by:'s posts with tag: ahadpoint
Posted by by: on Feb 26, '08 9:36 AM for everyone |  | Menjadi konsultan media memang cukup mengasyikkan. Yang jelas, bisa menclak-menclok ke berbagai daerah dengan biaya dinas. Februari lalu, AHADPOINT Comm mendapat order untuk menulis buku tentang profil 20-an kota/kabupaten di bidang infrastruktur. Salah satunya, Kota Banjarmasin.
Walikota Banjarmasin termasuk pejabat yang peduli terhadap urusan air bersih warganya. Nah, dalam kerangka itulah, akhirnya saya juga diminta memotret PDAM Banjarmasin, meski perusahaan daerah itu tidak masuk dalam agenda peliputan.
Saya pun menjadi paham proses produksi air bersih. Sebagai pelanggam PDAM Depok, saya baru tahu jika air yang selama ini kami minum dipompa oleh mesin-mesin pompa air segede-gede gaban.
Nah, berikut ini beberapa oleh-oleh foto dari PDAM Banjarmasin.
pic: sofwan.kalipaksi @ Februari 2008 |
Posted by by: on Dec 7, '07 5:30 AM for everyone Saya langsung lemas, begitu mendengar sohib kami di kantor berkata kepada sespri seorang Bupati sebuah kabupaten di Jawa Timur begini, "Mas Bupati anda tidak cerdas!!!" Lemas,  karena dari awal saya yang mengenalkan sang sohib (Mas Agung) kepada si sespri. Padahal, tadinya saya hendak melobi sang Bupati supaya minimal dapat proyek menulis buku tentang kabupatennya. "Mas, lemas aku mendengar anda berbicara lantang begitu," kata saya kepada Mas Agung. "Ini bentuk partisipasi kita, supaya mereka tahu...mbok ya kalau jadi Bupati itu cerdas," timpal Mas Agung. Cerita ini bermula dari berkumpulnya para Bupati di sebuah studio televisi. Ceritanya, para Bupati itu menerima penghargaan dari sebuah departemen. PU Award's namanya. Nah, tim penulis di kantor kami mendapat tugas untuk menyusun buku tentang profil kabupaten yang menerima PU Award's. Maklum, malam itu tim kami hanya turun lima orang personil, termasuk Mas Agung tadi. Sedangkan Walikota/Bupati yang harus dilobi dan diinterview lebih dari 20 orang. Alkisah, ketika berhadapan dengan sang Bupati, Mas Agung tidak mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya. "Gimana, seorang Bupati kok nggak menguasai masalah. Nggak cerdas," simpulnya kepada saya. Tapi, yang membuat saya lemas, mengapa pernyataan itu harus langsung disampaikan kepada si Sespri Bupati. Bagusnya, si Sespri tidak marah. Yo wess, supaya hubungan baik tetap berjalan, keesokan paginya saya menemui si Sespri untuk melakukan klarifikasi.
Posted by by: on Nov 16, '07 4:42 PM for everyone 
Dua setengah tahun terakhir ini, praktis saya "hidup" dari menulis. Maksudnya mencari nafkah sebagai penulis. Yah, meski menjadi "penulis bayaran" (the writer of fortune), terutama untuk mengerjakan beberapa buku di Departemen Pekerjaan Umum (PU)  . Memang, hal itu tidak terlepas dari kinerja kantor konsultan media yang kami bina sehingga bisa bermitra dengan Pusat Komunikasi Publik PU. Berbelas tahun lalu, tidak selintas pun pikiran untuk berprofesi sebagai penulis. Memang, tibanya saya di dunia tulis menulis tidak terlepas dari tercemplungnya saya ke dunia kewartawanan 11 tahun silam. Sebenarnya cita-cita saya sederhana saja: ingin menjadi pegawai Departemen Pekerjaan Umum  . Cita-cita itu muncul karena alasan yang simpel: tetangga di depan rumah orangtua kami dulu orang PU. Dan, ia tergolong kaya raya. Ya sudah akhirnya masuk kuliah Jurusan Planologi, dengan harapan bisa menjadi bekal menjadi PNS PU di Ditjen Penataan Ruang. Sebenarnya ingin masuk Teknik Sipil tapi tahu diri karena tidak terlalu piawai di bidang fisika. Nah, ternyata jalan hidup menentukan keterdamparan saya di dunia media massa. Sejak itu, keinginan untuk menjadi pegawai PU saya kubur dalam-dalam. Lha, kok sekarang jalan hidup menuntun saya untuk berkecimpung lagi di dunia PU. Meski bukan sebagai seorang insinyur, melainkan sebagai seorang penulis. Meski hanya penulis ecek-ecek. Ah... Tuhan memang adil. Thanks God.
