oleh keributan dua kelompok preman. Kelompok yang satu, kebetulan mayoritas muslim. Dan, yang satu lagi, juga kebetulan mayoritas nasrani.
Sudah....sudah, nanti review ini melantur ke mana-mana dan akan menyinggung banyak orang. Yang jelas, dalam kasus Ambon, baik warga muslim maupun nasrani, sudah kapok berperang. Kita orang basudara ...

 | lyntang wrote on Jun 15, '07, edited on Jun 15, '07 berada dalam puncak ekstasi keagamaan. Menafikan segala apapun, lupa kawan, lupa teman.  Ada juga ya moment seperti itu.. Sebenarnya, apa yang memiliki andil terbesar, ego manusia bahwa dirinya yang paling benar atau ..? |
 | akmal wrote on Jun 15, '07 Mungkin, karena pemahaman yang hanya searah tentang konsep beragama itu sendiri. Padahal, jika boleh saya mengutip salah satu ayat dari kitab suci al-Qur'an: "walaqad karamna Bani Adam", yang artinya, "Dan sungguh, telah Kami muliakan segenap Bani Adam".
Bani Adam berarti semua keturunan Adam, terlepas dari beragam baju keyakinan tentang ketauhidannya kepada Tuhan.  Bani Adam memang sudah dimuliakan, tapi mereka juga punya bakat utk menghinakan dirinya sendiri, alias membuat dirinya menjadi hina...
Q.S. 8 : 55 "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman."
Q.S. 2 : 171 "Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja107. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti."
Q.S. 2 : 90 "Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan."
kalo menurut saya sih, ini cuma masalah pemahaman thd agama saja... misalnya umat Islam memandang agamanya paling benar, ya itu wajar... orang Katolik juga sangat wajar kalau menganggap agamanya paling benar... justru aneh (dan hipokrit) sekali jika ada yg merasa bahwa agamanya bukan yg paling benar... yg masalah adalah ketika kita keliru dalam menyikapi kekafiran orang lain... pertanyaannya : orang kafir (menurut standar agama masing-masing ya) mau diapakan? apakah semua yg kafir harus diberantas? nah yg begini ini yg namanya ekstremis... kalo sekedar meyakini bahwa semua org yg kafir itu bakal masuk neraka itu tidak masalah, karena yg mengadilinya kan Tuhan, bukan kita sendiri... yg masalah adalah jika kita membenci orang lain karena beda agama...
dan, berbeda dgn yg digembar-gemborkan oleh media, kenyataannya hanya sedikit sekali umat Islam yg tdk toleran pada umat lain... jauh lebih banyak umat lain yg gak toleran pada umat Islam... |
 | akmal wrote on Jun 15, '07 kalo saya sih pengen ketawa aja ngeliat Gus Dur bicara atas nama perdamaian... dulu dia mau dicopot dari kursi presiden secara sah (lewat MPR) aja pendukungnya pada bawa golok... lalu tempo hari pendukungnya langsung ngamuk begitu dengar Gus Dur diusir oleh oknum FPI dan MMI dari sebuah forum diskusi lintas agama... and guess what? berita itu sendiri ternyata cuma isapan jempol... dan Gus Dur tidak berusaha menghentikannya... :) |
 | j0y0 wrote on Jun 17, '07 kalo saya sih pengen ketawa aja ngeliat Gus Dur bicara atas nama perdamaian... dulu dia mau dicopot dari kursi presiden secara sah (lewat MPR) aja pendukungnya pada bawa golok...  Kata mereka yang bawa-bawa golok itu, Sampai sekarang presiden RI itu ya masih Gus Dur. Megawati apalagi SBY, itu kan hanya penggantinya, kalau presidennya ya tetep Gus Dur,... hehehe |
 | terlalu banyak pengangguran dan rendahnya pendidikan adalah salah satu faktornya.. |
 | Damai itu indah dan kita harus terus menjaga kedamaian yang sudah berjalan selama ini, untuk kemudian kita terus mensosialisasikan budaya damai kepada semua umat manusia. Satu hal yang menjadi pertanyaan kita adalah "Mengapa kita harus berperang?" dan "Siapa sebenarnya yang harus perangi?" Kalau kita melihat dan menganalisa kembali hakikat penciptaan manusia yakni penciptaan Adam A.S, niscaya kita akan paham tujuan kita diciptakan dan siapa "musuh" kita sebenarnya. Thanks |
| |