by:'s posts with tag: architecture
Posted by by: on Nov 25, '07 6:30 AM for everyone |  | Aku hanyalah seorang tukang batu. Meskipun, palu, kapak, linggis, pikulan, lebih akrab dengan diriku..... Aku juga ingin mendapat pengakuan....
Foto-foto biasa ini bercerita tentang para tukang dan mandor dalam Lomba Tukang dan Mandor 2007. Ya, sebuah even yang digelar Departemen PU dalam rangka Konstruksi Indonesia - 2007.
pics by: sofwan{kalipaksi} lokasi: Kebayoran Baru, November 2007
|
Posted by by: on Oct 28, '07 2:36 AM for everyone  Foto yang berkisah tentang para pengendara sepeda yang melintas di persimpangan jalan di Kota Chengdu, China ini disebut-sebut oleh Reuters memiliki komposisi warna dan perpaduan geometrik yang atraktif....
Foto by: REUTERS/David Gray, 11 September 2007

Posted by by: on Oct 26, '07 12:50 AM for everyone  Supaya tambah semarak....mulai hari ini di site MP ini akan saya isi dengan beberapa informasi singkat hal-hal unik dan wah di seantero dunia. Memang, posting-posting berikut merupakan hasil pencarian di beberapa situs.
Semoga bermanfaat.
Posting pertama, bercerita tentang gedung yang akan segera menjadi gedung tertinggi di dunia. Yups, jika gedung ini selesai dibangun kelak. Gedung itu bernama "The Burj Dubai".
Hingga saat ini belum dirilis tentang berapa tinggi akhirnya kelak. Namun, hingga sekarang (ketika artikel ini diposting), tinggi konstruksinya sudah mencapai 574 meter dengan 154 lantai.
Paska era booming minyak bumi, Dubai merupakan kota dengan berbagai bangunan tinggi berketgori ekstra-ordinari. Bahkan, membuat pulau khusus utk membangun gedung.
Rencananya, kelak Burj Dubai akan menjadi arena perkantoran eksklusif dan suite bagi para pengusaha. Juga, suite yang disewakan. Gedung ini juga akan dilengkapi dengan empat kolam renang, perpustakaan, restoran, dan 15.000 meter persegi arena fitness. Wow.............. 
Posted by by: on Oct 16, '07 6:23 AM for everyone |  | MAJT dibangun di areal seluas kurang lebih 10 hektare, dengan luas bangunan induk seluas 7.669 m2, dan mampu menampung 15.000 jemaah. Sedangkan pelatarannya seluas 7.500 m2 dilengkapi dengan enam payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi di kota Madinah.
Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.
Di bangunan sayap kanan terdapat ruang pertemuan atau auditorium yang mampu menampung 2.000 jemaah. Sedangkan sayap kiri dipersiapkan untuk perpustakaan yang nantinya didesain menjadi perpustakaan modern (digital library) dan ruang perkantoran yang disewakan.
MAJT selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, MAJT dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas ini.
Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower yang tingginya mencapai 99 Meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio DaIs (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat "Kafe Muslim" yang dapat berputar 360 derajat. Di lantai 19, yaitu untuk menara pandang dilengkapi lima teropong yang bisa melihat kota Semarang.
|
Posted by by: on Sep 19, '07 8:41 AM for everyone |  | Sebuah mosaik tentang Lawang Sewu........
|
Posted by by: on Aug 30, '07 6:28 AM for everyone  Istana Al-Hamra berada di Granada pada tempat yang cukup tinggi. Dari kejauhan, tampak sekali bentuk arsitektur bentengnya. Dinding-dinding bata merah yang masif menjulang di tepi-tepinya melindungi istana pada bagian dalam. Warna merah tampak dominan dalam eksterior bangunan yang merupakan warna dari dinding bata dan genting tanah liat yang dipergunakannya. Oleh karena berwarna merah itulah menjadikannya bernama Al-Hamra. Di istana ini, manajemen air dilakukan dengan cara-cara yang sangat apik. Melalui sebuah perhitungan gravitasi yang prima, air dialirkan ke innercourt–innercourt tadi membentuk kolam berair mancur. Air dialirkan dengan saluran tertutup, lalu muncul di ruangan dalam sebagai mata air, yang kemudian dialirkan lagi melalui saluran kecil terbuka menuju kolam innercourt. Hal ini mengingatkan kita pada ayat:“jannatin tajri min tahtih al-anhar” (jannah yang mengalir di bawahnya sungai. selengkapnya: http://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/30/istana-al-hamra-kisah-la-ghaliba-illallah/