Posted by by: on Nov 9, '07 12:12 AM for everyone Menjelang akhir tahun selalu menjadi saat-saat yang paling menyibukkan. Biasalah, biasanya pada saat-saat seperti ini banyak kegiatan yang digelar oleh lembaga pemerintah. Konsekwensinya, kaum konsultan seperti kami pun terkena efeknya. Tahun ini, Ahadpoint Comm, kantor konsultan media dan publikasi yang kami kelola kecipratan lima order. Tiga order di antaranya bertenggat waktu akhir (deadline) yang sama: 3 Desember. Ketiga-tiganya menulis, mendesain hingga mencetak buku dan sebuah annual report LSM lingkungan hidup internasional cabang Indonesia. Tapi, yang selalu tidak berubah, lagi-lagi pola kerja untuk menuntaskan order tersebut selalu saja sama: berpola sangkuriang. Artinya, dalam rentang waktu yang sangat mepet. Bayangkan, untuk menulis buku profil 33 kota setebal 170-an, misalnya, hanya dua minggu. Sepekan untuk me-layout-nya, dan sepekan lagi untuk mencetak. Waktu yang dua minggu itu sudah termasuk pengumpulan data sekunder dan turun ke lapangan. Istilah lainnya, SKS: sistem kejar semalam. But, bagi kami kualitas tetap nomor satu. Komunitas di tempat kami berkiprah selalu berupaya keras untuk tidak mau berkompromi dengan kualitas.  Yo wess, sistem padat karya mau nggak mau harus ditempuh. Skedul kerja pun mesti dikawal dengan ketat. Yang jelas, pekerjaan ini juga punya dampak lain. Ya, apalagi jika bukan "meng-anaktirikan" kegiatan nge-blog. Ya...paling tidak waktu untuk nge-blog berkurang. 
Posted by by: on Oct 18, '07 10:33 PM for everyone Dua setengah tahun sudah saya resign dari sebuah kantor media massa. Sejak itu akhirnya bersama teman-teman membuka sebuah kantor konsultan media dan publikasi, yang menyediakan jasa profesionalisme di bidang jurnalistik. Beberapa klien kami di antaranya: Puskom Departemen PU, Mahkamah Konstitusi, Ditjen Penataan Ruang PU, Departemen Sosial, dan beberapa instansi lainnya. Produk yang sudah kami buat di antaranya beberapa buku yang gaya penyajiannya berpendekatan jurnalisme. Juga, menjadi editor bagi Majalah KIPRAH, yang merupakan in-house magazine di Departemen PU. Di samping itu, secara tidak rutin kami juga diminta membantu penerbitan beberapa in-house magazine (penerbitan internal), seperti Majalah TROPIKA terbitan LSM Conservation International Indonesia. Nah, berangkat dari profesi itu, kami para "veteran wartawan" sempat menjadi canggung untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman jurnalis dalam mengidentifikasi diri: "apakah kami masih kalangan jurnalis ataukah konsultan?" Memang, pertanyaan itu tidak kami gubris. Toh, dalam waktu dekat ini kantor konsultan kami akan segera menerbitkan sebuah tabloid dan menjadi pengelola keredaksionalan sebuah free-magazine dengan domain pariwisata. Jadi, bagi kami tidak penting masih disebut jurnalis atau tidak hanya lantaran sudah tidak lagi berkiprah di kantor media massa. Toh, yang terpenting bukan sebutan atau gelar itu, melainkan karya!!!
