sofwan weblog-multiply edition

by:'s posts with tag: televisi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag televisi
Posted by by: on Apr 18, '08 3:06 AM for everyone

Semestinya, jurnal ini ditulis kemaren, sehari setelah tayangan Topik Minggu Ini di SCTV bertajuk “Negeri Sensor” disiarkan. Namun, karena sempatnya baru hari ini, tak mengapalah: lebih baik terlambat daripada tak sama sekali.

Malam itu, redaksi Liputan6 SCTV menghadirkan dua narasumber pembicara: sutradara muda Riri Reza dan Menpora Adhyaksa Dault. Temanya, ah, sesuatu yang tidak “nendang” sebenarnya: goyangan Dewi Persik yang menuai cekal di beberapa kota, yakni Depok, Tangerang, dan Bandung.

Terkait dengan judul jurnal ini, Riri Reza, I dont agree with U, sebenarnya merupakan kekecewaan atas argumen sang sutradara vokal ini, yang menurut saya, mengada-ada. Memang, tidak semua argumennya pada dialog itu, tapi lebih pada beberapa poin saja.

Saya setuju dengan Riri yang bersikap bahwa negara tak perlu membatasi keran kreativitas para pekerja seni. Bung Riri, 100% absolutely saya setuju. Saya juga setuju dengan argumen Riri bahwa tradisi berkesenian di negeri ini, khususnya, yang berkaitan dengan seni tari juga dipenuhi dengan gerakan-gerakan erotis, seperti pada ronggeng, misalnya.

Namun, saya kecewa ketika mendengar beberapa argumen anda yang terkesan dipaksakan dan tidak ilmiah. Dan, sungguh, itu menurunkan rasa kagum saya kepada Riri atas jasa-jasa nya membangkitkan gairah perfilman Indonesia, dan kebebasan untuk berkreasi.

Apa saja, argumen Riri Reza, yang terkesan dipaksakan itu?

  • Riri bilang bahwa penolakan/pencekalan goyangan Dewi Persik merupakan reaksi mayoritas atas kreasi minoritas. Well, kemudian siapa yang mayoritas itu? Dari argumennya, Riri terkesan malu-malu bahwa si mayoritas itu adalah kaum religius. Riri justru lebih mengarahkan “si mayoritas” sebagai kaum lelaki, yang merasa terganggu dengan kebebasan berekspresi seorang Dewi Persik, yang notebene perempuan. Tampaknya, argumen ini berhulu pada gender para walikota pencekal, yang kebetulan laki-laki.
  • Riri juga bilang bahwa goyangan Dewi Persik tidak lari dari akar tradisi budaya berkesenian Indonesia, khususnya seni tari, yang diwarnai dengan gerakan-gerakan erotisme. “Jadi, jangan naif lah bahwa penampilan Dewi Persik tidak sesuai dengan budaya orang kita,” kata Riri. Oke, tapi, Riri lupa bahwa erotisme pada tarian-tarian tradisional itu lebih bersifat simbolik, tidak artikulatif vulgar seperti yang saya tonton pada video goyangan Dewi Persik.

So, sebagai nobody, yang hanyalah seorang blogger biasa-biasa saja–bukan sutradara kondang atau pemerhati kesenian terkemuka–saya hanya ingin sedikit urun rembug atas diskusi Riri dan Menpora.

Saya hanya ingin mengajukan sebuah instrumen alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia untuk mengukur: pantaskah eksperimental performa koreografi Dewi Persik, yang menuai pencekalan itu? Instrumen itu bernama hati nurani. Tak perlu kita kemukakan dalil-dalil spiritual, yang biasanya memunculkan multitafsir.

Mas Riri, coba deh tanya hati nurani anda: pantaskah Dewi Persik bergoyang seperti itu di panggung lapangan terbuka?

Hati nurani saya mengatakan tidak pantas. Tapi, oke-oke saja jika Dewi Persik melakukan itu di klub-klub atau pada pertunjukan khusus dengan segmen penonton yang khusus pula. Monggo saja.

Mas Riri, coba juga tanya hati nurani anda: betulkah eksperimental performa koreografi Dewi Persik, yang menuai pencekalan itu tidak mengandung unsur pornografi?

Hati nurani saya mengatakan ya, jelas sekali ia mengadopsi gerakan-gerakan perempuan yang sedang menuju orgasme seksual dalam gerakan koreografinya.

Ah, tapi pada akhirnya, terserah publik untuk menilai. Toh, ini hanya ungkapan nurani seorang blogger, yang belum tentu berdaya efek pada opini publik. Namun, setidaknya,  the inner voice yang sejak kemarin memaksa disuarakan kepada publik telah tersampaikan.

Lagi pula, siapalah Kalipaksi ini? Bukan seorang tokoh publik sekaliber Riri Reza.

Untuk Mas Riri, jika kebetulan anda membaca jurnal ini, sungguh ini tidak ditujukan untuk menjatuhkan kredibilitas anda. Tidak sama sekali. Sebagai seorang tokoh publik, anda pasti sadar betul bahwa pernyataan anda di televisi terbuka untuk dikomentari oleh publik. Dan, saya, adalah bagian dari publik itu.

Peace.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help