Posted by by: on Jun 3, '07 2:54 AM for everyone  by: Kalipaksi
Dalam dunia arsitektur muslim klasik, kecenderungan pembangunan madrasah pertama kali muncul di daerah Khurasan, ketika gubernurnya, Nidham al-Muluk membangun madrasah yang kemudian dikenal sebagai Madrasah Nidham itu. Pola ini lalu berkembang selari dengan revolusi sosial dan perubahan konstelasi politik masa itu hingga menyebar ke seantero Persia. Salah satunya adalah Madrasah Shah di Isfahan. Madrasah Shah di Isfahan yang didirikan antara tahun 1712 hingga 1718 ini merupakan madrasah termegah di Iran.
Madrasah ini terletak di bagian utara kompleks masjid. Seperti halnya Madrasah Firdausi yang ada di Aleppo, madrasah ini—dan juga sebagian besar bangunan madrasah sejenis di Iran—mempunyai unsur “iwan”. Selain “iwan”, pola arsitektur madrasah ini juga mempunyai kesamaan dengan pola yang ada di Madrasah Firdaus di Aleppo: pintu gerbangnya memiliki atap dengan pola stalaktit. Pola ini sudah populer sejak abad 13 masehi. Walaupun sebenarnya, pintu gerbang ini merupakan pintu gerbang utama Masjid Shah di samping pintu masuk lainnya, namun pintu ini juga akses menuju kompleks madrasah. Madrasah Shah memiliki beberapa bagian: pelataran, asrama santri, asrama guru dan perkantoran serta ruang belajar pada bagian bangunan dengan model “kiosk” dalam kompleks itu.
Di bawahnya, di sanalah ruang pertemuan majlis. Ruang itu ditopang oleh dua aula yang digunakan sebagai ruang kelas. Keberadaan madrasah dalam masjid sebenarnya bukan model baru. Di masa Muhammad Saw pun sudah terdengar kata “suffah” yang merupakan majlis tarbiyah (pendidikan). Jadi sejak awal, masjid mempunyai fungsi ganda—walaupun tak semua masjid—sama ada sebagai tempat shalat maupun sebagai tempat kaderisasi dalam bentuk collegiate mosque atau madrasah (baca: lembaga pendidikan, red).
Hanya saja dalam perkembangannya lalu dibuatkan arena khusus bagi madrasah di luar bangunan masjid, tetapi masih dalam satu kompleks. Rancangan Madrasah Shah ini—yang mengambil model di Khurasan—tampaknya mempunyai pola seperti bentuk rumah ala Persia. Ada ciri khas dari pola itu: memiliki pelataran lengkap dengan “iwan-iwan”-nya; para ustadz tinggal di blok “iwan” sedangkan santri di kamar-kamar yang terdapat di sepanjang lorong dan kamar yang mempunyai akses pandangan ke pelataran tadi. Para penghuni kamar-kamar itu selain belajar juga dilibatkan dalam pengelolaan bangunan. Misalnya dalam pemeliharaan saluran air yang melintasi pelataran dari masjid ke madrasah dalam bentuk iuran. Manajemen pemeliharaannya pun masih berkaitan dengan takmir almasjid-nya. Toh, walau bagaimanapun juga secara estetis, Madrasah Shah ini—seperti halnya madrasah-madrasah lainnya—sebenarnya merupakan bentuk improvisasi atas ruang lapang pada masjid, dalam hal ini Masjid Shah.
Selain mempunyai keunggulan-keunggulan estetis, madrasah ini juga menyimpan benda-benda bersejarah dalam perkembangan dunia pengetahuan di dunia Islam. Misalnya saja sebuah sundial (alat penunjuk waktu berdasarkan bayangan sinar matahari—red) yang dibuat oleh Syaykh Baha’i, matematikawan besar Iran abad 17.
(by: Sofwan - 2007 >> artikel ini saya tulis pada 2003 dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah internal) 
| |
|