Posted by by: on Sep 18, '07 9:06 PM for everyone  Dua hari lalu sebuah SMS datang dari Butet: "Mas, aku mau launching buku. Datang ya."
"Oke", jawab saya. Butet akan melaunching bukunya besok, Kamis 20 September 2007 di daerah Gambir. Buku itu tentang pergulatannya tinggal bersama Orang RImba, sebuah suku pedalaman di hutan Jambi.
Saya kenal Butet dua tahun lalu ketika ia saya minta untuk menjadi penulis ahli di sebuah buku tebal yang saya tulis bersama beberapa teman. Nah, satu bab dalam buku itu bercerita tentang pergulatan memanusiakan dan mengangkat harkat martabat para indigenous people di negeri. Dalam konteks ini, Butet merupakan salah satu pribadi yang sudah punya karya dan aksi nyata sebagai seorang aktivis.
Saat yang lain berlomba mencari kerja di kota, Saur Marlina "Butet" Manurung justru masuk hutan, bergelut dengan suku pedalaman. Ia memang tidak mencari pekerjaan. Niatnya hanyalah, bisa berguna bagi orang lain. Maka, ia pun mengabdikan diri dengan memberi pendidikan kepada Orang Rimba.
Butet Manurung bahkan tinggal sembilan bulan di hutan Jambi, Sumatra, setiap tahun. Tujuannya bukan untuk menyelamatkan pohon tetapi suku Orang Rimba yang tinggal di antara pepohonan setempat. Suku yang berjumlah ratusan orang ini adalah kaum pengembara yang masih mengenakan cawat, tinggal di gubuk, berburu ular, rusa dan celeng, mencari umbi-umbian serta memuji berbagai dewa. Sebelumnya mereka termasuk suku primitif, tak tersentuh dunia moderen, tetapi kini kehidupan mereka kian terancam modernisasi.
Butet pernah melatih mereka membantu LSM melacak penebangan pohon secara ilegal. Tetapi ia kecewa dengan program ini karena menganggapnya tak relevan lagi. "Tak ada gunanya menjadi pelestari lingkungan mengingat hutan akan menghilang dalam 20 tahun mendatang," kata gadis Batak yang lahir dan dibesarkan di Jakarta tetapi tinggal seperti suku Orang Rimba selama di hutan, "Saya ingin bersikap realistis bukan romantis," tambahnya.
Dilengkapi papan tulis hitam, kapur dan beberapa pena dan kertas, Butet mengajari Orang Rimba membaca, menulis dan menghitung dalam bahasa asli mereka yang sejenis bahasa kuno Melayu dan juga bahasa Indonesia. Merupakan pelajaran mendasar tetapi Orang Rimba yang sering ditipu dari tanah mereka oleh para warga desa dan penebang pohon yang tak peduli. Orang Rimba ini diminta para pelaku ini membubuhkan sidik jari pada dokumen yang tak bisa mereka baca. Didikan yang mereka peroleh dari Butet adalah alat untuk membantu mereka menghadapi dunia moderen. "Mengingat bagaimana habitat alam dirusakkan, mereka akan menjadi para pengemis atau kuli tanpa pendidikan," kata Butet yang telah melatih 14 guru lain untuk membantunya. "Saya baru selesai ketika Orang Rimba bisa membela diri sendiri," harap wanita pejuang wanita tanpa tanda jasa ini.
Kini Butet menjadi Direktur SOKOLA yang mengawali kegiatannya di komunitas Orang Rimba, Jambi. Meski baru berdiri pada akhir tahun 2003, kegiatan fasilitasi baca-tulis-hitung telah dirintis oleh Butet Manurung sejak tahun 1999 sebelum akhirnya mendirikan SOKOLA bersama lima orang yang telah berpengalaman lainnya. Metode yang dihasilkan melalui perjalanan panjang pendampingan oleh Butet itulah yang kemudian digunakan oleh SOKOLA dan dikembangkan menurut kebutuhan komunitas yang menjadi peserta belajarnya. .
Saat ini SOKOLA membuka peluang volunteer mandiri di lokasi program fasilitasi baca-tulis SOKOLA di desa Wailago, Pulau Besar, Sikka, NTT.
Untuk Butet....terus semangat. Oh ya, kapan kita bisa menapaktilasi jejak Butet? Setidaknya untuk bidang lain yang kita mampu menempuhnya.
  | saya pernah baca ulasan tentang butet manurung di majalah intisari beberapa tahun lalu, sebuah karya yang seharusnya menginspirasi banyak orang, punya kontak personnya???? |
 | personal massage mungkin lebih baik, karena perangkat selular saya disini tidak kompatibel untuk menerima sms dari Indonesia ;) terima kasih |
 | she's one of inspiring women in this country............. |
 | bang terima kasih ya, dengan menampilkan inspirator seperti butet |
 | sehari ini saya dua kali membaca tentang butet... makasi sharingnya |
| |