sofwan weblog-multiply edition

Posted by by: on Jun 3, '07 1:44 AM for everyone
Category:Other
Kubah al-Sakhrah: Masterpiece Pertama Arsitektur Islam

Ternyata, bangunan-bangunan yang dibangun oleh para penguasa muslim pada zaman keemasan muslim tak kalah hebat dan megahnya dengan bangunan-bangunan masa kini. Bahkan, telah teruji ratusan tahun tetap
tegak berdiri di bumi Allah ini.

Lihat gambar kedua pada tulisan ini. Gambar itu adalah kompleks (haekal) bersejarah di Bukit Haram al-Syarif, Yerussalem. Masjid al-Aqsha, peninggalan Nabi Sulaiman yang terkenal itu terletak di kompleks itu. Di sana tampak dua buah bangunan berkubah: kubah bangunan pertama berwarna emas dan kubah bangunan kedua berwarna perak. Coba tebak yang mana Masjid al-Aqsha? Kebanyakan orang menyangka bahwa bangunan dengan kubah emas itulah Masjid al-Aqsha. Salah satu alasannya: bangunan itu lebih besar daripada bangunan pertama (kubah warna perak). Padahal, bukan itu. Justru bangunan dengan kubah berwarna perak dan lebih kecil itulah Masjid al-Aqsha .

Bangunan dengan kubah berwarna emas itu adalah bangunan Kubah al-Sakhrah. Dalam kosa kata bahasa Inggris dinamai Dome of The Rock. Kebanyakan orang Islam, di luar Timur Tengah, lebih mengenal Masjid al-Aqsha dibandingkan Kubah al-Sakhrah. Padahal, bangunan ini merupakan masterpiece arsitektur pertama yang dibangun (bukan hanya sekedar memugar) oleh penguasa Islam pascaMuhammad.

Di dalam bangunan berbentuk segi delapan tersebut, terdapat sebuah batu hitam: sakhrah al-muqaddasah yang diyakini sebagai tempat Nabi Ibrahim hendak ‘menyembelih’ putranya Isma’il. Bahkan, dianggap pula sebagai tempat persinggahan Nabi Muhammad tatkala melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Kubah al-Sakhrah dibangun kembali selama lima tahun (687-692)--sebelum pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan, dari Dinasti Umayyah. Dialah pengganti khalifah Yazid I, orang yang dianggap bertanggung jawab atas syahid-nya Husain bin ‘Ali Abi Thalib. Sebelum itu, hanya berupa monumen biasa berbentuk kubah yang dibangun oleh ‘Umar ibnu al-Khaththab.

Demi memperkuat posisi Damaskus (ibu kota kekhilafahan Umayyah) dalam percaturan politik internasional, Abdul Malik berfikir untuk membangun sebuah bangunan mercusuar sebagai bagian dari alat propaganda politik negara. Bangunan itu, dalam benak Abdul Malik, diharapkan bisa menarik lebih banyak peziarah ke Jerussalem, yang pada saat itu berada di bawah kendali Damaskus. Kharisma Yeru-salem bagi pemeluk tiga agama samawi: Islam, Kristen dan Yahudi dianggap sangat menguntungkan Damaskus.

Syahdan, Abdul Malik pun mulai mengumpulkan para insinyur dan arsitek yang pernah dilatih oleh arsitek kawakan yang pernah menjadi pegawai pemerintah Byzantium (Romawi). Para arsitek dan insinyur dari Arab itu, sebagian lagi asli Syiria, dilatih pada masa Muawwiyah—sang pendiri dinasti—berkuasa. Mereka inilah yang mendesain proyek Kubah al-Sakhrah hingga ke bagian detailnya. Namun, Abdul Malik menunjuk seorang ahli bangunan bangsa Syiria menjadi pimpinan proyek sebagai penghormatan bagi orang Syria, tempat Damaskus berada. Sedangkan, pelukis mosaik didatangkan dari Konstantinopel (sekarang Istambul di Turki).

Ornamen bangunan yang dibuat oleh para ahli mosaik Turki itu didominasi oleh motif tanaman. Malahan pada ornamen yang didominasi warna biru itu hampir tidak ada motif manusia. Sementara itu, struktur kubah juga memiliki kesamaan dengan kubah pada bangunan Qalat of Siman dan kubah Katederal di Bashra yang telah lebih dulu berdiri. Kedua bangunan ini juga didirikan pada masa pemerintahan Byzantium. Kerangka kubah dibuat dua lapis: luar dan dalam, dengan bahan kayu. Kerangka luar dibuat agak menonjol dibanding kerangka dalam yang berbentuk setengah lingkaran (seperi bola dunia dibelah dua).

Ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari sejarah pembangunan Kubah al-Sakhrah ini: Abdul Malik mengaplikasikan gaya arsitektur zaman Byzantium dalam karya besarnya. Bahkan, ilmu rancang bangunannya pun diperoleh dari para ahli bangunan jaman Byzantium. Inilah yang disebut dengan: “al-muhafadzhoti ala al-qodimi sholih wa al-akhdu bi al-jadidi al-aslah”. Bermakna: tetap mempertahankan sesuatu yang klasik (baik) kemudian kita mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.

by: Sofwan-2007 >> artikel ini saya tulis pada 2003 dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah internal)


bemuslimconr wrote on Jun 13, '07
Trims infonya, dan sekarang propaganda non islam memanfaatkannya untuk mengecilkan keberadaan dari al-aqsa. Wass.wr.wb. beMP! oh ya sekalian ijin embed ya.
kalipaksi wrote on Jun 13, '07
ok boss........
enamelku wrote on Jul 21
Salam Kenal...
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help