Posted by by: on Aug 30, '07 6:18 AM for everyone  Jika Anda berkesempatan shalat di Masjid Nabawi di Madinah, tentu Anda tak kan pernah mengira bahwa masjid nan megah itu pada awalnya hanya sebuah masjid sederhana yang dibangun dengan material tanah liat; bertiang pohon kurma dan beratap pelepah pohon kurma. Itu pun lantaran di lahan hadiah beberapa penduduk anshar itu terdapat banyak pohon kurma yang sudah tua. Pondasi masjid hanya berupa cetakan tanah liat yang ditumpuk-tumpuk. Nabi sendirilah yang memimpin pembangunan masjid itu sekitar tahun 622 masehi silam. Ketika Nabi hijrah ke Madinah bentuk seperti itu pun dijadikan sebagai pola masjid di sana. Pola itu biasanya disebut pola hypostyle. Pada sisi selatan pelataran dibuatkan portico atau serambi beratap, yang ditopang oleh tiga deret tiang dari batang pohon palm. Di sanalah Nabi sering berdiskusi membicarakan masalah-masalah keagamaan dan kenegaraan serta memimpin shalat berjamaah dengan para sahabat. Dahulu, pada sisi itu pula terdapat sebuah mimbar kayu sebagai tempat bagi nabi untuk berkhutbah. Menurut berbagai riwayat, itulah mimbar pertama yang digunakan Nabi. Malahan, mimbar itu disebut-sebut sebagai poin sentral dari Masjid Nabawi, pada masa-masa awal. Masjid ini sudah berulang kali dipugar. Masjid Nabawi pertama kali diperluas oleh Khalifah Umar ibn al-Khaththab dengan penambahan sebidang tanah di bagian utara. Selanjutnya, dilanjutkan semasa Utsman Ibn al-’Affan menjadi khalifah. Pembangunan tahap kedua ini berlangsung selama satu tahun (649-650 masehi). Lalu, modifikasi dan restorasi Masjid Nabawi oleh Khalifah al-Walid yang menggabungkan struktur arabesque dengan gaya bangunan peribadatan Byzantium. Luas awal masjid ini awalnya hanya sekitar 2.000 meter persegi, kini mencapai 165.000 meter persegi. Selengkapnya baca di: :://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/30/kisah-masjid-nabawi-bertiang-pohon-kurma-beratap-pelepah/
Posted by by: on Aug 26, '07 11:04 PM for everyone  Sebuah masjid sepertinya hambar jika tanpa menara. Masjid-masjid jami’ di Indonesia hampir selalu mempunyai menara. Padahal, asal tahu saja, menara bukan unsur arsitektur asli bangunan masjid. Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun Nabi pun pada awalnya tak mempunyai menara. Begitu pula ketika masa Islam dipimpin oleh empat serangkai khalifah al-rasyidin, mulai Abu Bakar hingga Ali bin Abu Thalib: masjid-masjid yang dibangun tak bermenara. Hanya saja ada semacam ruang kecil di puncak teras masjid sebagai tempat muazzin mengumandangkan adzan. Dalam sejarah arsitektur masjid-masjid pertama, bisa dikatakan Khalifah Al-Walid (705-715) dari Bani Umayyah merupakan khalifah yang pertama kali memasukkan unsur menara dalam arsitektur masjid. Beliau memasukkan unsur menara sebagai bagian dari elemen arsitektur masjid ketika memugar bekas basilika Santo John (Yahya) menjadi sebuah masjid besar, yang kemudian menjadi Masjid Agung Damaskus. Menara masjid di setiap daerah punya ciri khas. Selengkapnya, baca di blog saya yang lain (wordpress). Klik: http://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/27/menara-masjid-adopsi-dari-tradisi-byzantium/
Posted by by: on Aug 24, '07 12:10 AM for everyone  Anda pasti mengira bahwa pola pusat perdagangan seperti mal-mal itu berasal dari budaya Barat? Sebenarnya tidak juga sebab jauh-jauh hari sebelum renaissance bangkit—peristiwa ini menjadi tonggak kebangkitan Eropa—dunia peradaban muslim sudah mengenal bangunan-bangunan besar yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan. Hanya saja, dulu bangunan seperti itu dikenal dengan istilah Bazaar. Lebih spesifik lagi, ada sebutan lokal seperti “qaysariyyan” di Syam dan “bedesten” di Turki. Nah, dari kata Bazaar itulah kemudian tercipta kata "Pasar" yang sekarang ini kita kenal. Juga kata kios, yang berasal dari kata "kiosk" sebuah elemen arsitektur khas bazaar di Turki masa lampau. Fakta-fakta apa saja tentang bazaar, yang merupakan warisan peradaban muslim berabad-abad silam? 1. Lokasi bazaar sangat diperhitungkan oleh Dewan Kota, yang bertanggung jawab kepada Gubernur/Khalifah. Jadi, pengusaha nggak bisa seenaknya bangun toko atau "mall". 2. Pola mall yang berkembang seperti sekarang dengan ciri khasnya yang masif, merupakan reinkarnasi dari BEDESTEN, pasar yang bercorak seperti benteng. Nah, utk lebih lengkapnya baca di blog saya yang lain: http://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/23/pasar-bazaar-warisan-peradaban-muslim-abad-10/