Posted by by: on Oct 9, '07 2:22 AM for everyone Ramadan tahun ini merupakan salah satu ramadan tersibuk. Beda sekali dengan Ramadan tahun lalu yang terlalu banyak waktu luang. Pertama, ada beberapa pekerjaan teknis yang harus kelar sebelum libur Ied al-Fithri tiba mulai dari persiapan penerbitan sebuah tabloid hingga laporan antara penerbitan sebuah buku visualisasi kota yang sedang kami garap. Alhasil, Baksos MP Ramadan pun tidak bisa diikuti Namun, terlepas dari semua itu, yang jelas semua kesibukan itu ternyata membawa berkah. Oh ya, dalam Ramadan ini pula sebuah hubungan baru terjalin dengan Om Sugeng Saryadi. Itu lho, pengusaha dari KODEL, bos Hotel Four Season dan Triple S (Soegeng Sarjadi Syndicate). Mulai habis lebaran, Om Sugeng mempersilakan para awak AHADPOINT Comm untuk hadir di shooting dialog Q-TV, yang juga dikelolanya. Bahkan, kami dipersilakan untuk membuat sebuah rubrik di tabloid yang kami terbitkan bekerja sama dengan Triple S. Keberkahan lain, kesibukan selama Ramadan di kantor juga membawa kembali para mantan murid jurnalistik untuk terlibat dalam berbagai kesibukan di kantor. Hanya satu kata yang bisa kami ucapkan: lhamdulillah.
Posted by by: on Aug 11, '07 5:01 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Dr. Sugimin Pranoto |
Akhirnya, buku ini terbit juga. Kerja keras selama tiga bulan untuk melakukan penyelarasan pun akhirnya terbayar tuntas. Semoga, ini bukan buku terakhir Pak Gimin (begitu kami menyapa klien kami: DR. Sugimin Pranoto, sang editor), yang merupakan Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum.
Ini data bukunya .......... Judul : Sejarah Pembangunan Permukiman Perdesaan di Indonesia Tahun : 2007 Editor : Dr. Sugimin Pranoto Penyelaras : Sofwan D. Ardyanto & Agung Y. Achmad Penerbit : Alfabeta, Bandung Tebal : 154 hal. Dan ini, sekelumit resonansi (baca: resensi) tentangnya .............
Gejala (dan akhirnya menjadi kenyataan) ketidakadilan di negara-negara yang menganut paradigma developmentalism terjadi tidak hanya dalam konteks struktur sosialnya, tetapi juga pada ranah geografis. Jelasnya, kawasan perkotaan lebih banyak mendapatkan sentuhan pembangunan dibandingkan dengan wilayah perdesaan. Pembangunan kawasan perdesaan selamanya hanya menjadi subordinasi dari kebijakan pembangunan kawasan perkotaan. Di antara sampel menonjol dari perbedaan tajam di dua kawasan itu adalah prasarana permukimannya. Kondisi permukiman di perdesaan jauh tertinggal dibandingkan permukiman di wilayah perkotaan. Bukan hanya pada fisik bangunan rumahnya, tetapi juga kualitas infrastruktur di lingkungan permukimannya. Hal terakhir ini berdampak pada kualitas hidup hingga akses ekonomi penduduknya. Kenyataan ini jelas ironis, karena kawasan perdesaan merupakan daerah tempat tinggal sebagian besar penduduk negara-negara di negara-negara development countries. Indonesia bukan negara pengecualian dari fenomena di atas. Pemerintah Orde Baru sejak awal mendesain negara ini dengan paradigma developmentalisme. Hanya saja, di tengah dinamika pembangunan melaju dengan cepat di era tersebut, sebenarnya ketika itu pemerintah telah menyiapkan konsep dan program pembangunan permukiman perdesaan. Bahkan, kebijakan yang dimaksud telah dimulai sejak Pelita
Keberanian mengemukakan sesuatu yang secara substantif bagus di saat semua yang berbau Orde Baru dinilai buruk menjadi salah satu alasan mengapa buku ini menarik untuk dibaca. Dalam perspektif historis, buku ini menceritakan perkembangan konsepsi, kebijakan dan program pemerintah serta pergulatan para pelaksana di lapangan selama proses pembangunan permukiman perdesaan dari waktu ke waktu (dari Pelita I hingga Pelita IV). Selaku editor, Sugimin Pranoto, Dr, menyusun pengalaman beberapa rekannya di lingkungan Departemen PU di masanya yang kebetulan juga menjadi pelaksana pilot proyek menjadi suatu narasi yang tidak membosankan.
