by:'s posts with tag: indigenous people
Posted by by: on Nov 28, '07 10:57 PM for everyone |  | Old Stock Photo.... Old Woman Photo.... Old and Classic Humanity....
"aku nggak perlu uang ribuan... yang aku mau ada lahan tuk makan... asal ada ubi...untuk ku makan asal ada babi...untuk ku panggang aku cukup senang..... dan akupun tenang...."
pics by: sofwan.kalipaksi teks : Slank Lokasi : Wamena, 2005
|
Posted by by: on Nov 27, '07 11:27 PM for everyone |  | ........................... ........................... ...........................
Meski sesama warga suku Lani, dua pria dalam foto itu memberi dua kesan yang berbeda: urbanized dan un-urbanized. Satu pria sudah menyesuaikan diri dengan budaya berbusana era kini. Satu lagi masih mempertahankan cara berbusana adat Lani.
pics by : sofwan{kalipaksi} lokasi : Wamena, Jayawijaya |
Posted by by: on Nov 22, '07 10:27 AM for everyone |  | Dapat kabar dari perbatasan, katanya, kawan di foto ini kini sudah menjadi WNI. Sayang, aku lupa namanya.
"Wan, teman kita yg fotonya kamu abadikan dulu sedang menggendong anak berbaju Dora sudah resmi jadi WNI. Juga kawan-kawan lain..." begitu bunyi SMS yang kuterima.
Good luck kawan. Selamat menjadi saudara sebangsa dan setanah air.
pics: sofwan{kalipaksi} lokasi: Atambua, NTT |
Posted by by: on Sep 18, '07 9:06 PM for everyone  Dua hari lalu sebuah SMS datang dari Butet: "Mas, aku mau launching buku. Datang ya."
"Oke", jawab saya. Butet akan melaunching bukunya besok, Kamis 20 September 2007 di daerah Gambir. Buku itu tentang pergulatannya tinggal bersama Orang RImba, sebuah suku pedalaman di hutan Jambi.
Saya kenal Butet dua tahun lalu ketika ia saya minta untuk menjadi penulis ahli di sebuah buku tebal yang saya tulis bersama beberapa teman. Nah, satu bab dalam buku itu bercerita tentang pergulatan memanusiakan dan mengangkat harkat martabat para indigenous people di negeri. Dalam konteks ini, Butet merupakan salah satu pribadi yang sudah punya karya dan aksi nyata sebagai seorang aktivis.
Saat yang lain berlomba mencari kerja di kota, Saur Marlina "Butet" Manurung justru masuk hutan, bergelut dengan suku pedalaman. Ia memang tidak mencari pekerjaan. Niatnya hanyalah, bisa berguna bagi orang lain. Maka, ia pun mengabdikan diri dengan memberi pendidikan kepada Orang Rimba.
Butet Manurung bahkan tinggal sembilan bulan di hutan Jambi, Sumatra, setiap tahun. Tujuannya bukan untuk menyelamatkan pohon tetapi suku Orang Rimba yang tinggal di antara pepohonan setempat. Suku yang berjumlah ratusan orang ini adalah kaum pengembara yang masih mengenakan cawat, tinggal di gubuk, berburu ular, rusa dan celeng, mencari umbi-umbian serta memuji berbagai dewa. Sebelumnya mereka termasuk suku primitif, tak tersentuh dunia moderen, tetapi kini kehidupan mereka kian terancam modernisasi.
Butet pernah melatih mereka membantu LSM melacak penebangan pohon secara ilegal. Tetapi ia kecewa dengan program ini karena menganggapnya tak relevan lagi. "Tak ada gunanya menjadi pelestari lingkungan mengingat hutan akan menghilang dalam 20 tahun mendatang," kata gadis Batak yang lahir dan dibesarkan di Jakarta tetapi tinggal seperti suku Orang Rimba selama di hutan, "Saya ingin bersikap realistis bukan romantis," tambahnya.