Posted by by: on Aug 22, '07 3:08 AM for everyone  Seperti janji saya, untuk mereview arsitektur bangunan yang dibangun oleh penguasa muslim di masa keemasannya berabad-abad silam kini, giliran Masjid Al-Azhar, di Kairo. Ulasan lengkapnya bisa dibaca di blog saya yang lain (wordpress), tapi berikut ini akan diutarakan beberapa fakta tentang Masjid Al-Azhar: Satu, Masjid Al-Azhar dibangun oleh penguasa Syiah Ismailiyah dari Dinasti Fatimiyah tapi kemudian Masjid Al-Azhar terkenal sebagai masjid kelompok Sunni hingga sekarang. Dua, setelah kejatuhan Dinasti Fatimiyah, masjid ini lalu dijadikan sebagai kampus untuk universitas ternama dalam kekhilafahan Sunni: Universitas Al-Azhar. Namun, sesungguhnya lembaga pendidikan di al-Azhar itu diresmikan oleh khalifah Muizz li Dinillah, yang Syiah. Jadi, kaum Sunni hanya melanjutkan saja kegiatan pendidikan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah. Semula, ide membuat lembaga pendidikan itu adalah untuk mengembangkan keilmuan dalam mazhab Syiah Ismailiyah. Namun, kemudian berkembang menjadi sebuah universitas. Tiga, hampir selama hampir satu abad (1171-1267 masehi) Masjid al-Azhar pernah sama sekali tidak digunakan untuk pelaksanaan shalat Jum’at. Hal ini karena, khalifah Shalahuddin al-Ayyubi–Panglima laskar yang berhasil menurunkan khalifah Fatimiyah terakhir: al-Adid, pada tahun 1171 masehi—menginstruksikan pemusatan shalat Jum’at di Masjid al-Hakim hingga salah seorang penguasa Dinasti Mamluk, Amir Izzuddin Aidmur al-Hilli mengaktifkan kembali shalat Jum’at di Masjid al-Azhar. Empat, ketika Dinasti Mamluk berkuasa, al-Azhar diaktifkan kembali. Bahkan, menjadi pusat berkumpulnya para cendekiawan muslim dari Cordoba yang sedang mengalami perang dengan tentara Tartar. Salah satu dari mereka di antaranya Ibnu Khaldun, filsuf dan ahli sejarah yang datang pada tahun 1382 masehi untuk mengajarkan hadits serta fiqih Imam Malik. Lima, masjid ini menjadi bukti adanya rasa persamaan di antara perbedaan: bahwa walaupun dibangun oleh kaum Syiah, namun akhirnya difungsikan menjadi pusat ilmu pengetahuan oleh kelompok Sunni. Para pendahulu telah membuktikan makna persamaan itu belasan abad silam. Sunni atau Syiah, adalah Islam. So, jangan pernah didikotomikan. by: sofwan{kalipaksi} selengkapnya: http://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/22/masjid-al-azhar-dibangun-oleh-syiah-digunakan-oleh-sunni/
Posted by by: on Aug 21, '07 2:55 AM for everyone  Dalam kurun waktu tiga tahun (2000-2003), saya mengasuh sebuah rubrik bernama Arsitektur Dunia Islam di sebuah majalah yang kontennya bersegmentasi Khazanah Dunia Islam. Nah, setelah berburu informasi, akhirnya saya terilhami buku "Moslem Architecture" yang bercerita banyak tentang produk-produk bangunan di zaman keemasan penguasa Muslim, mulai dari masjid, pasar, benteng, madrasah, hingga istana. Akhirnya, berangkat dari naskah di buku tersebut, yang kemudian saya terjemahkan serta bahan-bahan lain, lahirlah tulisan-tulisan tentang arsitektur muslim tersebut. Sebenarnya, dua di antaranya sudah saya posting di blog ini (kalipaksi.multiply.com), yakni tentang Masjid Isfahan dan Madrasah Isfahan, keduanya di Iran. Nah, mulai hari ini saya akan posting naskah-naskah itu di blog saya yang lain: kalipaksi.wordpress.com mengingat naskah yang berdurasi panjang. Tapi, tidak lupa saya berikan link-nya di blog MP ini agar sahabat-sahabat MP-ers juga bisa menikmatinya. Ternyata, sejarah selalu menyimpan rahasia super yang jika kita mau mengeksplorasinya secara utuh, kita akan bisa menjadi manusia yang lebih 'super' (meminjam istilah Mario Teguh, sang motivator O-Channel). Nah, sejarah bangunan-bangunan muslim di masa klasik itu pun demikian adanya. Misalnya, ternyata elemen kubah (dome) bukan datang dari kebudayaan muslim, melainkan dari Byzantium dan Romawi yang notabene sekarang ini kita sebut sebagai peradaban/kebudayaan Barat. Juga, ternyata, banyak masjid yang sempat berubah fungsi menjadi gereja. Juga sebaliknya, yang dulunya gereja lalu 'disulap' menjadi masjid. Salah satunya Masjid Cordoba, yang sempat diubah menjadi Gereja La Mosquita (mosque=masjid). Artinya, ada sebuah pergulatan inklusifisme di sana. So, selamat menikmati... klik: http://kalipaksi.wordpress.com/2007/08/21/masjid-cordoba-disempurnakan-dua-abad/
Posted by by: on Aug 15, '07 9:39 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Professional & Technical | | Author: | Sofwan D. Ardyanto & Agung Y. Achmad |
13 Agustus lalu, Gedung Mahkamah Konstitusi RI diresmikan oleh Presiden SBY. Dua hari kemudian, 15 Agustus kemarin, digelar selamatan yang dihadiri oleh beberapa pelakon politik kelas atas di negara ini, seperti: Megawati, Amien Rais, dan Akbar Tanjung.
