Posted by by: on Jun 3, '07 2:09 AM for everyone  Masjid Imam dan Madrasah Shah di Isfahan
Maskot Isfahan Nisfe Jahan
Isfahan Nisfe Jahan. Slogan berbahasa Persia itu mempunyai arti “Isfahan Kota Separuh Dunia”. Gelar ini diberikan kepada kota Isfahan karena keindahannya. Memang agak berlebihan, namun gelar itu muncul ketika Isfahan sedang Mengalami pembangunan besar-besaran ketika Shah Abbas, salah seorang penguasa dari Dinasti Safawi—diambil dari nama Safiuddin Ardabelli, pendiri thariqah Safawiyah—menjadi penguasa Iran pada abad 16 masehi. Shah Abbas merupakan salah satu kepala negara yang getol melakukan pembangunan fisik kota Isfahan.
Hal ini merupakan dampak dari pulihnya kewibawaan Persia yang berhasil dikembalikan oleh Dinasti Safawi yang menjadi pemerintah di Iran selama dua setengah abad (1499-1722). Salah satu magnet kota Isfahan terdapat di pusat kotanya: sebuah alun-alun yang dikelilingi bangunan arsitektur inovatif seperti Masjid Shah (kini bernama Masjid Imam) lengkap dengan Madrasah Shah-nya dan beberapa bangunan lainnya.
Isfahan mempunyai beberapa masjid besar. Selain Masjid Shah, ada pula Masjid Jami’ Isfahan. Hanya saja, ditinjau dari sudut pandang arsitektur dan sejarah, masjid Shah dipandang memiliki kelebihan dibanding masjid-masjid lain di Isfahan, bahkan di Iran dan daratan Persia yang meliputi Iraq dan Azerbaijan. Masjid Shah—kini bernama Masjid Imam—merupakan masjid yang menerapkan pola Arsitektur Seljuk dengan menampilkan lengkung-lengkung “iwan”: sebuah beranda yang sangat besar yang terdapat di setiap sentral sisi-sisi pelataran. Seperti halnya masjid-masjid lain di Iran, masjid ini pun mempunyai kubah besar yang ditempatkan di arah kiblat. Sepertinya ini rancangan khas Iran. Selain itu pada beberapa bagian masjid dan bangunan untuk madrasah tampak pula kubah-kubah kecil yang juga khas bangunan rumah di Iran—dan sebagian di Turki—yang disebut “kiosk”. Menurut kamus, “kiosk” bermakna pola bangunan di Turki dan Iran yang atapnya disangga banyak pilar. Teknik ini sudah lama dipakai di Persia, bahkan penemunya pun diklaim para arsitek Persia kuno, walaupun lebih berkembang di Turki pada masa Ottoman. Para arsitek Persia ini dianggap berhasil menemukan teknik membangun kubah bundar di atas pondasi segi empat dengan keempat lengkung diagonalnya.
Masjid Shah dibangun selama empat tahun, antara tahun 1612-1637. Pada prinsipnya masjid ini berlanggam sama dengan masjid-masjid yang dibangun pada masa Seljuk: memiliki ruangan lebar dan tinggi dengan atap lengkung yang berfungsi sebagai pusat tempat yang dianggap suci. Tak ketinggalan, kubah besar yang diletakkan pada arah kiblat tadi, di bawahnya merupakan ruangan mihrab. Kubah besar tersebut dilapisi dengan keramik ubin (glazed tile), bukan mosaik tile yang populer di masa kejayaan Abbasiyah yang juga banyak membangun masjid-masjid besar. Namun demikian pada prinsipnya, akar teknologi antara keduanya sama: menggunakan bahan pelapis dari tanah liat. Hanya saja pada kubah Masjid Shah dibuatkan model dengan motif yang full-flowers: hiasan dekoratif kembang. Disain glazed tile ini mulai berkembang dalam aplikasi arsitektur di Iran dan Turki pada abad 16 dan 17 masehi.
Kubah Masjid Shah ini oleh banyak arkeolog dan pengamat arsitektur klasik dipandang sebagai karya kubah dengan ubin berwarna (tilework) masa Safawi yang paling brilian. Penilaian itu lebih karena pada keindahan motif dan komposisi warnanya. Selain itu, juga bentuk pecahan ubin yang mengikuti bentuk lengkungan pada bagian kubah dan juga pada menaranya yang berbentuk silinder. Selain kedua unsur tadi (kubah dan menara), gerbang masuk utama masjid sebagian besar juga dilapisi oleh glazed tiles dengan pola lukisan yang tidak sederhana dengan warna yang beragam pula. Teknik ini, pada masa itu dianggap lebih efisien daripada menggunakan tile-mosaik.
Standar bangunan-bangunan masjid di Iran merupakan resultan dari perpaduan antara masjid lokal ber-“kiosk” dan mempunyai unsur bangunan madrasah. Kemudian, barulah perpaduan itu lalu ditambahkan unsur menara dan kubah.
(Tulisan ini kutulis pada tahun 2003, dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah terbitan pesantren).
  | yang pasti ada menaranya..ciri khas mesjid kala itu ^_^ |
 | Absolutamente lindo e perfeito... |
| |
|