Mereka adalah para insinyur muda yang sengaja diterjunkan ke sejumlah desa di Tanah Air yang ciri-ciri penduduknya rendah pendidikannya, produktivitasnya, tingkat kesejahteraannya, dan seterusnya. Bersama penduduk mereka membangun kawasan infrastruktur permukiman yang lebih baik dari sisi teknis, tenologis. Cerita sukses di beberapa desa seperti di Kendel, Boyolali (hal. 3), Sangkepan Banjar, Bali (hal 136), Toraja (hal. 142) melengkapi gambaran menyeluruh bagaimana kebijakan pembangunan permukiman perdesaan adalah bukan sesuatu yang sepele.
Meskipun merupakan catatan masa lalu, buku ini mengusung hipotesa dan metodologi yang masih relevan untuk menangani kompleksitas masalah permukiman perumahaan pada saat iniābaik di perdesaan maupun perkotaan. Tak berlebihan untuk mengatakan program-program semacam P2KP pada saat ini, yang juga diemban departemen yang sama, yakni Departemen PU, adalah metamorfosa dari program semisal Program Peningkatan Mutu Perumahan dan Lingkungan Desa atau PMP-LD (hal.76) pada tahun delapan puluhan. Demikian pula dengan adanya wacana akan di hidupkanya kembali fungsi fungsi pusat informasi pembangunan saat ini , kala itu pada tahun 70 an (hal.6) juga telah didirikan 4 unit Building Information Center (BIC) diantaranya di Yogyakarta.
Meskipun banyak kendala, program-program pembangunan permukiman perdesaan di Tanah Air di atas berlangsung cukup sukses. Pengalaman di lapangan lah yang mengajari semua itu. Pembangunan permukiman semula didekati secara sektoral. Pendekatan keterpaduan mengantikannya, menggeser kegiatan yang bersifat fisik ke kegiatan dengan pendekatan Tribina: bina manusia (peningkatan kemampuan sumber daya manusia), bina lingkungan (kegiatan pembangunan prasarana dan sarana), bina usaha (kegiatan untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi perdesaan). Ketika itu, pembangunan permukiman di perdesaan telah bertumpu pada kesadaran, prakarsa masyarakat dan kearifan lokal.

Posted by by: on Jun 16, '07 2:17 AM for everyone  Di dunia ini bonafiditas seolah menjadi ukuran kualitas sebuah produk. Produk yang berkualitas diidentikkan sebagai produk yang dihasilkan oleh sebuah produsen atau perusahaan dan bonafide. Idealnya memang seperti itu. Tapi tesis itu tak selamanya menjadi sesuatu hal yang mutlak. Tidak sedikit perusahaan kecil yang punya produk berkualitas. Bagi sebagian orang, usaha konsultan penerbitan mungkin dibilang kurang bonafide dengan segala kebersahajaan yang melekat padanya. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk tidak menyajikan sebuah produk penerbitan yang berkualitas. Yang harus diyakini, kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan bonafiditas. Saya teringat cerita para wartawan senior tentang awal berkembangnya Majalah TEMPO. Siapa tidak kenal majalah ini. Bisa dibilang majalah ini adalah barometer majalah di Indonesia. Entah betul atau tidak, berdasarkan cerita salah seorang pendirinya, majalah itu dirintis di sebuah ruang kecil di lantai II dengan segala keterbatasan sarana tapi dengan tekad kuat dan SDM yang berkualitas. Setelah berproses sekian puluh tahun, jadilah majalah itu sebagai sebuah majalah terkemuka di segmennya. Persoalan menjadi bonafide atau tidak, itu soal keseribu. Yang penting, selalu berusaha menyajikan kualitas. Toh, bukankah kualitas itu yang akan menjadi jembatan kita untuk dipandang sebagai kelompok yang bonafide. Hahahahaha.............