Dilengkapi papan tulis hitam, kapur dan beberapa pena dan kertas, Butet mengajari Orang Rimba membaca, menulis dan menghitung dalam bahasa asli mereka yang sejenis bahasa kuno Melayu dan juga bahasa Indonesia. Merupakan pelajaran mendasar tetapi Orang Rimba yang sering ditipu dari tanah mereka oleh para warga desa dan penebang pohon yang tak peduli. Orang Rimba ini diminta para pelaku ini membubuhkan sidik jari pada dokumen yang tak bisa mereka baca. Didikan yang mereka peroleh dari Butet adalah alat untuk membantu mereka menghadapi dunia moderen. "Mengingat bagaimana habitat alam dirusakkan, mereka akan menjadi para pengemis atau kuli tanpa pendidikan," kata Butet yang telah melatih 14 guru lain untuk membantunya. "Saya baru selesai ketika Orang Rimba bisa membela diri sendiri," harap wanita pejuang wanita tanpa tanda jasa ini.
Kini Butet menjadi Direktur SOKOLA yang mengawali kegiatannya di komunitas Orang Rimba, Jambi. Meski baru berdiri pada akhir tahun 2003, kegiatan fasilitasi baca-tulis-hitung telah dirintis oleh Butet Manurung sejak tahun 1999 sebelum akhirnya mendirikan SOKOLA bersama lima orang yang telah berpengalaman lainnya. Metode yang dihasilkan melalui perjalanan panjang pendampingan oleh Butet itulah yang kemudian digunakan oleh SOKOLA dan dikembangkan menurut kebutuhan komunitas yang menjadi peserta belajarnya. .
Saat ini SOKOLA membuka peluang volunteer mandiri di lokasi program fasilitasi baca-tulis SOKOLA di desa Wailago, Pulau Besar, Sikka, NTT.
Untuk Butet....terus semangat. Oh ya, kapan kita bisa menapaktilasi jejak Butet? Setidaknya untuk bidang lain yang kita mampu menempuhnya.

Posted by by: on Jul 23, '07 4:49 AM for everyone |  | Panen....ya, itu sesuatu yang senantiasa dinanti keluarga petani. Setidaknya, ketika bulir-bulir padi nan kuning dituai, ketika itulah asa atas senyum anak isteri berkembang.
teks & pics: sofwan {kalipaksi} |
Posted by by: on Jun 18, '07 10:09 PM for everyone |  | Anak-anak memang menggemaskan. Dan, selalu menjadi target bidikan kamera yang menarik. Ekspresi mereka spontan dan polos. Meski, ada juga yang malu-malu.
Sewaktu mau jeprat-jepret kegiatan bermain anak-anak yang tinggal di lereng Rinjani (NTB), seorang anak di antara mereka tiba-tiba menangis histeris. Entah kenapa? Tapi, sepertinya dia tidak nyaman dengan kehadiran kami. Tapi, justru, ekpresi tangisannya itu menjadi obyek yang menarik utk diabadikan.
Berbeda dengan teman si bocah, yang ternyata cuek-cuek saja dijadikan model dadakan.
Pemirsa, berikut ini dua jepretan oleh-oleh dari hasil jalan-jalan ke Gunung Rinjani.
teks & pics: sofwan {kalipaksi} - 2007 |
Posted by by: on Jun 9, '07 11:29 AM for everyone |  | Di Pulau Seram, Maluku Tengah, terdapat sebuah suku yang punya ciri khas memakai ikat kepala berwarna merah. Ya...tidak jauh berbeda dengan Kopassus dengan baret merahnya. Agama mereka masih merupakan agama kepercayaan nenek moyang.
Jika mau datang ke kampung atau permukiman tempat mereka tinggal, sebagai tamu, bawalah beberapa helai kain merah. Semakin banyak kain merah yang kita berikan kepada mereka, akan semakin tinggi penghormatan kepada kita.