Nah, dalam kedua even itu, para undangan mendapat oleh-oleh tiga buah buku tentang Mahkamah Konstitusi. Salah satunya, buku Rancang Bangun Gedung Mahkamah Konstitusi, yang saya tulis bersama seorang teman.
So, ini menjadi buku ketiga yang saya tulis. Berikut ini, sedikit ulasan, tentangnya:
Pendeskripsian tentang rancang bangun suatu gedung pemerintah seperti Buku Rancang Bangun Gedung Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ini merupakan tradisi baru, jika bukannya yang pertama kalinya. Tradisi semacam ini sungguh merupakan suatu preseden positif dan perlu dikembangkan. Bukan hanya sebagai penjelasan utama tentang sebuah bangunan, melainkan juga, paling tidak, sebagai dokumen resmi tentang bagaimana proses pembangunan sebuah gedung dilakukan.
Ide penulisan buku ini antara lain untuk memberikan penjelasan kepada publik tentang gaya arsitektur Gedung MK RI yang memang nampak cukup unik. Seperti bisa dilihat, pada bagian depan gedung lembaga tinggi negara ini tampak bentuk arsitektur bernuansa klasik, sebuah bentuk arsitektur yang unik di saat arus besar pembangunan gedung justru berpaling ke gaya modern. Tetapi, ide penulisan buku sesungguhnya tidak terbatas pada keunikan semacam itu, melainkan lebih kepada konsep bangunannya.
Nah, di dalam perjalanan penulisannya muncul perkembangan ide. Buku yang semula dirancang sebagai buku arsitektur dengan konsep album, berkembang menjadi buku rancang bangun gedung lengkap dengan penjelasan teknis dan detail tentang sistem-sistem pendukung gedung. Ide ini terutama karena dipengaruhi oleh langkanya buku-buku yang berisikan tentang bagaimana sebuah bangunan dipersiapkan sejak dari proses perencanaan, proses pembangunan hingga pengerjaan akhirnya, terutama bagi mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil. Jadilah buku ini diniatkan untuk mengisi kelangkaan buku-buku referensi tentang pelaksanaan membangun sebuah gedung. Dalam konteks penerbitan buku ini, proses pelaksanaan pembangunan Gedung MK RI menjadi studi kasus atau obyek observasinya.
Buku ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa di dua jurusan tersebut, atau berbagai kalangan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan arsitektur, bahkan bagi masyarakat awam sekalipun. Ya, karena buku ini menggunakan pendekatan populer di dalam pembahasaannya. Bahkan, seperti bisa dinikmati, gaya bahasa penulisannya pun mendekati gaya penuturan yang lazim dipakai di dunia jurnalistik.

Posted by by: on Aug 11, '07 5:01 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Dr. Sugimin Pranoto |
Akhirnya, buku ini terbit juga. Kerja keras selama tiga bulan untuk melakukan penyelarasan pun akhirnya terbayar tuntas. Semoga, ini bukan buku terakhir Pak Gimin (begitu kami menyapa klien kami: DR. Sugimin Pranoto, sang editor), yang merupakan Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum.
Ini data bukunya .......... Judul : Sejarah Pembangunan Permukiman Perdesaan di Indonesia Tahun : 2007 Editor : Dr. Sugimin Pranoto Penyelaras : Sofwan D. Ardyanto & Agung Y. Achmad Penerbit : Alfabeta, Bandung Tebal : 154 hal. Dan ini, sekelumit resonansi (baca: resensi) tentangnya .............
Gejala (dan akhirnya menjadi kenyataan) ketidakadilan di negara-negara yang menganut paradigma developmentalism terjadi tidak hanya dalam konteks struktur sosialnya, tetapi juga pada ranah geografis. Jelasnya, kawasan perkotaan lebih banyak mendapatkan sentuhan pembangunan dibandingkan dengan wilayah perdesaan. Pembangunan kawasan perdesaan selamanya hanya menjadi subordinasi dari kebijakan pembangunan kawasan perkotaan. Di antara sampel menonjol dari perbedaan tajam di dua kawasan itu adalah prasarana permukimannya. Kondisi permukiman di perdesaan jauh tertinggal dibandingkan permukiman di wilayah perkotaan. Bukan hanya pada fisik bangunan rumahnya, tetapi juga kualitas infrastruktur di lingkungan permukimannya. Hal terakhir ini berdampak pada kualitas hidup hingga akses ekonomi penduduknya. Kenyataan ini jelas ironis, karena kawasan perdesaan merupakan daerah tempat tinggal sebagian besar penduduk negara-negara di negara-negara development countries. Indonesia bukan negara pengecualian dari fenomena di atas. Pemerintah Orde Baru sejak awal mendesain negara ini dengan paradigma developmentalisme. Hanya saja, di tengah dinamika pembangunan melaju dengan cepat di era tersebut, sebenarnya ketika itu pemerintah telah menyiapkan konsep dan program pembangunan permukiman perdesaan. Bahkan, kebijakan yang dimaksud telah dimulai sejak Pelita
Keberanian mengemukakan sesuatu yang secara substantif bagus di saat semua yang berbau Orde Baru dinilai buruk menjadi salah satu alasan mengapa buku ini menarik untuk dibaca. Dalam perspektif historis, buku ini menceritakan perkembangan konsepsi, kebijakan dan program pemerintah serta pergulatan para pelaksana di lapangan selama proses pembangunan permukiman perdesaan dari waktu ke waktu (dari Pelita I hingga Pelita IV). Selaku editor, Sugimin Pranoto, Dr, menyusun pengalaman beberapa rekannya di lingkungan Departemen PU di masanya yang kebetulan juga menjadi pelaksana pilot proyek menjadi suatu narasi yang tidak membosankan.