Posted by by: on Jun 3, '07 12:22 AM for everyone Perkembangan dunia komunikasi massa di era globalisasi ini terus bergerak mengikuti proses evolusi intelektual publik, yang semakin menuntut kualitas penyajian informasi yang mereka butuhkan. Bagaimanapun, kualitas informasi baik secara materi maupun visual, akan sangat berpengaruh pada daya serap publik terhadap pesan-pesan yang hendak disampaikan, untuk tujuan apapun: misi dagang maupun misi sosial. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, setiap orang dipenuhi hasrat untuk mengetahui berbagai perkembangan atas organisasi sosial atau organisasi bisnis di mana mereka berada. Banyak pengelola puncak organisasi sosial dan bisnis yang telah menyadari pentingnya pemenuhan hasrat atas kebutuhan informasi tersebut. Bagaimanapun, dalam dunia kehumasan, diperlukan keseimbangan antara program promosi dan penyebaran informasi internal terhadap para anggota komunitas yang menjadi tulang punggung organisasi atau perusahaan. Sebab, individu-individu yang terpuaskan, baik secara finansial maupun informasi, akan memberikan kontribusi secara maksimal daripada individu-individu yang terkungkung dalam ketidakberdayaan mengakses informasi. Sayangnya, tidak semua organisasi atau perusahaan memiliki ketersediaan dana dan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mewujudkan suatu media informasi internal tersebut. NB: Nah, jika tertarik >>> kontak saja Ahadpoint Communications, yang siap mengeliminasi dua kendala tadi.
Posted by by: on Jun 2, '07 9:59 PM for everyone Ahad bermakna satu, point bermakna tujuan. Ya..."ahadpoint" memang kami dedikasikan untuk menuju tujuan yang satu: Tuhan. Bagi kami, begitu banyak gerbang yang disediakan Tuhan untuk mencapai diri-Nya. Dari beribu gerbang itu, beberapa di antaranya telah ku masuki. Sungguh, ternyata semuanya memang menuju kepada-Nya. Ketika, kemudian muncul pertanyaan: mengapa tak kau coba sebanyak mungkin gerbang yang kan menghantarkan jiwa kita kepada-Nya? Ku coba tekan tombol pembuka gerbang baru yang kelak kan membawa diri ini kepada intensifikasi dan ekstensifikasi profesi sebagai kendaraan untuk menuju diri-Nya. Semoga
Posted by by: on Jun 1, '07 8:17 AM for everyone Tidak terasa, dua bulan lagi genap setahun aku dan teman-teman membangun sebuah "workshop impian:, yang kami beri nama: Ahadpoint Comm. Memang, sudah cukup banyak produk yang lahir dari rumah impian itu. Tapi...bukankah tak boleh ada kata puas dalam berkarya...? Tapi, kini, dalam membangun sebuah rumah bisnis jasa konsultasi semacam itu, lagi-lagi persoalan marketing menjadi alasan klise yang dua bulan terakhir ini cukup membuat energi di kepala terkuras. Ah...pasti ada masanya badai pasti berlalu. Untuk sahabat-sahabatku: Mas Agung, Mas Eko dan Ust. Dahlan...jangan putus asa. Oke.. 
Posted by by: on Jun 1, '07 7:51 AM for everyone |  | Terbit dua bulanan. Bersama temanku, kami didapuk menjadi Editor untuk majalah ini. Semoga teman-teman di Puskom PU terus percaya kepada kami.. Semoga. |
| |