Kedua foto ini merupakan kenang-kenangan ketika saya melakukan reportase tentang indigenous people di pulau itu tahun 2005 lalu.
foto by: sofwan {kalipaksi} - 2005 |
Posted by by: on Jun 9, '07 7:16 AM for everyone |  | Namanya Papuq Mahnen. Dalam bahasa sasak, papuq berarti nenek. Usianya sekarang sudah mencapai 99 tahun. Setidaknya itu informasi yang saya peroleh dari para warga Desa Bayan di lereng Gunung Rinjani, Pulau Lombok.
Nenek Mahnen, tinggal di sebuah desa yang merupakan salah satu desa percontohan pembinaan indigenous people di NTB. Ia sangat senang duduk berjongkok di sudut teras depan rumahnya, yang masih beralaskan tanah dan berdinding sulaman bambu....
Ah....saya tak tahu apa yang ada di dalam relung tatapan matanya yang tampak kosong itu. Entah menerawang jauh hingga ke mana? Atau mungkin, mencoba meneroka jalan-jalan setapak menuju akhirat kelak, mengingat usianya yang sudah demikian senja.
Saya tidak tahu apakah bisa berjumpa lagi dengannya.....
|
Posted by by: on Jun 9, '07 6:49 AM for everyone |  | Foto-foto ini merupakan kenangan ketika meliput jejak-jejak pemberdayaan indigenous people (komunitas adat terpencil) di Wamena, Jayawijaya. Program pemberdayaan itu dimulai ketika digelar Operasi Koteka pada akhir dekade 1970 dan awal dekade 1980-an. Dan kini, hasilnya, saudara-saudara kita di kawasan pegunungan tengah pulau Papua itu telah lebih berdaya, dalam konteks modernisasi.
Tentu saja, ada kerinduan untuk bisa menapakkan kaki di bumi Wamena. Mengitari lembah Baliem dengan sepeda motor Pak Mathius, seorang pekerja sosial yang sejak dua dekade lalu ikut memberdayakan kaumnya.
Udara Wamena memang sangat dingin, tetapi senyum warganya selalu hangat. Dan, saya rindu untuk ditegursapa: "selamat pagi, Bapak".
foto-foto by: sofwan {kalipaksi} |
Posted by by: on Jun 9, '07 5:44 AM for everyone  Saya jadi teringat Butet Manurung ketika membuka kembali file foto ini. Memang, sudah agak lupa siapa ya dulu yg jepret ini foto? Tapi yang jelas, salut banget deh untuk Butet cs. Oh, ya...masih ingat Butet kan? Itu lho, yang jadi ikon iklan Kompas tentang anak-anak suku Kubu di Jambi, Butet menyebut mereka: Orang Rimba (OR).
Ketika Butet menulis sebuah artikel pendukung untuk buku yang saya tulis ada satu poin yang hingga sekarang masih terkenang. Katanya, ukuran kebahagiaan OR dan kita yang orang kota berbeda. Sewaktu Butet bercerita bahwa shampoo yang dibawanya dari Jakarta dianggap berbau aneh oleh OR, dan lebih memilih utk menggunakan shampoo alami yang diracik dari dedaunan hutan Jambi. Yang jelas, ada dunia lain nun di pedalaman sana, yang parameternya sangat berbeda dengan parameter kita, yang tinggal di perkotaan.
Tapi, jangan lantas kita merasa lebih beradab dari mereka. Dari satu sisi, ya..tapi dari sisi lain mereka lebih beradab. Misalnya, pandangan hidup mereka yang sangat menghormati alam dan lingkungan semula jadinya. 
Posted by by: on Jun 9, '07 2:44 AM for everyone Foto ini aku peroleh sewaktu bersama teman-teman di MAHIA Comm dan Ahadpoint Comm menjadi EO bagi sebuah pameran foto tentang Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Samarinda.
Foto ini dahsyat sekali. Coba perhatikan teksture dan ekspresi wajah nenek dari suku Dayak itu. Sayangnya, file-file foto hasil jepretanku yang juga tentang indigenous people masih berserakan di mana-mana lantaran CD yang menjadi rumah bagi foto-foto itu tertumpuk di gudang ketika kami pindah kantor ke Kebayoran.
Semoga cepat ditemukan...supaya bisa juga dinikmati oleh kalian semua.
| |