Mereka adalah para insinyur muda yang sengaja diterjunkan ke sejumlah desa di Tanah Air yang ciri-ciri penduduknya rendah pendidikannya, produktivitasnya, tingkat kesejahteraannya, dan seterusnya. Bersama penduduk mereka membangun kawasan infrastruktur permukiman yang lebih baik dari sisi teknis, tenologis. Cerita sukses di beberapa desa seperti di Kendel, Boyolali (hal. 3), Sangkepan Banjar, Bali (hal 136), Toraja (hal. 142) melengkapi gambaran menyeluruh bagaimana kebijakan pembangunan permukiman perdesaan adalah bukan sesuatu yang sepele.
Meskipun merupakan catatan masa lalu, buku ini mengusung hipotesa dan metodologi yang masih relevan untuk menangani kompleksitas masalah permukiman perumahaan pada saat ini—baik di perdesaan maupun perkotaan. Tak berlebihan untuk mengatakan program-program semacam P2KP pada saat ini, yang juga diemban departemen yang sama, yakni Departemen PU, adalah metamorfosa dari program semisal Program Peningkatan Mutu Perumahan dan Lingkungan Desa atau PMP-LD (hal.76) pada tahun delapan puluhan. Demikian pula dengan adanya wacana akan di hidupkanya kembali fungsi fungsi pusat informasi pembangunan saat ini , kala itu pada tahun 70 an (hal.6) juga telah didirikan 4 unit Building Information Center (BIC) diantaranya di Yogyakarta.
Meskipun banyak kendala, program-program pembangunan permukiman perdesaan di Tanah Air di atas berlangsung cukup sukses. Pengalaman di lapangan lah yang mengajari semua itu. Pembangunan permukiman semula didekati secara sektoral. Pendekatan keterpaduan mengantikannya, menggeser kegiatan yang bersifat fisik ke kegiatan dengan pendekatan Tribina: bina manusia (peningkatan kemampuan sumber daya manusia), bina lingkungan (kegiatan pembangunan prasarana dan sarana), bina usaha (kegiatan untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi perdesaan). Ketika itu, pembangunan permukiman di perdesaan telah bertumpu pada kesadaran, prakarsa masyarakat dan kearifan lokal.

Posted by by: on Jun 9, '07 2:23 AM for everyone  Menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta, seakan-akan membuat kita merasa berada di Eropa. Jajaran karya arsitektur dengan nuansa Indis yang kental, yang dilingkupi kanal-kanal dan taman (square), merupakan warisan era penjajahan Belanda dari abad ke-18. Nuansa itu, sungguh menggambarkan pesona kawasan Kota Tua Jakarta, yang dahulu dikenal dengan sebutan Oud Batavia.
Kota Tua Jakarta merupakan embrio atau cikal bakal dalam sejarah pembentukan dan perkembangan Kota Jakarta. Pada masa lalu, Jakarta Kota (Oud Batavia) merupakan ibukota Batavia dan merupakan pusat penting kegiatan ekonomi dan politik Pemerintah Hindia Belanda. Berdasarkan buku harian seorang prajurit tua Gedenkschrijften van een oud koloniaal, Clockener Brousson mengungkapkan bahwa Kota Tua Jakarta pernah mengalami masa kejayaan pada pertengahan abad ke-17 sehingga sempat mendapat julukan sebagai ”Queen of the East”. Saat ini kondisi kawasan Kota Tua sungguh sangat memprihatinkan, lengkap dengan berbagai permasalahan yang timbul di dalamnya, mulai dari persoalan kemacetan, polusi udara dan polusi air sungai, sampah, kumuh, tidak aman, kondisi infrastruktur dan utilitas seperti drainase yang buruk, minimnya sarana pedestrian, masalah perparkiran, menurunnya kualitas lingkungan, kurangnya keterkaitan (lack of linkages) antarpusat kegiatan di Kota Tua, hingga lemahnya koordinasi antardinas pada pemerintah kota (yang terkait dengan kebijakan dan program dalam penanganan kawasan Kota Tua Jakarta). Selain itu, banyak karya arsitektur dengan nilai historis tinggi yang rusak, terbengkalai ataupun hancur dengan sendirinya (self destruction).
Dari dahulu hingga sekarang, sejatinya kawasan Kota Tua memiliki posisi yang sangat strategis bagi Kota Jakarta. Di masa lalu, kawasan Kota Tua merupakan pintu gerbang utama untuk memasuki Jakarta melalui Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Dan kini, dengan berbagai kemudahan akses darat yang cukup baik—terlebih setelah dilalui jalur bus Transjakarta (busway) yang dibangun Pemerintah DKI Jakarta—kawasan ini tetap memiliki posisi penting, salah satunya sebagai kawasan perdagangan. Kawasan Kota Tua dilingkupi oleh pusat-pusat bisnis seperti Glodok, Mangga Dua, Tanah Abang dan lainnya, yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan kawasan Kota Tua Jakarta, terutama dari segi ekonomi. Bahkan, pada kurun waktu 1965-1985, kawasan Kota Tua bahkan termasuk salah satu kawasan bisnis utama (Central Business District) di Jakarta. Jelas, tidak bisa dipungkiri bahwa Kawasan Kota Tua Jakarta menyisakan jejak struktur Kota Tua era kolonial serta arsitektur bersejarah dengan nilai historis sangat tinggi, yang sekaligus merupakan cerminan kisah sejarah, tata cara hidup, budaya dan peradaban masyarakat Jakarta di masa lampau. Sungguh, itu semua merupakan laboratorium hidup bagi generasi muda untuk mempelajari, menghayati dan menghargai warisan leluhurnya.
Jadi, tolong dong dijaga situs yang unik dan akan menjadi kenangan hidup orang Jakarta ini.

Posted by by: on Jun 3, '07 2:54 AM for everyone  by: Kalipaksi
Dalam dunia arsitektur muslim klasik, kecenderungan pembangunan madrasah pertama kali muncul di daerah Khurasan, ketika gubernurnya, Nidham al-Muluk membangun madrasah yang kemudian dikenal sebagai Madrasah Nidham itu. Pola ini lalu berkembang selari dengan revolusi sosial dan perubahan konstelasi politik masa itu hingga menyebar ke seantero Persia. Salah satunya adalah Madrasah Shah di Isfahan. Madrasah Shah di Isfahan yang didirikan antara tahun 1712 hingga 1718 ini merupakan madrasah termegah di Iran.
Madrasah ini terletak di bagian utara kompleks masjid. Seperti halnya Madrasah Firdausi yang ada di Aleppo, madrasah ini—dan juga sebagian besar bangunan madrasah sejenis di Iran—mempunyai unsur “iwan”. Selain “iwan”, pola arsitektur madrasah ini juga mempunyai kesamaan dengan pola yang ada di Madrasah Firdaus di Aleppo: pintu gerbangnya memiliki atap dengan pola stalaktit. Pola ini sudah populer sejak abad 13 masehi. Walaupun sebenarnya, pintu gerbang ini merupakan pintu gerbang utama Masjid Shah di samping pintu masuk lainnya, namun pintu ini juga akses menuju kompleks madrasah. Madrasah Shah memiliki beberapa bagian: pelataran, asrama santri, asrama guru dan perkantoran serta ruang belajar pada bagian bangunan dengan model “kiosk” dalam kompleks itu.
Di bawahnya, di sanalah ruang pertemuan majlis. Ruang itu ditopang oleh dua aula yang digunakan sebagai ruang kelas. Keberadaan madrasah dalam masjid sebenarnya bukan model baru. Di masa Muhammad Saw pun sudah terdengar kata “suffah” yang merupakan majlis tarbiyah (pendidikan). Jadi sejak awal, masjid mempunyai fungsi ganda—walaupun tak semua masjid—sama ada sebagai tempat shalat maupun sebagai tempat kaderisasi dalam bentuk collegiate mosque atau madrasah (baca: lembaga pendidikan, red).
Hanya saja dalam perkembangannya lalu dibuatkan arena khusus bagi madrasah di luar bangunan masjid, tetapi masih dalam satu kompleks. Rancangan Madrasah Shah ini—yang mengambil model di Khurasan—tampaknya mempunyai pola seperti bentuk rumah ala Persia. Ada ciri khas dari pola itu: memiliki pelataran lengkap dengan “iwan-iwan”-nya; para ustadz tinggal di blok “iwan” sedangkan santri di kamar-kamar yang terdapat di sepanjang lorong dan kamar yang mempunyai akses pandangan ke pelataran tadi. Para penghuni kamar-kamar itu selain belajar juga dilibatkan dalam pengelolaan bangunan. Misalnya dalam pemeliharaan saluran air yang melintasi pelataran dari masjid ke madrasah dalam bentuk iuran. Manajemen pemeliharaannya pun masih berkaitan dengan takmir almasjid-nya. Toh, walau bagaimanapun juga secara estetis, Madrasah Shah ini—seperti halnya madrasah-madrasah lainnya—sebenarnya merupakan bentuk improvisasi atas ruang lapang pada masjid, dalam hal ini Masjid Shah.
Selain mempunyai keunggulan-keunggulan estetis, madrasah ini juga menyimpan benda-benda bersejarah dalam perkembangan dunia pengetahuan di dunia Islam. Misalnya saja sebuah sundial (alat penunjuk waktu berdasarkan bayangan sinar matahari—red) yang dibuat oleh Syaykh Baha’i, matematikawan besar Iran abad 17.
(by: Sofwan - 2007 >> artikel ini saya tulis pada 2003 dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah internal) 
Posted by by: on Jun 3, '07 2:09 AM for everyone  Masjid Imam dan Madrasah Shah di Isfahan
Maskot Isfahan Nisfe Jahan
Isfahan Nisfe Jahan. Slogan berbahasa Persia itu mempunyai arti “Isfahan Kota Separuh Dunia”. Gelar ini diberikan kepada kota Isfahan karena keindahannya. Memang agak berlebihan, namun gelar itu muncul ketika Isfahan sedang Mengalami pembangunan besar-besaran ketika Shah Abbas, salah seorang penguasa dari Dinasti Safawi—diambil dari nama Safiuddin Ardabelli, pendiri thariqah Safawiyah—menjadi penguasa Iran pada abad 16 masehi. Shah Abbas merupakan salah satu kepala negara yang getol melakukan pembangunan fisik kota Isfahan.
Hal ini merupakan dampak dari pulihnya kewibawaan Persia yang berhasil dikembalikan oleh Dinasti Safawi yang menjadi pemerintah di Iran selama dua setengah abad (1499-1722). Salah satu magnet kota Isfahan terdapat di pusat kotanya: sebuah alun-alun yang dikelilingi bangunan arsitektur inovatif seperti Masjid Shah (kini bernama Masjid Imam) lengkap dengan Madrasah Shah-nya dan beberapa bangunan lainnya.
Isfahan mempunyai beberapa masjid besar. Selain Masjid Shah, ada pula Masjid Jami’ Isfahan. Hanya saja, ditinjau dari sudut pandang arsitektur dan sejarah, masjid Shah dipandang memiliki kelebihan dibanding masjid-masjid lain di Isfahan, bahkan di Iran dan daratan Persia yang meliputi Iraq dan Azerbaijan. Masjid Shah—kini bernama Masjid Imam—merupakan masjid yang menerapkan pola Arsitektur Seljuk dengan menampilkan lengkung-lengkung “iwan”: sebuah beranda yang sangat besar yang terdapat di setiap sentral sisi-sisi pelataran. Seperti halnya masjid-masjid lain di Iran, masjid ini pun mempunyai kubah besar yang ditempatkan di arah kiblat. Sepertinya ini rancangan khas Iran. Selain itu pada beberapa bagian masjid dan bangunan untuk madrasah tampak pula kubah-kubah kecil yang juga khas bangunan rumah di Iran—dan sebagian di Turki—yang disebut “kiosk”. Menurut kamus, “kiosk” bermakna pola bangunan di Turki dan Iran yang atapnya disangga banyak pilar. Teknik ini sudah lama dipakai di Persia, bahkan penemunya pun diklaim para arsitek Persia kuno, walaupun lebih berkembang di Turki pada masa Ottoman. Para arsitek Persia ini dianggap berhasil menemukan teknik membangun kubah bundar di atas pondasi segi empat dengan keempat lengkung diagonalnya.
Masjid Shah dibangun selama empat tahun, antara tahun 1612-1637. Pada prinsipnya masjid ini berlanggam sama dengan masjid-masjid yang dibangun pada masa Seljuk: memiliki ruangan lebar dan tinggi dengan atap lengkung yang berfungsi sebagai pusat tempat yang dianggap suci. Tak ketinggalan, kubah besar yang diletakkan pada arah kiblat tadi, di bawahnya merupakan ruangan mihrab. Kubah besar tersebut dilapisi dengan keramik ubin (glazed tile), bukan mosaik tile yang populer di masa kejayaan Abbasiyah yang juga banyak membangun masjid-masjid besar. Namun demikian pada prinsipnya, akar teknologi antara keduanya sama: menggunakan bahan pelapis dari tanah liat. Hanya saja pada kubah Masjid Shah dibuatkan model dengan motif yang full-flowers: hiasan dekoratif kembang. Disain glazed tile ini mulai berkembang dalam aplikasi arsitektur di Iran dan Turki pada abad 16 dan 17 masehi.
Kubah Masjid Shah ini oleh banyak arkeolog dan pengamat arsitektur klasik dipandang sebagai karya kubah dengan ubin berwarna (tilework) masa Safawi yang paling brilian. Penilaian itu lebih karena pada keindahan motif dan komposisi warnanya. Selain itu, juga bentuk pecahan ubin yang mengikuti bentuk lengkungan pada bagian kubah dan juga pada menaranya yang berbentuk silinder. Selain kedua unsur tadi (kubah dan menara), gerbang masuk utama masjid sebagian besar juga dilapisi oleh glazed tiles dengan pola lukisan yang tidak sederhana dengan warna yang beragam pula. Teknik ini, pada masa itu dianggap lebih efisien daripada menggunakan tile-mosaik.
Standar bangunan-bangunan masjid di Iran merupakan resultan dari perpaduan antara masjid lokal ber-“kiosk” dan mempunyai unsur bangunan madrasah. Kemudian, barulah perpaduan itu lalu ditambahkan unsur menara dan kubah.
(Tulisan ini kutulis pada tahun 2003, dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah terbitan pesantren).

Posted by by: on Jun 3, '07 1:44 AM for everyone  Kubah al-Sakhrah: Masterpiece Pertama Arsitektur Islam
Ternyata, bangunan-bangunan yang dibangun oleh para penguasa muslim pada zaman keemasan muslim tak kalah hebat dan megahnya dengan bangunan-bangunan masa kini. Bahkan, telah teruji ratusan tahun tetap tegak berdiri di bumi Allah ini.
Lihat gambar kedua pada tulisan ini. Gambar itu adalah kompleks (haekal) bersejarah di Bukit Haram al-Syarif, Yerussalem. Masjid al-Aqsha, peninggalan Nabi Sulaiman yang terkenal itu terletak di kompleks itu. Di sana tampak dua buah bangunan berkubah: kubah bangunan pertama berwarna emas dan kubah bangunan kedua berwarna perak. Coba tebak yang mana Masjid al-Aqsha? Kebanyakan orang menyangka bahwa bangunan dengan kubah emas itulah Masjid al-Aqsha. Salah satu alasannya: bangunan itu lebih besar daripada bangunan pertama (kubah warna perak). Padahal, bukan itu. Justru bangunan dengan kubah berwarna perak dan lebih kecil itulah Masjid al-Aqsha .
Bangunan dengan kubah berwarna emas itu adalah bangunan Kubah al-Sakhrah. Dalam kosa kata bahasa Inggris dinamai Dome of The Rock. Kebanyakan orang Islam, di luar Timur Tengah, lebih mengenal Masjid al-Aqsha dibandingkan Kubah al-Sakhrah. Padahal, bangunan ini merupakan masterpiece arsitektur pertama yang dibangun (bukan hanya sekedar memugar) oleh penguasa Islam pascaMuhammad.
Di dalam bangunan berbentuk segi delapan tersebut, terdapat sebuah batu hitam: sakhrah al-muqaddasah yang diyakini sebagai tempat Nabi Ibrahim hendak ‘menyembelih’ putranya Isma’il. Bahkan, dianggap pula sebagai tempat persinggahan Nabi Muhammad tatkala melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Kubah al-Sakhrah dibangun kembali selama lima tahun (687-692)--sebelum pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan, dari Dinasti Umayyah. Dialah pengganti khalifah Yazid I, orang yang dianggap bertanggung jawab atas syahid-nya Husain bin ‘Ali Abi Thalib. Sebelum itu, hanya berupa monumen biasa berbentuk kubah yang dibangun oleh ‘Umar ibnu al-Khaththab.
Demi memperkuat posisi Damaskus (ibu kota kekhilafahan Umayyah) dalam percaturan politik internasional, Abdul Malik berfikir untuk membangun sebuah bangunan mercusuar sebagai bagian dari alat propaganda politik negara. Bangunan itu, dalam benak Abdul Malik, diharapkan bisa menarik lebih banyak peziarah ke Jerussalem, yang pada saat itu berada di bawah kendali Damaskus. Kharisma Yeru-salem bagi pemeluk tiga agama samawi: Islam, Kristen dan Yahudi dianggap sangat menguntungkan Damaskus.
Syahdan, Abdul Malik pun mulai mengumpulkan para insinyur dan arsitek yang pernah dilatih oleh arsitek kawakan yang pernah menjadi pegawai pemerintah Byzantium (Romawi). Para arsitek dan insinyur dari Arab itu, sebagian lagi asli Syiria, dilatih pada masa Muawwiyah—sang pendiri dinasti—berkuasa. Mereka inilah yang mendesain proyek Kubah al-Sakhrah hingga ke bagian detailnya. Namun, Abdul Malik menunjuk seorang ahli bangunan bangsa Syiria menjadi pimpinan proyek sebagai penghormatan bagi orang Syria, tempat Damaskus berada. Sedangkan, pelukis mosaik didatangkan dari Konstantinopel (sekarang Istambul di Turki).
Ornamen bangunan yang dibuat oleh para ahli mosaik Turki itu didominasi oleh motif tanaman. Malahan pada ornamen yang didominasi warna biru itu hampir tidak ada motif manusia. Sementara itu, struktur kubah juga memiliki kesamaan dengan kubah pada bangunan Qalat of Siman dan kubah Katederal di Bashra yang telah lebih dulu berdiri. Kedua bangunan ini juga didirikan pada masa pemerintahan Byzantium. Kerangka kubah dibuat dua lapis: luar dan dalam, dengan bahan kayu. Kerangka luar dibuat agak menonjol dibanding kerangka dalam yang berbentuk setengah lingkaran (seperi bola dunia dibelah dua).
Ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari sejarah pembangunan Kubah al-Sakhrah ini: Abdul Malik mengaplikasikan gaya arsitektur zaman Byzantium dalam karya besarnya. Bahkan, ilmu rancang bangunannya pun diperoleh dari para ahli bangunan jaman Byzantium. Inilah yang disebut dengan: “al-muhafadzhoti ala al-qodimi sholih wa al-akhdu bi al-jadidi al-aslah”. Bermakna: tetap mempertahankan sesuatu yang klasik (baik) kemudian kita mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.
by: Sofwan-2007 >> artikel ini saya tulis pada 2003 dan pernah diterbitkan pada sebuah majalah internal) 
Posted by by: on Jun 1, '07 8:02 AM for everyone
| |